
"Dea kenapa Bu?" Melisa
"Terserempet motor, di depan kios Bu Maryam, luka-luka gitu." Bu Tuti
"Innalillahi, Dea.. " Melisa
Wanita itu langsung berlari menuju kios Bu Maryam bahkan tanpa memakai sandal, dia begitu panik sepanik-paniknya.
Di dalam kios Dea dibaringkan di lantai atas, dialasi tempat tidur, Dea nampak tak bergerak, dia pingsan dengan luka di kaki dan tanganya, hati Melisa begitu teriris sakit, Dea yang sakit namun dialah yang seakan merasakan kesakitan itu, bahkan lebih sakit.
"Maafkan Mamah sayang, ini semua gara-gara Mamah yang gak bisa sepenuhnya jagain kamu Nak… hiks … hiks…" Melisa menangis sejadi-jadinya.
Tok
Tok
Tok
Melisa terbangun dari mimpi buruknya itu karena mendengar ketukan pintu,"Alhamdulillah, ternyata ini cuma mimpi."
Melisa bangun dan langsung menghapus air mata yang ternyata mengalir saat dia menangis didalam mimpi, kesedihan yang mendalam membuatnya menangis sampai ke dunia nyata.
"Sebentar…" Ucap Melisa sedikit keras, dia memakai dulu kerudungnya.
Sipa ya? Tumben sekali sih. Melisa
Melisa dengan terburu-buru membukakan pintu karena sepertinya tamunya itu sudah tidak sabaran, jelas terdengar pintu diketuk-ketuk lagi.
"Mamah… , Dea baik-baik saja kan?" Melisa
"Ini Dea sepertinya demam, dia juga tadi sempat muntah, makanya Mamah bawa kemari, disini ada obatnya kan?" Bu Maryam
"Ada kok Mah, biar aku yang gendong Mah Dea nya." Melisa
Melisa menggendong anaknya, membaringkannya diatas ranjang, dengan cekatan dia membawa kain dan juga air hangat untuk mengompres Dea, tak lupa dia mengeluarkan obat penurun demam.
Bu Maryam yang tidak bisa meninggalkan kiosnya terlalu lama, akhirnya dia pamit pulang.
"Mungkin ini pertanda mimpi tadi ya? Dea sakit, hmm.. cepet sembuh Nak..!" Melisa
Dia mengecup kening anaknya itu dengan lembut, entahlah Melisa merasa bersalah pada anak pertamanya itu, mungkin karena hamil lagi Melisa menjadi lebih sensitif.
Karena Dea masih tertidur, Melisa belum bisa memberikannya makan dan obat, dia hanya terus mengganti lap basah di kening Dea, bahkan di ketiaknya juga, badannya lumayan panas, namun terus menurun membuatnya mengurungkan niatnya untuk pergi ke klinik.
__ADS_1
Saat Dea bangun, dia hanya makan biskuit saja lalu minum obat dan tertidur lagi.
Melisa menatap anaknya yang tertidur lemas itu dengan sedih, dia juga mengabari Rehan lewat pesan, agar suaminya itu cepat pulang. Meski tetap saja suaminya hanya bisa pulang saat jam pulang tiba, setidaknya dia sudah mengabari keadaan Dea.
Saat tengah malam, terdengar suara kunci pintu yang diputar.
Ceklek
Pintu pun terbuka, "assalamualaikum.." Rehan
"Wa'alaikumsalam Mas," jawab Melisa lalu berhambur memeluk suaminya yang baru saja pulang itu sambil menangis.
"Mas, aku bukan ibu yang baik buat Dea, hiks…" Melisa
"Stt.. Dek jangan ngomong yang aneh-aneh gitu, anak sakit kan wajar Dek, gimana Dea, apa masih demam?" Rehan
"Udah mendingan sih Mas, udah normal lagi suhu tubuhnya." Melisa
"Alhamdulillah, kamu pasti lelah Dek, kamu tidur aja istirahat bareng Dea, Mas mau makan dulu, eh kamu udah makan belum?" Rehan
Melisa menggelengkan kepalanya, dia memang tidak nafsu makan melihat anaknya yang sakit itu.
"Ya ampun Dek, jangan gitu dong..! Kalau kamu ikutan sakit kan tambah repot, apalagi didalam perut kan ada dede utun, makan sama-sama aja yuk..!" Rehan
***
Pagi hari pun datang, Melisa bersyukur karena keadaan Dea benar-benar membaik, namun kini dirinyalah yang harus merasakan mual dan muntah.
"Padahal ini sudah memasuki 3 bulan, tapi baru mual muntah, aku kira gak akan ada drama mual begini." Melisa
"Sabar sayang..! Aku beliin rujak deh, biar kamu seger dan gak mual." Rehan
"Makasih Mas." Melisa
Rehan pergi ke depan untuk mencari tukang rujak, dia pergi dengan menggendong Dea. Aa beberapa ibu-ibu tukang gosip yang memperhatikan mereka, ibu-ibu itu mulai berbicara dari A sampai Z.
Dan saat Rehan selesai, dia berniat pulang namun dia harus melewati ibu-ibu itu.
"Beli rujak Han, buat istri mu yang ngidam?" Bu Yusi
Perasaan Rehan mulai tak enak, dia tahu seperti apa perangai bu Yusi.
"Iya Bu," jawab Rehan singkat dan dengan cepat dia melangkah pergi.
__ADS_1
"Makanya jangan buat anak terus, Dea aja masih belum keurus sampe dititipin di neneknya," Teriak Bu Yusi agar Rehan mendengarnya.
Rehan memang masih bisa mendengarnya, namun dia pura-pura tak mendengar. Sepertinya bu Yusi memiliki dendam pada Rehan dan Melisa karena kasus pinjaman 100rb dulu, hingga dia terus mengusik kehidupan mereka.
Pasti Melisa sangat kesulitan bertetangga dengan ibu-ibu seperti mereka. Pikir Rehan
Ingin rasanya Rehan membawa istrinya pindah rumah, namun kondisinya belum memungkinkan, apalagi akan ada anak kedua. Sekarang kan dia tinggal dirumah ibunya, jadi bisa menghemat biaya, sedangkan jika dia ngontrak maka akan menambah biaya lagi, belum mereka harus membeli perabotan rumah tangga.
Rehan memilih diam dirumah ibunya sambil menabung untuk biaya bersalin sang istri.
***
Sejak semua orang tahu kehamilan kedua Melisa, bukannya senang, wanita itu malah galau, dia bahkan lebih sering dirumah, jika dia keluar dengan perutnya yang besar, dia pasti mendapatkan nyinyiran pedas dari tetangga. Padahal sudah jelas ada bapaknya, kenapa para tetangga harus nyinyir, itulah anehnya tetangga.
Suatu ketika, Dea kehabisan pampers. Karena Dea sudah dua tahun lebih, Melisa hanya memakaikan pampers ketika malam hari saja agar tidak mengompol di kasur.
Melisa mencoba membeli ke warung depan dengan menuntun anaknya itu saat sore hari, sementara Rehan belum pulang bekerja.
Melisa terpaksa keluar rumah karena mendesak, saat tiba di warung Dea begitu senang menunjuk ini dan itu, Melisa mencoba mengantri karena pembeli cukup banyak.
"Eh Melisa, kamu kemana aja, kok baru kelihatan? Perut mu udah besar aja." Bu Yusi
Melisa begitu malas menanggapi omongan bu Yusi, namun dia tak enak bila dianggap tidak sopan oleh semua orang karena mengabaikan pertanyaan orang tua.
"Ada kok bu di rumah." Melisa
"Berapa bulan nih, kok gak ada syukuran ya? Memang beda sih kalau anak ke dua, apalagi tak diinginkan, hehehe…" Bu Yusi
Melisa yang sensitif, dia tak sanggup menahan emosinya, dia memang tidak merencanakan kehamilan keduanya, tapi bukan berarti dia tidak menginginkan bayinya, itu kan darah dagingnya.
"Maaf ya Bu, kalau ngomong itu dijaga..!" Melisa
"Eh ini anak berani sekali menasehati orang tua, saya itu ngomong apa adanya." Bu Yusi
"Iya, memang anda sudah tua, tapi memang perlu dinasehati juga kan kalau salah?" Melisa
Semua orang di warung menjadi fokus pada perdebatan dua wanita itu, mereka begitu penasaran siapa yang menang dan siapa yang kalah, ya ampun.
"Berani kamu ngatain saya tua, hah?" Bu Yusi
"Saya hanya mengatakan apa adanya, kenapa anda marah? Begitu pun sebaliknya, disaat anda mengatakan apa adanya menurut versi anda, dan itu membuat saya emosi juga." Melisa
Keadaan semakin tak terkendali, sementara Dea sibuk mengambil permen di toples yang tak sanggup ia capai.
__ADS_1
Bersambung….