Menyembunyikan Status Sah

Menyembunyikan Status Sah
BAB 13 Dibawakan oleh-oleh


__ADS_3

Pagi hari telah tiba, aku berusaha melupakan kesedihanku. Aku bangun dengan semangat karena ada bayi mungil yang nanti akan menemaniku.


Aku seorang ibu hamil yang harus selalu menjaga kondisi badan dan pikiranku agar tidak mempengaruhi kehamilanku.


"Mas berangkat kerja dulu ya?" Rehan


"Iya, Mas.." Ucapku sambil menerima uluran tangan kanannya, ku kecup tangan itu.


"Assalamu'alaikum." Rehan


"Waalaikumsalam."


Kuantar suamiku sampai teras depan tak lupa ku berikan senyuman pagiku, aku tidak mau jika mas Rehan berangkat bekerja dengan perasaan kesal karena melihatku masih cemberut.


Pernah suatu ketika, saat mas Rehan pergi dengan rasa kesal. Motornya masuk selokan dan membuatnya harus absen kerja karena terlambat, memang pada saat itu tubuh mas Rehan hanya lecet sedikit beruntung motornya pun baik-baik saja, hanya saja masih ada rasa gemetar kaget yang mas Rehan rasakan.


Karena tidak fokus membawa motornya, bisa membuat seseorang celaka, bahkan mencelakakan orang lain disekitarnya.


Ku habiskan waktuku hanya untuk beres-beres rumah, memasak , mencuci dan sesekali bersantai menonton tv. Hingga tak terasa waktu sudah sore dan jam saatnya mas Rehan pulang.


Aku memang tinggal sendiri di rumah mertua, mertua hanya akan menginap sesekali, beliau lebih banyak menghabiskan waktu di Ruko nya.


Justru itu membuatku lebih nyaman, entah mengapa aku lebih tenang dengan kesendirianku, jika mertua menginap rasanya aku canggung, mau makan saja aku tahan sampai mertuaku tertidur, mungkin perasaan tak enak karena menumpang.


"Assalamu'alaikum" Mas Rehan ternyata sudah sampai


"Waalaikumsalam."


"Ini buatmu dek, ambillah..!" Rehan


"Itu apa Mas?" Ku lirik kresek hitam yang dibawa mas Rehan.


"Ini mangga, buat kamu rujak dan satu lagi, ini Batagor.. bukannya kamu suka batagor dek?." Rehan


"Iya Mas, makasih ya.."


"Sama-sama" Rehan


Aku sangat bahagia, meski harga makanan ini merakyat dan murah tapi aku senang karena mas Rehan menyempatkan membelikannya sepulang kerja, berarti dia ingat padaku, perhatian padaku.


Tak perlu sesuatu yang mewah, terkadang sedikit perlakuan manis suami bisa membuat istri bahagia.


Mendengar suara motor sang suami datang saja, sudah sangat membahagiakan, meski bertemu setiap hari tapi rasa RINDU itu akan selalu ada, apalagi kalau ditinggal bekerja.

__ADS_1


Kami pun makan bersama-sama, kami makan batagor sepiring berdua. Itu memang kebiasaan kami, agar nanti meski umurku sudah menua tapi kebiasaan kecil ini tetap ada.


Setelah makan, aku antusias sekali membuat rujak, sejak hamil aku merasa lidahku kebal terhadap rasa asam, seasam apapun buah mangga yang aku makan, menurutku itu segar, tapi bagi lidah mas Rehan yang normal, dia akan langsung memuntahkan buah itu saking asamnya.


"Mas mau?"


"Gak ah, mas udah kenyang, lagipula dilihat dari jauh saja sudah terlihat jika itu pasti sangat asam, kamu habiskan saja dek..!" Rehan


"Ah Mas Rehan gak asyik."


Akupun menghabiskan semua rujak itu, sangat segar, asam, manis dan pedas.


Hari ini mas Rehan sepertinya kelelahan, setelah makan ia melanjutkan dengan main game.


Ku biarkan mas Rehan dengan HP nya, daripada dia keluyuran dan aku ditinggal sendirian, mending main game dirumah dan masih bisa kulihat, jika aku butuh bantuan masih bisa ku mintai tolong.


Setelah hari mulai sore, mas Rehan pun beranjak untuk mandi, dan bersiap-siap menunggu adzan magrib. Hari ini mas Rehan ingin sholat berjamaah denganku di rumah.


Selama pertengkaran kemarin mas Rehan mungkin merenungi kesalahannya, ia sekarang lebih banyak waktu dirumah, walaupun pergi ia akan meminta izin dan pergi hanya sebentar.


Saat libur tiba, mas Rehan mengantarku ke bidan untuk pemeriksaan rutin. Saat sampai disana bidan menyuruhku untuk tidak terlalu banyak pikiran karena keluhanku sakit perut bagian bawah dan terkadang kram perut.


Bidan juga memberi saran agar tidak terlalu sering melakukan olahraga malam (hubungan suami istri) karena ****** laki-laki yang masuk ke dalam rahim bisa menimbulkan kontraksi, membuat perut sakit. Dan bahkan bisa menimbulkan keguguran untuk kandungan yang tergolong lemah.


"Dek.. gimana dong kalau Mas mau?" Rehan


"Mau apa?"


"Mau nganu-nganu dek, hem.." Rehan


"Oh, ya jarang sering-sering aja Mas sebulan sekali kan bisa," Jawabku mengerjai mas Rehan.


"Astaga, mana tahan dek." Rehan


"Hahaha… memang Mas butuh berapa kali?"


"Kalau kuat sih pengennya tiap hari, biar tiap hari terasa lepas beban Mas, tapi karena Mas juga punya kesibukan yang membuat Mas lelah, yaa…. Setidaknya 2x seminggu lah dek." Rehan


"Gak 3 kali sehari mas sekalian?"


"Memangna minum obat? Ih.. itu sudah normal dek." Rehan


"Iya iya gimana Mas aja."

__ADS_1


"Tapi kata bu bidan kan gak boleh sering?" Rehan


"Yang gak boleh tuh sp***a nya masuk rahim, bisa menimbulkan kontraksi dini, ya diluar aja kan bisa Mas, mainnya juga hati-hati, pelan-pelan dengan perasaan..!"


"Wah.. kamu pintar dek. Mas acungkan dua jempol buat kamu. Tapi kalau sudah dalam keadaan gitu Mas suka khilaf, Mas suka jadi nafsu dan menghajar kamu habis-habisan dek, hehehe..." Rehan


"Haha.. dasar kamu Mas. Udah ah bahas gituan mulu, aku mau mandi dulu."


"Ikut…" Rehan


"Gak boleh, nanti makin lama mandinya."


"Kan kata kamu tadi bisa dikeluarin di luar." Rehan


"Ya diluar rumah aja sekalian..!" Jawabku sambil kututup pintu kamar mandi.


Setelah selesai dengan ritual mandi ku, kulihat mas Rehan yang sedang cemberut, menunjukan jika ia marah padaku.


"Mas cepetan mandi..! Giliran kamu, aku kan udah wangi."


"Dek.. menolak ajakan suami itu dosa loh." Rehan


"Aku tau, tapi.. aku bukan nolak cuma menundanya aja, aku tidak mau nganu-nganu di kamar mandi, kalau kepleset gimana sama kandunganku?"


"Oh gitu, jadi ditunda sampai kapan?" Rehan


"Ya, sekarang boleh Mas, lagian aku juga sudah wangi, kan enak bikin Mas tambah bergairah, mumpung aku masih pakai handuk nih mas, kan tinggal plorotin aja. Hehe" Ucapku sambil melangkahkan kaki ke kamar tidur. Berharap mas Rehan datang menyusulku.


***


Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ


“Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu subuh,” (HR. Bukhari). 


Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda:


وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهَا فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا


“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak ajakan suaminya melainkan yang di langit (penduduk langit) murka pada istri tersebut sampai suaminya ridha kepadanya.” (HR. Muslim).


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2