
Melisa tidak bisa mengejar suaminya, apalagi dengan posisi menggendong Dea.
Rehan terlihat menghampiri gerombolan ibu-ibu itu, dia begitu emosi.
"Siapa yang bilang kalau istri saya pinjam uang sama bu Yusi, hah? Asal kalian tahu ya, bu Yusi yang berhutang dan gak mau bayar, eh malah membalikkan fakta, mau saya belanja banyak yang penting itu uang saya, bukan hasil minjem dan tak tahu terimakasih kaya bu Yusi itu." Rehan
Ibu-ibu itu hanya diam, mereka tidak tahu harus percaya omongan siapa, namun yang jelas Reham sudah puas membeberkan kebenarannya, sementara di seberang sana ada suami bu Yusi yang mendengarkan semuanya.
Rehan merasa sudah cukup, dia kembali ke rumah dan sempat melihat istrinya yang khawatir.
"Udah gapapa Dek, Mas gak bikin ribut kan?" Rehan
"Hmm… iya Mas, ayo masuk Mas, biarin aja lah tetangga kan emang suka ngegosip, gak usah didengerin..!" Melisa
Melisa lebih bersemangat membuka semua belanjaannya tadi.
***
Pak Nandang pulang dan segera menanyakan hal ini pada istrinya, "Bu.. beberapa hari yang lalu Melisa datang kesini pinjam uang, gak ibu kasih kan?"
"Enggak, kan Bapak lihat sendiri, aku usir dia." Bu Yusi
"Jadi gak ada hutang piutang nih?" Pak Nandang
"Gak lah Pak." Bu Yusi
Kalau memang ibu gak meminjamkan uang, kenapa tersebar jika Melisa meminjam uang ibu, terus sampe gosipnya gak bayar-bayar lagi, mana yang bener? Pikir Pak Nandang
Pak Nandang merasa ada yang gak beres apalagi melihat Rehan begitu emosi, dia akan memusyawarahkan hal ini, dia berniat berkunjung ke rumah Rehan membawa istrinya itu, terlebih dahulu dia menanyakan masalah tadi pada ibu-ibu tetangganya.
"Kata istri Bapak, Melisa sempat meminjam uang kemarin ke rumah eh tadi lihat malah belanjaannya banyak sekali, bu Yusi merasa kesal katanya gak punya uang so so an belanja banyak, gitu Pak." Bu Tuti
"Benarkah? Tadi istri saya bilang gak ada hutang piutang." Pak Nandang
Lelaki itu merasa bingung, dia harus meluruskan masalah ini, jika istrinya meminjamkan uang, itu tidak mungkin karena keuangan mereka lagi sulit. Lelaki itu merasa harus menemui mereka dan bicara langsung dan berkumpul ditempat yang sama.
***
Rehan masih kesal, dia bete seharian ini dia merasa harus pindah rumah karena lingkungan yang tidak sehat.
Pantas saja istriku malas sekali belanja dengan ibu-ibu itu, sungguh tukang ghibah dan fitnah. Bukannya sesama tetangga harus tolong menolong, saling mendukung dan menyemangati?. Pikir Rehan
__ADS_1
"Mas lipstiknya bagus gak? Cocok gak sih sama aku?" Melisa
"Hmm, iya bagus." Rehan
"Mas…. Bilang bagus tapi gak dilirik sama sekali, Mas kenapa? Apa masih memikirkan kejadian tadi siang?" Melisa
"Iya, Mas masih kesel aja, apa kita pindah rumah aja ya Dek?" Rehan
"Aku sih gimana Mas aja, tapi ini kan masalah uang 100rb, lagian aku udah ikhlasin Mas, udahlah lupain aja Mas… anjing menggonggong kafilah berlalu." Melisa
Tok
Tok
Tok
"Siapa yang bertamu, malam-malam begini?" Melisa
"Biar Mas aja yang buka, kamu jagain Dea dikamar aja..!" Rehan
Melisa mengangguk, dia pergi ke kamarnya menemani Dea yang sebenarnya sudah tidur, Melisa sedikit penasaran dengan tamu yang datang, dia sempat mendengar suara suaminya yang seolah tidak suka dengan kedatangan tamu itu.
Melisa mulai mengintip dan ternyata ada pak Nandang dan bu Yusi.
Tak berselang lama, Rehan menghampiri dan menyuruh Melisa membawakan minuman untuk tamu yang tak diundang itu.
Melisa bergegas pergi ke dapur, dia mengambil teh celup, "ah aku masukin gula apa garam ya?" Ucap Melisa pelan.
Melisa datang dengan 4 cangkir teh hangat, tentu saja dua lagi untuk dia dan suaminya.
"Dek, duduk dulu disini, ada yang harus kita bahas..!" Rehan
Dimalam itulah semuanya dibahas, Pak Nandang kini tahu kalau istrinyalah yang berhutang dan tidak mau membayar, bahkan karena bu Yusi tidak mau merasa malu karena berhutang, dia memutar balikkan fakta kalau Melisa lah yang berhutang, dan dengan teganya menggosipkan orang yang telah menolongnya itu.
Pak Nandang begitu menyesal dan meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Rehan dan Melisa.
Meski umur pak Nandang lebih tua, bahkan hampir 2 kali lipat umur Rehan, beliau tidak merasa malu untuk meminta maaf atas kesalahan istrinya itu.
Bu Yusi pun meminta maaf dengan terpaksa, setelah semua masalah selesai mereka pun pulang, sepanjang jalan bu Yusi marah-marah.
"Bapak ngapain sih nyuruh ibu minta maaf?" Bu Yusi
__ADS_1
"Ya karena ibu salah lah." Pak Nandang
"Minta maaf sama anak kecil?" Bu Yusi
"Jangan begitu lagi Bu, jangan bikin masalah, harusnya berterima kasih karena dipinjami uang, kalau Ibu gak mau malu, ya jangan pinjam uang! Jangan boros, beli yang dibutuhkan saja!" Pak Nandang
"Ish, Bapak ini, padahal Bapak yang gak bisa beliin Ibu baju, bayar arisan, belum lagi bedak Ibu," ucap bu Yusi kesal, dia berjalan mendahului suaminya, menuju rumah dengan langkah cepat.
Sementara Pak Nandang menggelengkan kepalanya, dia tak habis pikir dengan kelakuan istrinya yang tak pernah berubah, yang selalu ingin tampil wah, tidak bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keperluan yang bisa ditunda. Dan sekarang makin parah, membuat pria itu bingung cara menasehati istrinya.
Setelah kepergian tamu itu, Rehan akhirnya merasa lega melihat Bu Yusi kalah dan meminta maaf padanya.
"Kenapa senyum-senyum Mas?" Melisa
"Lucu aja liat Bu Yusi sampe minta maaf sama kita, pasti sekarang di kamarnya dia lagi ngedumel, hahaha…" Rehan
"Mas… jangan gitu ah..!" Melisa
Melisa pergi menuju kamarnya setelah melihat keadaan suaminya yang bahkan lebih baik dari sebelumnya. Dia berniat memakai masker yang baru dibeli, kebetulan juga bayinya sudah tidur.
"Dek… kamu lihat pencuci muka Mas gak, yang baru beli tadi?" Rehan
Melisa menggelengkan kepalanya, dia tidak mau menggerakkan bibirnya saat memakai masker.
"Dek, kalau mie instan yang Mas beli yang rasa baru itu? Dimana?" Rehan
Melisa menggeleng lagi, mungkin ada kantung belanjaan yang belum dibuka. Pikir Melisa
Melisa bergegas mencari kantong kresek yang mungkin tertinggal di bagian depan ruamah, Rehan terus mengikuti Melisa dari arah belakang.
"Dek, jawab dong..! Masa kamu gak tahu? Kamu tadi yang bongkar belanjaan." Rehan
"Dek, malah nyelonong aja, mau kemana sih?" Rehan
"Ini lagi dicari Mas, kan aku udah menggeleng, berarti aku gak tahu, masih aja nanya, udah tahu aku pake masker, rusak kan maskernya, retak-retak nih, gagal deh, bete ahhh…" Melisa
Melisa menghentakkan kakinya, dia pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya itu, dia benar-benar merasa kesal.
Sementara Rehan masih diam ditempat, dia tidak tahu jika istrinya akan bete begitu.
"Kalau bete lagi, apa aku harus belanjain dia banyak belanjaan lagi kaya tadi? Astaga," ucap Raihan, lalu dia termenung mencari ide untuk membujuk istrinya yang telah dibuatnya kesal.
__ADS_1
Bersambung...