Menyembunyikan Status Sah

Menyembunyikan Status Sah
Pilihan Sulit


__ADS_3

"Hmm, habis lahiran aja Mas, lagian aku punya rencana mau lahiran di kota B agar aku nyaman karena disana ada ibuku, sayang kalau kontrakan nanti gak ditempati dan Mas pasti tinggal sama Mamah di rumah ini." Melisa


"Kenapa lahiran disana, disini kan bisa? dulu Dea juga lahir disini kan?" Rehan


"Gapapa Mas, hanya saja mau disana karena kemarin kan udah lahiran disini, giliran Mas," jawab Melisa, sebenarnya dia masih merasakan trauma jika mengingat kejadian dulu ketika melahirkan Dea, meski Rehan sudah berubah dia tidak mau kalau merasakan baby blues untuk kedua kalinya.


Melisa berharap suaminya itu mengerti, apa dia tidak ingat dulu dia pernah menyakitiku setelah melahirkan Dea? Pikirnya


Mata Melisa mulai berembun, dia menahannya sekuat tenaga, aku gak boleh nangis, itu masa lalu yang harus aku lupakan! 


"Emm, ya sudah gapapa terserah kamu saja Dek." Rehan.


***


Keesokan harinya Rehan bekerja seperti biasa, dia menyempatkan pergi ke toko ibunya, dia juga sempat membahas kehamilan Melisa dan keinginannya melahirkan di kota B. Respon Bu Maryam biasa saja, dia setuju namun ada yang mengganjal di hatinya.


Sore itu pun Rehan segera pulang dengan membawa lauk pauk dari ibunya, ada juga makanan ringan untuk Dea.


Bu Maryam memang selalu ingat berbagi makanan dengan anak cucunya, dia juga sering memberikan baju baru untuk Dea.


Melisa dan Rehan yang berniat membelikan ini dan itu selalu keduluan bu Maryam, keuangan Rehan juga pas pasan, dia dan Melisa selalu mengutamakan kebutuhan pokok, bahkan Melisa jarang sekali membeli baju baru, hanya satu tahun sekali saja.


Andea beruntung mempunyai nenek yang perhatian, namun disisi lain Melisa sedih karena dia merasa tidak bisa membelikan apapun untuk Andea, dia harus menabung untuk biaya persalinan nanti.


"Assalamu'alaikum…" Rehan


"Wa'alaikumsalam… ," jawab Melisa dari dalam kamar, dia berjalan keluar dan mencium punggung tangan suaminya.


"Dek, ini lauk pauk dari Mamah, kamu besok gak perlu masak lagi, diangetin aja Dek yang ini..!" Rehan

__ADS_1


"Iya Mas alhamdulillah… ," Melisa mengambil kantong kresek itu, dia berjalan ke arah dapur untuk menata lauk pauk di piring dan mangkok.


Menyediakan nasi hangat untuk mereka makan bersama.


"Yu Dek makan sama-sama..!" Rehan


"Iya Mas," jawab Melisa lalu dia mengambilkan nasi beserta lauk pauknya di piring suaminya.


Bahkan Rehan sesekali menyuapi istrinya itu, Rehan kembali bersikap manis seperti dulu saat mereka baru menikah, Melisa merasa senang dan bersyukur sekali.


Setelah selesai makan, mereka mengobrol santai sejenak.


"Dek, untuk kehamilan yang sekarang, maaf ya Mas gak bisa adain syukuran kaya dulu hamil Dea." Rehan


"Iya gapapa ko Mas, aku mengerti, lagipula syukuran seperti itu kan juga memerlukan uang yang tidak sedikit Mas, kita fokus pada persalinannya saja, semoga ada rezekinya dan persalinannya lancar, aamiin." Melisa


"Aamiin…" Rehan


Dea bangun, Dea menghampiri ayah dan ibunya dengan berjalan sambil mengucek kedua matanya.


"Mah, ea lapel.. ea lapel…" Dea


"Hehe, kamu ngomong apa Dea? Papah gak ngerti." Rehan


"Hahaha, masa gak ngerti Mas, itu Dea gak bisa bilang huruf R Mas." Melisa


"Tetep aja gak ngerti Dek, kamu kan kamusnya, kamu terjemahin dong..!" Rehan


"Translate ke google aja Mas sekalian!" Melisa menatap kesal pada suaminya itu.

__ADS_1


"Hehehe… , jadi Dea pengen apa? Itu dia mulai menangis." Rehan


"Hua… hua… tutu Mah, maan Mah.." Gea


"Iya sayang ayo, kita bikin susu hangat dan makanan buat kamu," Melisa mengajak anaknya itu pergi ke dapur, dia sudah tidak bisa menggendong Dea, karena kandungannya mulai membesar.


Oh minta makan. Pikir Rehan


Andea memang sudah berusia 2,5 tahun namun dia belum bisa bicara dengan jelas. Karena Rehan tidak selalu ada di rumah, dan jika Rehan pulang Dea selalu dalam keadaan tidur, membuat ayah itu jarang berinteraksi dan berkomunikasi dengan Dea yang membuatnya kini sulit mengerti dengan apa yang dibicarakan anaknya.


***


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, kini usia kandungan Melisa sudah memasuki usia 8 bulan, dia sudah menyiapkan pakaian untuk dibawa pulang ke kota B, sudah saatnya dia menyiapkan persalinannya.


"Mas seminggu lagi aku pulang ya ke kota B ya ?" Melisa


"Hmm, kamu yakin mau lahiran disana? Disini kan lebih gampang, gak usah bolak-balik." Rehan


"Aku yakin Mas," jawab Melisa dengan mantap.


"Baiklah, tapi biarkan Andea disini, jangan dibawa kesana..!" Rehan


"Apa Mas? Kamu bercanda ya? Apa kamu bisa menjaga Dea? Kamu kan kerja Mas," Melisa merasa terkejut karena sebelumnya tidak ada pembahasan mengenai hal ini.


"Kan ada mamah yang jagain Dea, biar kamu fokus dengan persalinan saja, kamu nanti kerepotan lagi disana." Rehan


"Gapapa Mas, kan ada adikku yang bisa bantu jagain Dea disana, mamah kan jaga ruko, aku gak mau ngerepotin Mamah, aku gak mau pisah sama Dea apalagi berbulan-bulan." Melisa


"Hmm, keputusan aku udah bulat, kalau kamu mau lahiran disana, jangan bawa Andea." Rehan

__ADS_1


Melisa terdiam, dia dihadapkan dengan pilihan yang sulit, jika melahirkan disini dia tidak mau mengulang masa lalu yang membuatnya putus asa, tapi jika dia melahirkan di kota B, apa dia sanggup?


Bersambung…


__ADS_2