Menyembunyikan Status Sah

Menyembunyikan Status Sah
Cemburu


__ADS_3

"Udah Dek jangan sedih begitu..!" Rehan


"Jelas aku gak rela Mas, masa anak kita udah cantik, rambut hitam dan tebal, eh besoknya bakalan botak, hiks…." Melisa


"Tapi nanti rambutnya juga akan tumbuh lagi Dek." Rehan


"Tapi kalau Dea botak, geli lah Mas liatnya juga, apalagi kalau dipegang." Melisa


"Yaudah jangan dipegang Dek..!" Rehan


"Kalau gak dipegang, terus siapa yang gendong dia Mas?" Melisa


"Iya juga ya? Apa gak usah dibotakin aja?" Rehan


"Kata mamah harus dibotakin, ini rambut bawaan lahir harus dicukur!" Melisa


"Hmm.. jadi kamu maunya gimana?" Tanya Rehan yang kebingungan dengan tingkah istrinya itu.


"A-aku, ya diadakan syukuran sih." Melisa


"Ya udah pakein aja topi rajut, Dea pasti kelihatan cantik dan kepalanya tertutupi topi, jadi dipegang pun gak akan geli Dek!" Rehan


Akhirnya istrinya itu diam setelah mendapatkan solusi dari suaminya itu, setelah melahirkan emosi Melisa memang tidak stabil bahkan lebih sensitif dari biasanya.


Saat acara syukuran tiba, mereka mengundang ibu-ibu pengajian untuk mengaji dan berdoa, mengundang ustadzah untuk penyambutan dan ceramah.


Andea dipotong rambutnya sedikit oleh ayah, ibunya, neneknya, kakeknya.


"Tuh kan Dek gak sampe botak, cuman jadi gak rapi aja, kaya jalan di depan sana tuh berlubang-lubang, hehe.." Rehan


"Ini kepala Mas, bukan jalan raya yang bolong-bolong yang kurang perhatian." Melisa


"Kok kurang perhatian Dek? itu kurang semen, tanah, sama batu." Rehan


"Iya itu namanya kurang perhatian pemerintah sayang, gak ada dananya ya mana bisa tiba-tiba ada semen." Melisa


"Tapi gimana kalau ada yang korupsi di tengah jalan?" Rehan


"Hmm iya, pihak pertama korupsi, semennya, pihak kedua batunya, iya kan gitu Mas?" Melisa


"Hahahaha… Dek kita ngomongin kepala Dea apa jalan raya?" Rehan


"Mas sih yang mulai." Melisa

__ADS_1


Setelah pengajian itu selesai, datanglah tukang cukur bayi, Andea yang tertidur pulas, dia sama sekali tidak terganggu saat rambutnya dipotong, namun Melisa tak henti-hentinya menangis, dia bahkan memunguti rambut-rambut yang berhamburan di lantai.


"Mas, sayang sekali, padahal rambutnya hitam, lebat Mas… huhuhu… hiks…" Melisa yang menangis dengan mengangkat kedua tangannya penuh rambut itu.


"Sayang, Andea aja tidur pulas yang dipotong rambutnya, kenapa kamu yang menangis seperti itu? Sudah-sudah nanti kita beli vitamin rambut khusus bayi ya?" Rehan


"Hmm, beneran Mas?" Melisa


"Iya … ," ucap Rehan sambil berusaha membangunkan istrinya yang sedang menangis sambil terduduk itu.


Bahkan Rehan lah yang membersihkan rambut-rambut berserakan itu, karena jika istrinya yang mengerjakannya itu hanya akan membuang-buang waktu dan air mata. 


Malam pun tiba, saat Dea tidur dan tersorot lampu, kepalanya begitu mengkilap, membuat Melisa sedikit geli melihatnya, dia langsung menutupinya dengan kain, lalu Rehan menggantinya dengan topi rajut.


Dek, kamu kok lebay sekali. pikir Rehan


***


Saat pagi datang, Rehan masih ada dirumah karena hari ini dia bekerja siang hari dan pulang malam hari.


"Mas pulang malam dong ya?" Melisa


"Iya, kamu mau dibawain apa Dek?" Rehan


"Emm, bubur kacang kalau ada." Melisa


Saat ada tukang sayur, Melisa ragu sekali dia membutuhkan sayurnya namun malas menghadapi para tetangganya itu, tentunya tetangga dengan mulut yang aduhai sekali.


"Tukang sayurnya kenapa diliatin terus Dek, kamu naksir sama si Abang nya?" Rehan


"Bukan Mas, aku malas kalau nanti aku dipojokin, atau di kasih nasehat tapi dengan cara yang membuat aku tuh sakit hati Mas." Melisa


"Yaudah, Mas aja yang belanja, kamu mau beli apa aja?" Rehan


"Gak usah Mas, nanti malah aku lebih salah dimata mereka." Melisa


Rehan yang tidak mengerti perkataan istrinya itu ingin bertanya lebih lanjut, namun Melisa pergi dengan terburu-buru menemui si Abang tukang sayur itu.


Melisa tidak mau jika suaminya yang berbelanja, maka dia akan semakin dipojokan karena tega membiarkan suaminya itu melakukan pekerjaan perempuan,memang dia malas jika harus dipandang mendzolimi suaminua sendiri.


"Eh Mel, kemarin syukuran ya?" Bu Yusi


"Iya bu, 40 hari Andea sama potong rambut." Melisa

__ADS_1


"Kenapa gak sekalian aqiqah Mel?" Bu Tuti


"Belum ada rezekinya bu." Melisa


"Padahal mending sekalian aqiqah Mel, biar sekalian kan hemat, daripada dipisah gitu, dobel biayanya." Bu Yusi


Astaga, kan udah aku bilang gak ada uangnya, masa mau ngutang sih buat aqiqah mana boleh, kan tidak boleh memaksakan, lagian itu sunnah kok kalau belum mampu. Pikir Melisa


"Mungkin memang belum punya uang bu, biaya aqiqah kan gak sedikit." Nirmala


"Kan bisa ngutang dulu sebagian." Bu Yusi


"Aqiqah itu wajib bagi yang mampu bu, kenapa maksain sampe ngutang? Gak baik itu." Nirmala


Untung ada Nirmala yang membelaku, aku malas berdebat. Batin Melisa


Nirmala memang orangnya ceplas-ceplos, dia tak mau kalah dari bu Yusi dan bu Tuti membuat acara belanja itu semakin lama dan untung saja Melisa selesai berbelanja, sementara c Abang pergi begitu saja, membuat mereka yang tadi berdebat berlari mengejar Abang tukang sayur tadi.


Sementara Melisa pulang dengan belanjaannya, bahkan dengan canda tawa.


"Kamu kenapa Dek senyum-senyum gitu abis ketemu Abang sayur?" Rehan


"Aku ketawa bukan karena itu Mas." Melisa


"Katanya males belanja, tapi pulang-pulang seneng begitu, bilang aja kamu kesemsem sama Abang tukang sayur, tadi aja Mas yang belanja kamu gak bolehin." Rehan


Lelaki itu pergi menuju rumah dengan rasa kesal, membuat Melisa kini yang harus mengejar suaminya itu.


"Mas…. Tunggu Mas..!" Teriak Melisa


"Mas, kamu salah paham Mas," Teriak Melisa lagi, dia berlari menuju rumah namun suaminya ternyata berada dikamar yang satu lagi, dia bahkan mengunci kamar itu.


Astaga, kenapa semuanya jadi seperti ini? Pikir Melisa


Melisa merasa tidak menyangka saja jika suaminya cemburu pada tukang sayur yang bahkan usianya jauh lebih tua dari suaminya, tentu saja Rehan lebih ganteng menurutnya, lebih muda, lebih putih, lebih segala-galanya.


"Bisa-bisanya Mas Rehan cemburu pada tukang sayur, dan aku harus membujuknya? Astaga." Melisa


Melisa mencoba mengetuk pintu itu berulang kali namun tetap saja tidak mau terbuka, akhirnya wanita itu pergi ke dapur untuk memasak karena dia tidak mau membuang-buang waktu saat bayinya sedang tertidur.


Dia mengeluarkan semua belanjaan, membersihkannya, sebagian dia masukkan ke dalam kulkas dan sebagian dia masak.


Dia memotong-motong sayuran itu, dan meraciknya dengan berbagai bumbu agar wanginya semerbak sampai ke dalam kamar, berharap suaminya keluar, apalagi hari ini dia memasak ayam goreng dengan bumbu khas, pasti wangi sekali.

__ADS_1


Nanti juga dia keluar kalau sudah lapar. Pikir Melisa


Bersambung...


__ADS_2