Menyembunyikan Status Sah

Menyembunyikan Status Sah
Susu Formula


__ADS_3

Rehan yang dipeluk tidak merespon sama sekali, dia diam tanpa melakukan apapun, hingga membuat Melisa melepaskan pelukannya.


"Aku gapapa, aku hanya pusing saja dengan pekerjaan di pabrik." Rehan


"Oh, makan dulu Mas..!" Melisa


"Iya.." Rehan


Jika memang cuma masalah pekerjaan, kenapa dia sampai mengacuhkan aku dan anakku, bahkan seperti marah padaku, apa salahku Mas? Pikir Melisa


Hari itu Rehan masih bersikap cuek pada istrinya itu, bahkan juga mengacuhkan bayinya, membuat Melisa merasa sakit hati, namun sebisa mungkin wanita itu tegar dan sabar, berharap suatu hari hubungan mereka membaik.


Melisa mulai bisa mengurus bayinya sendiri, bisa memandikannya, memakaikannya baju, menggantikan popok, dia mulai menikmati perannya menjadi ibu baru.


"Sayang, kamu udah mandi udah wangi, emm.. udah cantik anak Mamah." Melisa


Namun bayinya hanya tersenyum tanpa suara, umur bayinya masih 3 minggu.


Dia bahkan rutin menjemur anaknya itu setiap pagi sesuai anjuran bu Bidan. Supaya bayi merasa hangat usai mandi, mendapatkan vitamin D dari cahaya matahari pagi.


"Kamu wangi sayang, bahkan mulutmu juga wangi, bikin Mamah pengen nyium kamu terus.hehe.." Melisa.


Namun di hati kecilnya masih terselip kesedihan, bagaimana bisa ayahnya mengabaikan bayi mungil dan menggemaskan ini.


Sabar… suatu saat akan ada kebahagian buat kita Nak, pasti Ayah kamu nanti berubah, Mamah yakin itu. Batin Melisa


Melisa menimang-nimang bayinya, membuat bayi itu agar tertidur lelap, agar dia bisa membereskan rumah, mencuci dan memasak dan makan siang.


Melisa memasak masakan sederhana, ada telur dadar, oseng kangkung dan juga tempe goreng. Dia tidak membuat sambal karena oseng kangkung itu sudah pedas.


"Wah, wanginya… aku jadi lapar." Melisa


Dia mengambil piring, menata Nasi dan lauk.pauk dipiringnya. Namun saat dia baru saja selesai berdoa, tiba-tiba bayinya menangis, membuatnya terpaksa menahan rasa laparnya.


Dia menggendong bayinya lalu menyusuinya, setelah bayi itu terlelap, dia kembali menikmati makanannya yang sudah dingin itu. Namun dia tetap merasa bersyukur, memakan makanannya dengan lahap, masa menyusui membuatnya gampang lapar.

__ADS_1


***


Hari sudah sore tapi Mas Rehan belum pulang, istrinya menunggu penuh harap jika suaminya pulang kerumah, karena beberapa hari ini Rehan menginap di ruko ibunya, jikapun tidur dirumah dia akan memisahkan diri.


Tiba-tiba dia mendengar suara gelak tawa, gelak tawa yang sangat dia kenali.


Mas Rehan, tertawa dengan siapa? Dimana? Pikir Melisa


Dia keluar rumah dan mengintip, dia melihat suaminya sedang menggendong anak tetangganya yang berumur 4 bulan, dengan penuh tawa.


Namun tawa itu seketika membuat hatinya sakit, perih, sesak, dia berlari ke dalam rumah dan menangis tanpa suara, tangisan yang benar-benar tidak bisa membuatnya lega, semakin diingat semakin sakit.


Kenapa dia begitu bahagia menggendong anak orang lain? Sementara anaknya sendiri diacuhkan, tidak digendong, apalagi diajak bercanda seperti tadi, sakit ya allah… apakah suamiku kecewa karena anak kami perempuan? Batin Imelda


Anak balita yang digendong Rehan tadi memang berjenis kelamin laki-laki. 


Hati Melisa benar-benar teriris, sakit sungguh sakit, ibu mana yang tega melihat anak kandungnya diacuhkan ayahnya sendiri, sementara dia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika suaminya menggendong anak orang lain dengan begitu bahagia.


"Nak, maafkan Mamah ya, mungkin memang ayah tidak menginginkan kehadiran kita disini?" Melisa


Sebisa mungkin dia menahan rasa sakitnya, mencoba bertahan dirumah itu. Ada hal lain yang membuatnya bertahan, karena jika di pulang ke kampung halamannya dalam keadaan baru melahirkan, membawa bayi dan tidak punya pekerjaan apalagi simpanan uang, itu akan membebani orang tuanya.


***


Saat sore hari Rehan masuk ke dalam rumah, namun tanpa menyapa istri dan anaknya, dia langsung berbaring di ranjang, sepertinya kelelahan.


Apakah aku harus mulai bertanya duluan? Aku harus mengakhiri masalah ini secepatnya. Pikir Melisa


"Mas, bangun..! Udah adzan magrib, Mas sholat dulu! Makanan juga sudah aku siapkan." Melisa


"Hmm iya, 5 menit lagi." Rehan


Dengan hanya jawaban singkat itu saja bisa membuat Melisa lega, setidaknya suaminya itu merespon apa yang dia katakan.


Wanita itu sudah sering menangis akhir-akhir ini, bahkan ASI nya terasa kurang, dia hanya bisa mengasihi dengan satu payudara, karena payudara lainnya tidak mengeluarkan ASI yang banyak.

__ADS_1


Sebenarnya bisa distimulasi oleh seringnya bayi menyusui, namun bayinya tak sabaran dan menangis jika ASI yang keluar itu hanya sedikit.


Melisa yang tak tega, dia terpaksa membuang egonya lagi, dia membutuhkan bantuan, dia memberanikan diri meminta suaminya memberikan susu formula dan juga dot bayi.


"Mas, Andea (nama anak Melisa) membutuhkan tambahan susu formula, Mas bisa membelikannya 'kan? Kasian dia." Melisa


"Memangnya ada apa dengan ASI mu?" Rehan


"Entahlah, sepertinya airnya memang sedikit dan kurang." Melisa


"Hmm, ya udah Mas pergi dulu." Rehan


"Iya, hati-hati Mas..!" Melisa


Mas Rehan akhirnya pulang dengan susu dan dot bayi ditambah kresek lain dan ternyata itu isinya martabak.


"Ini dek, untung masih ada mini market yang buka, Mas sekalian beli martabak buat kamu." Rehan


"Makasih Mas," ucap Melisa memeluk suaminya, dia begitu senang dengan hubungan yang mulai membaik ini.


***


Keesokan harinya Rehan sudah berangkat bekerja pagi-pagi sekali, dan Melisa melakukan aktivitasnya seperti biasa.


Dia memandikan bayinya, menjemurnya sebentar dibawah sinar matahari pagi. Dia membawa Andea berjalan-jalan disekitar rumah sambil memberikannya susu dot.


Mulailah masalah datang saat tetangga yang pro ASI seakan menyudutkannya.


"Mel, kenapa anaknya dikasih susu sapi? Kasihan 'kan, mending ASI lebih sehat gratis lagi, kalau formula itu mahal si Rehan bisa tekor itu. Hmmm..." Bu Yusi


Memang terkadang tetangga itu bisanya nyinyir tanpa tahu alasan apa dibaliknya, seolah mereka benar dan berpengalaman sehingga menyalahkan orang lain dengan kritikan tanpa memperdulikan perasaan.


Melisa menunduk, dia bingung harus menjawab apa. Lagi pula itu bukan kesengajaan, dia memang sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2