
Saat pukul 8 pagi, Melisa mengganti pakaiannya juga pakaian Andea, mereka bersiap-siap pergi ke klinik namun tak bisa dipungkiri jika wanita itu memerlukan bantuan suaminya untuk mengantar dan menemaninya di sana saat menunggu antrian.
"Mas, anter aku ke klinik..!" Melisa
"Katanya mau sama ojek, hmm.." Rehan
"Cepetan Mas..!" Melisa
"Iya, iya.." Rehan
Wanita memang ajaib, minta tolong tapi kok sambil marah-marah, dan aku gak ngerti kenapa dia bisa marah, wanita itu pengennya dimengerti tapi tak mau berbicara, memangnya aku cenayang apa. Pikir Rehan
Namun Rehan sedikit lega karena setidaknya Melisa masih mau mengajaknya berbicara, biasanya wanita itu jika marah akan diam berhari-hari membuat Rehan serba salah.
Pria itu mengganti celananya, karena saat dirumah dia hanya memakai celana selutut saja.
Terdengar ketukan pintu yang membuat dia bergidik ngeri.
Tok
Tok
"Mas cepetan!" Melisa
"Iya, sebentar lagi." Rehan
"Mau ke klinik aja kaya mau ngapelin anak orang," teriak Melisa.
Apa dia mau kalau aku benar-benar mgapelin anak orang? pikir Rehan
Rehan keluar dengan baju yang sudah rapih, bahkan lengkap dengan jaket dan maskernya.
"Yu Dek..!" Rehan
__ADS_1
Mereka berangkat dengan menggunakan sepeda motor, karena hanya itulah kendaraan yang mereka punya.
Melisa memegang bayinya dengan erat karena takut jatuh, dan lengan satunya lagi memegang besi di samping jok motor itu.
Sebelumnya suaminya telah menyuruh berpegangan pada pinggangnya agar tidak jatuh, namun Melisa yang sedang marah merasa enggan.
Sesampainya disana ternyata antrian lumayan panjang, bahkan Andea sedikit rewel karena kegerahan, Rehan bergantian dengan istrinya untuk menggendong Dea ke luar ruangan sementara salah satu dari mereka menunggu nama Andea dipanggil.
"Dek, sepertinya Dea haus, botol susunya mana Dek?" Rehan
"Habis Mas, biar aku kasih ASI aja, paling Dea cuma mau ngempeng pengen tidur dia." Melisa
"Yaudah, disini ada tempat khusus menyusui gak Dek, masa disini?" Rehan
"Tenang aja Mas, aku bawa kok kain penutupnya." Melisa
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya nama bayi mereka dipanggil, setelah Dea selesai diperiksa, mereka langsung pulang ke rumah karena Rehan pun akan berangkat kerja pukul 14.00 wib.
Bahkan dirinya pun ikut berbaring disamping bayi itu karena penat, apalagi semalam begadang sampai pagi menunggu Dea yang demam dan rewel.
Begitupun dengan Rehan yang langsung terkapar bahkan disofa yang ada ditengah rumah. Dia memasang alarm agar tidak kesiangan saat berangkat bekerja.
***
Alarm berbunyi, membuat lelaki itu terbangun dan langsung menuju kamar mandi. Dia bisa melihat jika sudah tersaji makanan saat dia melewati dapur, karena meski istrinya itu marah, Melisa akan tetap melayani keperluannya meski berbicara hanya seperlunya saja.
Setelah mandi dan berpakaian Rehan pun berniat makan dan mengajak istrinya makan bersama.
"Dek, makan yu..!" Rehan
"Aku sudah makan." Melisa
"Kamu masih marah sama Mas? Sebenarnya salah Mas itu apa sama kamu, Mas bener-bener gak ngerti, coba kamu jelasin, Dek..!" Rehan
__ADS_1
"Pikir aja sendiri Mas..!" Melisa
Rehan hanya mampu menghela nafas panjangnya, dia merasa pusing menghadapi mahluk yang bernama WANITA, jelas-jelas dia tidak tahu makanya bertanya, eh malah disuruh mikir sendiri.
Berilah kesabaran pada hambamu ini ya rob..! Batin Rehan
Lelaki itu makan hanya sedikit karena tidak berselera makan, lalu bergegas pergi bekerja.
Sementara Melisa juga sedang merasa kesal dikamar, dia kesal karena suaminya tidak peka.
"Kenapa dia malah bertanya kenapa aku marah? Bukankah dia telah melakukan kesalahan besar, tidak ada pengertiannya sama sekali, enak-enak tidur disaat anaknya sakit, membiarkan aku mengurusnya sendiri sampai menahan ngantuk sampai pagi." Melisa
Seharian ini wanita itu malas melakukan apapun, dia hanya fokus pada Dea yang masih demam dan membiarkan pekerjaan rumahnya.
Bagi Melisa yang terpenting saat nanti suaminya pulang, keadaan rumah terkesan rapi, itu pun menurut persinya, asalkan tidak berantakan menghalangi jalan. hmm... Wanita itu membiarkan baju yang menumpuk diujung ranjang yang meminta untuk dilipat, Melisa sedang butuh waktu istirahat.
Melisa merasa badannya harus selalu sehat karena dia tidak mau kerepotan sendiri, dia tidak punya siapa-siapa disini selain suaminya, itupun jika Rehan peka terhadapnya, karena Melisa tipe yang gak mau banyak bicara.
***
Saat malam hari perasan Melisa tak menentu, dia gelisah, meski dia marah pada suaminya, tetap saja dia khawatir karena sudah lewat setengah jam suaminya belum pulang juga.
"Mas Rehan kemana dulu ya? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu? Apa aku telpon aja ya? Tapi aku kan lagi mode diam." Melisa
Melisa menatap ponselnya, ingin mengetik namun pesan ke nomor ponsel suaminya namun dia urungkan kembali niatnya, gengsi dan egonya masih besar.
Hingga jam menunjukan pukul 1 malam dan suaminya belum pulang, akhirnya dia memilih menelpon suaminya, namun sambungan telepon itu tidak diangkat.
"Astagfirullah, Mas Rehan kemana ya? Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa padanya, aamiin." Melisa
Wanita itu terus saja mengintip dari dalam rumah, mengintip dari jendela berharap suaminya cepat datang.
Bersambung...
__ADS_1