Menyembunyikan Status Sah

Menyembunyikan Status Sah
Hobi


__ADS_3

Untuk kedua kalinya Melisa akan menanyakan hal ini, dia menjadi penasaran kenapa bisa suaminya berhutang kesana kemari begitu banyak, dia hanya butuh saling keterbukaan di dalam rumah tangganya, mau senang ataupun susah tetap butuh keputusan bersama bukan?


Keesokan harinya saat Rehan libur kerja, tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang membuat Melisa terkejut saat baru saja Melisa akan menanyakan masalah utang piutang.


"Dek, motor yang biasa kamu pakai itu mau Mas jual ya? Gapapa lah laku 2 juta juga yang penting ada buat bayar utang, mas malu karena semua teman Mas dapet pesan yang sama kaya kamu Dek, yang kemarin itu loh," ucap mas Rehan.


"Apa Mas? Yang benar saja Mas, itu kan motor lebih besar manfaatnya ketimbang harga jualnya, kalau beli lagi gak akan dapet dua juta, meski motor itu gak semulus punya orang tapi itu masih bermanfaat buat aku Mas, kamu berhutang kok gak bilang sih?" Jawab Melisa kesal karena motor matic itu akan dijual murah berhubung surat-suratnya memang sudah kadaluarsa.


"Iya Mas tahu, tapi ini buat keselamatan Mas juga, udah beberapa kali Mas dihadang dan dipukuli gara-gara gak bayar hutang," jawab Rehan.


"Ya udah, jual aja Mas," jawab Melisa pasrah.


Melisa bukannya tidak peduli dengan keselamatan suaminya, hanya saja tidak ada pembicaraan di awal seolah dia hanya kebagian getahnya saja, disaat sudah ada masalah, Rehan malah membawa-bawa dirinya terseret ke dalam masalahnya itu, dan motor itu sudah Rehan berikan padanya.


Melisa berusaha mengikhlaskan semuanya, meski Rehan tidak menceritakan semuanya, namun dia mencoba percaya jika suaminya itu tidak mungkin berhutang jika tidak mendesak.


Keadaan ini membuat Melisa malah semakin enggan untuk menggunakan uang suaminya, dia akan berusaha keras untuk menghemat, dia hanya makan dengan lauk yang ada, meski ibu menyusui selalu merasa lapar terus dan ingin makanan manis biar ASI nya banyak.


***


Hari hari dilewati Melisa dengan ikhlas, dia bahkan mulai merasa kewalahan saat kedua anaknya itu bertengkar dan salah satu dari mereka ada yang terluka.


"Keysa, kamu gapapa kan? Mana yang sakit sayang?" Tanya Melisa pada anak bungsunya yang terjatuh.

__ADS_1


"Dea, kamu harusnya jagain adik kamu dong, jangan dibikin nangis apalagi jatuh!" Ucap Melisa pada anak sulungnya, dia tidak berpikir panjang, dan dengan mudahnya memarahi anak berusia 4 tahun lebih itu.


"Hua… Dea mau main Mah, adek ambil mainan Dea," jawab Dea sambil menangis.


"Mainan ini kan ada dua, mamah sengaja beli dua agar kalian tidak bertengkar," keluh Melisa.


Dea menatap ibunya yang kini menggendong adiknya itu, seakan ibunya itu pilih kasih padanya, dia menangis lagi sambil memeluk mainannya tadi.


"Dea, berhenti menangis, berisik Nak!" Teriak Melisa didalam kamar.


Hari ini Melisa merasa lelah, sehingga dia meluapkan emosinya, namun sayang dia malah menumpahkannya pada anak sulungnya.


Setelah Keysa tidur karena lelah menangis, Melisa keluar kamar, dia melihat Dea yang juga tertidur dengan beberapa mainannya, Melisa merasa sangat bersalah, dia memindahkan tubuh mungil itu ke dalam kamar, menyelimutinya dan mencium keningnya.


"Maafkan Mamah sayang…," ucap Melisa dengan menitikan air matanya, dia menyesali perbuatannya tadi.


Mamah janji gak akan marah-marah lagi, batin Melisa.


Melisa pun ikut tidur dengan kedua anaknya mengingat tubuhnya yang lelah, dia harus bisa memanfaatkan waktu, disaat anak-anaknya tertidur dia pun harus ikut beristirahat dan tidur, karena itu kesempatan baginya, meski di tengah rumah berserakan mainan anak-anaknya, dia tak menghiraukannya, jika dia terus membereskan rumah itu tidak akan ada habisnya.


Inilah keuntungan saat sudah mengontrak bagi Melisa, tidak ada yang akan sering berkunjung dan itu membuat dia tidak harus selalu membuat rumahnya bersih dan rapi terlebih ada dua anak balita yang selalu membuat rumah berantakan.


***

__ADS_1


Rehan sedang membersihkan alat pancingnya, hari ini dia libur kerja, entah sejak kapan suaminya itu menjadi suka memancing, tapi yang jelas Melisa tidak menyukainya.


"Dek, Mas hari ini mancing ya?" Tanya Rehan.


"Hmm, terserah," jawab Melisa datar.


"Kok terserah, kamu gak bolehin Mas mancing?" Tanya Rehan lagi.


"Itu kan uang kamu Mas, kamu bilang kan kamu butuh hiburan? Kalau aku bilang gak boleh juga kamu pasti ngambek dan pergi juga, jadi buat apa kamu nanya sama aku Mas?" Jawab Melisa.


Rehan diam dengan jawaban istrinya itu, memang benar dia akan tetap pergi meski Melisa melarangnya dengan berdalih jika dia mencari uang itu lelah dan butuh hiburan toh itu hasil kerja kerasnya.


"Gimana kalau besok aku ajak kamu berenang dek sama anak-anak, jadi aku bisa hiburan mancing dan kamu bisa liburan berenang sama anak-anak, adil kan, bagaimana?" Tanya Rehan.


Melisa pun mengangguk, meski dia tidak berharap untuk bisa berenang namun rugi juga jika tawaran itu dia tolak.


Melisa tidak mempermasalahkan hobi suaminya itu, asal tahu waktu saja, tapi Rehan berangkat siang dan pasti dia akan pulang jam 11 malam, dia tidak memikirkan betapa kerepotannya istrinya itu dalam menjaga dua anak balita.


Aku hanya ingin pengertian, aku ingin kerja sama dan saling terbuka, batin Melisa.


Saat suaminya pergi memancing, Melisa mengeluarkan seragam kerja Rehan untuk dicuci, dia menemukan selembar kertas yang mampu membuatnya membelalakkan matanya.


"Apa? Jadi gaji mas Rehan sebesar ini, lalu kemana perginya sisa uang itu?" Gumamnya kesal, dia bahkan meremas kertas itu dengan penuh emosi.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2