
Rehan pulang saat tengah malam, Melisa berpura-pura tidur karena enggan bertemu Rehan, dengan rasa kecewa yang dalam, dia tidak mungkin mengajak suaminya berdebat malam-malam begini.
Suaminya itu memang memiliki kunci cadangan jadi Melisa tak perlu mengkhawatirkan suaminya jika dia ketiduran atau sengaja tidur duluan tanpa menunggunya, dia sudah menyiapkan lauk pauk dan nasi yang sudah dihangatkan karena dia sudah menyalakan mejikom sebelumnya, dia juga menyediakan air panas di termos, meski dia enggan menyambut kepulangan Rehan namun sebisa mungkin Melisa menyiapkan makanan seperti biasanya.
Terdengar suara sendok yang saling beradu, Aku harus bagaimana Tuhan? Kenapa suami hamba menjadi pembohong begini, aku merasa sudah tidak bisa mempercayainya lagi, aku sudah muak dengan semuanya, apakah aku salah memilih mas Rehan sebagai suami? Batin Melisa.
Karena ada Andea dan Keysa, Rehan memang lebih memilih tidur di tengah rumah sambil menonton televisi.
Melisa mencoba mengintip dan ternyata suaminya itu telah tidur bahkan mendengkur cukup keras, di satu sisi dia kasihan dengan wajah lelah pencari nafkah namun disisi lain dia tidak bisa melupakan luka-luka kecil yang tertoreh dan kini semakin hari malah bertambah.
***
Keesokan harinya Melisa tentu bangun lebih dulu, dia melaksanakan shalat dua rakaat.
"Mas bangun, sudah subuh…!" Ucap Melisa membangunkan suaminya dengan sedikit menggoyangkan tubuhnya.
"Hmm, iya sebentar lagi," jawab Rehan dengan mata tertutup, membuat Melisa pun kini pergi ke dapur untuk membereskan pekerjaannya menghangatkan lauk pauk dan akan bergegas mencuci baju sebelum anak-anaknya bangun.
Terlihat Rehan sudah selesai salat, dia menghampiri Melisa, "sayang lagi apa?"
"Aku sedang memasak," jawab Melisa singkat, jujur dia memang tidak ingin berbicara.
"Kalau gitu Mas bantu apa dong? Nyuci aja ya?" Tanya Rehan.
"Hmm, boleh," jawab Melisa.
Rehan pun bergegas mengisi air ke mesin cuci dan mulai mencuci, Melisa melihat suaminya sekilas, disaat aku marah dan kecewa kamu malah baik dan pengertian, membuatku sulit untuk melampiaskan amarah ini Mas, batin Melisa.
__ADS_1
Setelah selesai bahkan Rehan yang menjemur baju-baju itu, suami yang tidak malu sama sekali saat mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan perempuan.
"Libur Mas," tanya Bu Rosi.
"Gak Bu, saya kerja nanti siang," jawab Rehan.
"Oh, rajin bener bantuin istri, susis Mas? Hehe…," ucap Bu Rosi yang menggoda Rehan.
"Hahaha, gak lah Bu, ini kan hanya bantuin," jawab Rehan.
Percakapan yang lumayan nyaring itu bisa didengar oleh Melisa, memang pemikiran orang lain pasti menilai jika suaminya takut istri, namun tetap saja Rehan selalu menjadi pemimpin dalam rumah tangga dan yang selalu mengatur semuanya termasuk keinginan Melisa, justru istrinyalah yang takut karena kemarahan sang suami yang jika sekalinya marah itu sangat fatal menurut Melisa.
Memang tidak ada kekerasan fisik, namun Melisa yang tidak terbiasa dibentak, dia memiliki hati yang lebih sensitif.
Melisa menyiapkan makanan dimeja makan, dia mulai memandikan anaknya satu persatu.
"Duluan aja Mas, aku masih banyak kerjaan," jawab Melisa dikamar mandi.
Akhirnya Rehan makan duluan, sementara Melisa bergegas memakaikan anaknya baju lalu menyuapi mereka di depan kontrakan.
"Dek, makan dulu gih..! Biar Mas yang nyuapin anak-anak," ucap Rehan menghampiri istrinya.
Melisa hanya mengangguk dan berlalu masuk ke dalam, dia sungguh dibuat galau oleh dua karakter suaminya yang berbeda itu. Dia menjadi tidak mampu untuk marah disaat suaminya perhatian begitu.
Melisa makan dengan malas karena hatinya sedang merasa tidak karuan, namun perutnya yang lapar memaksanya untuk terus memasukan nasi sesuap demi sesuap.
Saat anak-anak sudah makan dan asyik bermain, Rehan menghampiri Melisa yang sedang membereskan rumah, "dek kamu kenapa kok dari tadi diem aja tidak seceria biasanya?"
__ADS_1
"Aku gapapa Mas," jawab Melisa singkat.
"Kalau kamu capek ya kamu tinggal bilang, kan Mas bisa bantuin, ya udah biar Mas yang ngerjain ini, kamu lihatin anak-anak aja didepan, disana banyak ibu-ibu lain juga, kamu bisa ngobrol sama mereka..!" Ucap Rehan.
Lagi dan lagi, kenapa kamu seperhatian itu Mas? Aku ini sedang marah sama kamu, tapi kamu malah bersikap begini, batin Melisa.
"Iya Mas," jawab Melisa berlalu pergi ke luar.
Setelah puas bermain, Melisa membawa kedua anaknya untuk tidur siang, dia lumayan lama meninggalkan Rehan di kontrakan, saat kembali Rehan sudah tertidur dengan lelapnya.
"Mas Rehan pasti lelah, sudah bekerja di pabrik dan harus mengerjakan pekerjaan rumah juga," gumam Melisa.
Sebenarnya apa yang ada dipikiranmu Mas? Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kamu lakukan dibelakangku, padahal kamu baik dan perhatian tapi kenapa kamu juga berbohong sama aku Mas? Batin Melisa.
Dia menahan air matanya, dia mengajak anak-anaknya ke kamar dengan perlahan takut membangunkan Rehan, Melisa pun menemani kedua anaknya agar bisa tidur siang.
Alarm ponsel Rehan berbunyi, ini sudah waktunya dia berangkat kerja.
Rehan bersiap-siap mandi, sementara Melisa menyiapkan makanan dimeja makan, dia juga menyiapkan jaket dan keperluan lainnya.
Saat Rehan berniat berangkat, "Dek, kenapa kamu murung aja sih dari tadi, apa kamu mau Mas beliin makanan kesukaanmu? Nanti Mas beliin ya kalau pulang kerja, Mas beliin martabak," ucap Rehan dengan perhatiannya, membuat Melisa mengurungkan niatnya mengeluarkan slip gaji milik suaminya.
"Iya Mas," jawab Melisa dengan mengangguk tak lupa dia mengecup punggung suaminya itu.
Setelah kepergian Rehan, Melisa menatap slip gaji itu dan terus menatapnya, "mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal ini," guamanya pelan.
Bersambung …..
__ADS_1