Menyembunyikan Status Sah

Menyembunyikan Status Sah
Nyinyiran Tetangga


__ADS_3

"Saya masih ngasih ASI saya kok bu, ini susu tambahan saja jika anak saya merasa kurang." Melisa


"Mana ada kurang, makanya kamu harus makan banyak sayuran, banyak minum, usaha dong Mel!" Bu Tuti 


"Iya, aku dulu setelah lahiran gak pernah makan pedas, selalu sayur setiap hari dan banyak minum, terbukti ASI ku banyak." Bu Yusi


Melisa merasa terpojok dengan semua kata-kata tak mengenakkan itu, ingin rasanya dia berteriak di hadapan mereka, jika dia telah berusaha semaksimal mungkin, seorang ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya.


Dia sudah berusaha setiap hari makan sayuran, namun memang dia hanya menyusui dengan satu PD saja, yang membuat produksi asinya hanya menghasilkan 50% dari yang seharusnya dihasilkan, ibu muda itu juga menyesalinya. Karena dari awal dia hanya sering menyusui sebelah saja.


Sementara jika sekarang dia mulai menyusui dengan kedua PD nya, bayinya sudah tidak mau, selalu menolak karena tidak sabaran dan tidak ada Asinya.


"Saya permisi dulu ya ibu-ibu, sepertinya anak saya pipis." Melisa


Masih terjelas terdengar di telinga nya jika ibu-ibu itu masih membicarakan, bahkan berkata jika dia sombong dan tak mau dinasehati.


Wanita itu buru-buru pulang, dia tidak mau semakin sakit hati, memang lidah itu tak bertulang namun jika sudah keluar kata-kata jahat, kata-kata itu mampu menyakiti hati seseorang.


 Melisa berpikir jika dia sebaiknya tidak usah terlalu bergaul dengan tetangga, biarlah dia hanya keluar seperlunya saja.


***


Sore itu dia menunggu suaminya pulang, dia sudah mandi dan berdandan meski hanya bedak dan lipbalm, dia ingin terlihat cantik dan wangi, dia juga berharap Rehan sudah tidak mengabaikannya lagi.


"Assalamu'alaikum." Rehan


"Waalaikumsalam, Mas udah pulang, mau minum apa?" Melisa tersenyum menyambut suaminya, meski suasana hatinya sedang tidak baik karena omongan tetangga tadi pagi.


"Air putih aja Dek." Rehan


"Alhamdulillah… ," Melisa merasa senang akhirnya Rehan memanggilnya Dek, berarti suaminya sudah kembali seperti biasanya.


"Apanya yang alhamdulillah?" Rehan


"Gak Mas, bukan apa-apa, aku ambilin air minum dulu." Melisa


Ternyata benar, suaminya itu bersikap seperti biasanya, membuat Melisa senang, dia tidak mau membahas masalah kemarin yang penting sekarang semuanya baik-baik saja.


Keesokan harinya saat Rehan libur bekerja, dia mencuci semua pakaian, memasak dan membereskan rumah.


Ada apa dengan Mas Rehan, tumben sekali? Pikir Melisa


Bahkan ketika Andea sudah dimandikan, suaminyalah yang berinisiatif menggendong bayi itu keluar, menjemurnya sebentar dibawah sinar matahari pagi.


"Biar aku aja Mas," Melisa tidak mau kalau suaminya malu karena menggendong bayinya seperti ibu-ibu.


"Gapapa, biar sama Mas aja, mumpung libur kerja." Rehan


Melisa pun mengangguk, dia menyiapkan makanan yang sudah dimasak suaminya itu, saat dia ingin menjemur baju, Rehan mengambil alih pekerjaan itu, ternyata Andea sudah dibaringkan di ranjang, bayi itu terlelap.


"Gapapa biar Mas aja, ini kan berat." Rehan


"Tapi Mas," ucap Melisa yang tak sempat diselesaikan karena Rehan sudah berlalu pergi.

__ADS_1


Terimakasih ya allah, Mas Rehan akhirnya berubah. Batin Melisa


Melisa melihat suaminya menjemur pakaian, bahkan pakaian yang telah dicuci suaminya itu, hari ini rasanya dia dimanjakan suaminya, semua pekerjaan digantikan oleh Rehan.


Melisa melihat ada tukang sayur keliling datang, dia bergegas keluar rumah untuk membeli bahan-bahan yang kurang di kulkas.


"Mel, ibu lihat tadi Rehan menjemur pakaian, itu 'kan pekerjaan perempuan, suamimu sudah capek kerja, masa di rumah juga harus kerja lagi? Kamu kan udah 3 minggu melahirkan, harusnya sudah bisa mencuci." Bu Ina


"Iya nih, manja itu namanya.." ibu Yusi


"Iti bukan manja lagi, tapi kurang ajar sama laki." Ibu Tuti


Astagfirullah, sabar… biarin aja mereka mau bicara apa..! Karena aku sama sekali gak menyuruh Mas Rehan, dia sendiri yang mau. Batin Melisa


"Kok diem aja sih Mel, kamu bener-bener ya gak sopan sama orang yang lebih tua." Ibu Yusi


"Dia malu kali dinasehati di tempat umum." Ibu Tuti


Acara membeli sayur memang kerap kali berakhir seperti ini, sebenarnya Melisa malas menghadapi ibu-ibu itu, namun kesibukan suaminya itu membuatnya tidak bisa meminta antar hanya sekedar ke pasar, dia takut kalau membebani suaminya dan membuat suaminya lelah.


"Suami saya memang seperti itu, dia bilang kalau libur dia bosan tidak melakukan apapun, makanya bantuin saya, mau jalan-jalan tapi belum bisa karena bayi kami kan belum genap sebulan juga." Melisa


Sepertinya ibu-ibu itu iri melihat suami orang yang sangat perhatian pada istrinya, bahkan rela menjemur pakaian yang biasanya dilakukan oleh perempuan.


"Punya saya jadi berapa Bang?" Melisa


"35 ribu Neng." Abang sayur


Sesampainya di Rumah, wajah wanita itu berubah lesu, dia berpikir kenapa setiap apa yang dilakukannya selalu salah di mata para tetangganya itu.


"Salam dulu kalau masuk rumah!" Rehan


"Eh iya Mas, aku lupa, assalamu'alaikum…" Melisa


"Kamu kenapa sayang?" Rehan


"Aku gapapa Mas, jawab dong salamnya..!" ucap Melisa yang berlalu pergi menuju dapur, mengeluarkan belanjaannya, mencucinya dan menyimpannya di kulkas.


"Eh, waalaikumsalam Dek." Rehan


Melisa kembali ku ruang tengah lalu menonton Televisi mencari hiburan agar dia bisa melupakan kesedihannya. 


Melisa terus saja menekan tombol remot TV, dia merasa kesal "kenapa iklan semua sih?"


"Makanya sabar, tungguin..! Jangan langsung dipindahin aja, kamu kenapa sih Dek?" Rehan


Aku lagi males cerita, lagian kemarin juga Mas Rehan gak cerita kenapa dia sampai mengabaikan aku dan juga Andea. Pikir Melisa


"Gapapa Mas." Melisa


"Tapi kok manyun terus?" Rehan


"Mas maunya aku senyum terus gitu?" Melisa

__ADS_1


"Gak juga Dek, nanti dikira orang gila lagi, hahaha…" Rehan


"Gak lucu Mas." Melisa


Mas Rehan mendekati istrinya, dia memijat pundaknya, sepertinya suaminya itu ingin meredakan kekesalan wanita itu meskipun tanpa tahu apa penyebabnya.


"Enak gak Dek?" Rehan


"Gak enak Mas kalau cuma sebentar," protes Melisa saat tangan itu berhenti bergerak, menghentikan pijatan.


"Hahaha, bilang aja enak dan mau diterusin..!" Rehan


"Terusin sampe mana Mas?" Melisa


"Kalau bisa sih pijat plus-plus dan dapat yang plus-plus juga, hehehe…" Rehan


"Aku masih masa nifas Mas, mana bisa." Melisa


"Bisa kok, ada cara lain, nanti Mas ajarin!" Rehan


Kok perasaan aku jadi gak enak ya? Pikir Melisa


"Emmh, jadi Mas bantuin aku dari pagi ada maunya nih?" Melisa


Rehan tersenyum menatap istrinya itu, mulai menggelitik badannya, membuat mereka saling mengejar di ruangan yang tak begitu luas itu.


Melisa merasa senang dengan kembalinya suami yang jahil itu, dia lebih baik dikerjai daripada didiamkan begitu saja.


Kegaduhan itu ternyata membuat Andea terbnagun dari tidur nyenyaknya.


"Mas sih berisik jadi 'kan Andea bnagun." Melisa


"Ih, kok nyalahin Mas, kamu yang teriak juga." Rehan


"Aku gak akan teriak-teriak kalau gak dikelitikin kamu.. Mas." Melisa


Saat mereka memasuki kamar itu, alangkah terkejutnya saat melihat keadaan Andea. Membuat Melisa begitu khawatir, rasanya ingin marah namun dia tak sanggup memarahi bapak baru itu, bahkan dengan segala yang telah suaminya itu lakukan dari pagi hari.


***


Ada banyak riwayat yang mengabarkan tentang sosok ideal Nabi Muhammad SAW yang menjadi suami rumah tangga dalam Islam.


Dikutip dari Dalam Islam, salah satunya saat Aisyah ditanya: “Apa yang dilakukan Nabi di rumah?” Beliau menjawab, “Beliau ikut membantu melaksanakan pekerjaan keluarganya.” (HR. Bukhari).


Dalam hadis lain, Aisyah mengatakan bahwa Nabi tidak ragu mengerjakan semua jenis pekerjaan rumah tangga.


“Nabi SAW menjahit kainnya, menjahit sepatunya, dan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan oleh kaum perempuan di rumah mereka.” (HR. Ahmad).


***


Intinya dalam berumah tangga itu saling membantu, dan bekerjasama.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2