
Saat subuh datang Melisa dibangunkan oleh tangisan bayi, dia menghampiri bayinya lalu memberikannya ASI, antara menunggu Andea tertidur lagi dan membnagunkan suaminya, wanita itu merasa bingung.
Lalu dia mengambil kain jarik, memakainya dan menggendong Andea, dia berjalan menemui suaminya di kamar satu lagi, menggoyang-goyangkan tubuh Rehan yang bahkan sedang mendengkur karena kelelahan.
"Mas… bangun Mas..!" Melisa
"Bentar Dek, 10 menit lagi deh, kamu aja yang shalat duluan..!" Rehan
"Kan harus mandi, pasti lama Mas, apalagi Andea bangun, aku gak bisa mandi sambil membawa bayi." Melisa
"Astaga, iya juga ya kita harus mandi dulu, Mas lupa.. hehe.. yaudah kamu mandi dulu Dek, biar Mas jagain Dea..!" Rehan
"Iya Mas…" Melisa
Rehan menunggu Dea yang dibaringkan di ranjang, sementara Melisa mandi lalu segera melaksanakan sholat subuh.
Saat wanita itu berniat menghampiri suaminya kamar untuk menyuruhnya mandi, nampak Rehan yang tertidur di samping Dea, namun bayinya terbangun bahkan dengan selimut yang sudah berada di kakinya.
"Mas, giliran Mas mandi..! Ko jadi Mas Rehan yang dijagain Dea sih, kasian Dea kedinginan selimutnya melorot kebawah." Melisa
"Hehe… maaf sayang, Mas ngantuk banget, kamu tahu 'kan semalam mas pulang kerja, bahkan tengah malam baru sampe rumah." Rehan
"Iya Mas, cepetan mandinya ntar keburu duha lagi..! Mau sholat subuh atau dhuha nih? Hmm....." Melisa
"Hmmm… iya, iya" Rehan
Rehan pun bergegas mandi, bahkan dia mempercepat ritual mandinya dia takut jika terlewat waktu subuh.
Melisa yang merasa kedinginan dia berselimut lagi menemani Dea sambil menyusui bayinya hingga akhirnya ikut terlelap bersamanya.
Rehan yang sudah selesai, dia melihat istrinya yang tertidur lagi, namun dia membiarkannya, dia membuat teh hangat dan sarapan martabak yang semalam.
"Lumayanlah meski martabak sisa semalam, bareng teh panas jadi nikmat." Rehan
Hingga pagi datang, ternyata pukul 7 pagi tukang sayur sudah datang.
"Tumben sekali Abang sayur udah ada, aku belanja aja deh terus masak, biar istriku gak usah ketemu sama dia..!" Rehan
__ADS_1
Lelaki itu pun berbelanja, meski masih kesal dan cemburu pada c Abang tukang sayur, dia tetap belanja bergabung dengan ibu-ibu yang lain tanpa rasa canggung atau malu.
Rehan memandangi wajah si Abang tukang sayur, hidungnya, bibirnya, matanya, bentuk wajahnya, kulitnya.
Gantengan aku sih, bener kata Melisa. Pikir Rehan
Ibu-ibu yang melihat Rehan memandangi Abang tukang sayur pun merasa heran.
"Kenapa diliatin terus tukang sayurnya Han? Kamu mau belanja atau apa?" Bu Tuti
"Hehe, eh iya Bu saya mau belanja." Rehan
Lelaki itu buru-buru memilih sayuran yang dia inginkan.
"Han, anakmu kenapa minum susu Formula? Kan sayang uangnya, emangnya ASI istrimu gak keluar ya?" Bu Yusi
"ASI nya ada ko Bu, cuman Dea minumnya banyak jadi kadang masih rewel. Kalau masalah uang kan ada rezekinya." Rehan
"Ngabisin uang tahu, padahal bisa loh ASI nya banyak, asal mau banyak makan sayur dan banyak minum." Bu Tuti
Percakapan itu mulai tak enak didengar oleh Rehan membuatnya segera menyelesaikan ritual belanja, apalagi dia sudah mendengar perkataan ibu lain yang menyinggungnya, yang mengatakan jika lelaki itu gak pantes beli-beli sayur dan masak.
Rehan kembali dengan sekantong kresek sayuran dan daging, dia masuk dengan wajah bete nya, dan disambut pertanyaan dari istrinya yang ternyata sudah bangun.
"Mas darimana?" Melisa
"Belanja sayuran Dek." Rehan
"Emang jam segini udah ada? Terus wajah Mas kenapa, kok mendadak tidak ganteng gitu? padahal udah mandi, hehehe..." Melisa
"Dek… gitu amat sama Mas, gapapa sih Mas Bete aja dengerin omongan tetangga, ternyata mereka nyebelin, kamu gak usahlah belanja bareng ibu-ibu itu, biar Mas antar ke pasar 3 hari sekali." Rehan
"Iya Mas.." Melisa
Mas Rehan belanja? Pasti deh ibu-ibu lagi ngomongin aku karena berpikir dzolim pada suami, padahal inisiatif Mas Rehan yang mau berbelanja. Pikir Melisa
***
__ADS_1
Siang itu Rehan sudah berangkat kerja, kini hanya ada Melisa dan Dea di rumah.
Tok
Tok
Tok
Tiba-tiba dia mendengar ketukan pintu, "siapa ya? Tumben.." Melisa
Ternyata bu Yusi datang ke rumah Melisa dia tiba-tiba membawakan melisa sayur daun katuk satu mangkok.
"Ini Mel, saya buatkan sayur daun katuk, agar ASI mu lancar dan banyak." Ibu Yusi
"Terimakasih Bu, padahal tidak usah repot-repot Bu." Melisa
"Gapapa ko Mel, saya gak repot bikinnya, sekalian juga bikin buat yang dirumah." Bu Yusi
Tamu itu celingak-celinguk ke ruangan rumah yang lain seperti ada yang dia cari.
"Rehan mana Mel?" Bu Yusi
"Belum pulang Bu, biasanya nanti tengah malam.." Melisa
Kenapa dia malah nanyain Mas Rehan? Pikir Melisa
"Bagus kalau gitu?" Ucap bu Yusi pelan.
"Bagus gimana maksud Ibu?" Tanya Melisa yang masih bisa mendengarnya.
"Ah gapapa, kamu salah dengar kali Mel, saya lagi ada pembahasan penting sama kamu aja, anakmu lagi tidur?" Bu Yusi
"Iya Andea lagi tidur, hmm… pembahasan penting apa ya Bu?" Tanya Melisa
Karena dia merasa tidak ada yang harus dibahas antara dia dan Ibu itu, sungguh aneh memang saat tetangga yang biasanya nyinyir ini malah datang ke rumah Melisa dengan membawa semangkuk sup, bahkan dengan senyum ramahnya.
Ada masalah apa sebenarnya? Bu Yusi nampak serius sekali? Pikir Melisa
__ADS_1
Bersambung