
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, dimana Andea sudah berumur 2 tahun, sudah berjalan dan berceloteh meski sedikit.
Di pase ini Dea begitu aktif bermain dan membuatnya sering jatuh, bahkan jatuh dihadapan Melisa yang dengan jelas sedang mengasuh dan memperhatikan anaknya itu.
"Dea… kamu gapapa kan sayang?" Melisa
Padahal dia tepat didepan mataku, bisa-bisanya dia jatuh. Batin Melisa
"Hiks… hiks.. Mama atit." Dea
"Nanti Mamah obati, ayo masuk..! Biar Mamah gendong ya.." Melisa
Dea masih menangis meringis kesakitan, dia memeluk erat tubuh ibunya. lutut Dea sedikit lecet dan berdarah, membuat anak itu menangis terus menerus.
"Dea kenapa?"tanya Rehan yang sedang bermain game online itu.
"Jatuh Mas, cuma berdarah sedikit kok, lecet gitu." Melisa
"Kamu kemana aja Dek, kok bisa Dea jatuh?" Rehan
lelaki itu mulai menghentikan aktivitasnya, menyimpan ponselnya, menghampiri Melisa dan Dea.
"Gak tau Mas, aku memang ada disana, aku memperhatikan Dea, cuma kan namanya anak yang aktif, kita meleng dikit aja udah jatuh." Melisa
"Makanya kamu fokus dong Dek, masa bisa sampe jatuh kalau kamu bener jagain dia..!" Rehan
"Hmm, aku mau obatin Dea dulu Mas." Melisa
Wanita itu merasa kesal, bisa-bisanya suaminya menyalahkannya begitu saja tanpa tahu kejadiannya, dia pikir menjaga anak dua tahun itu mudah. Pikir Melisa
Melisa pergi dengan kesal, dia mencari obat merah, pertama-tama dia mencuci luka Dea lalu memberinya obat merah tepat di lukanya, membuat Dea menangis lebih kencang karena perih.
__ADS_1
"Dek, kamu apain Dea? Sampe nangis kejer gitu?" Rehan
"Astagfirullah Mas, kamu suudzon mulu deh, cuma dikasih obat merah, namanya anak kecil ya pasti nangis lah meski cuma perih sedikit." Melisa
Wanita itu merasa benar-benar emosi dengan tuduhan suaminya yang bahkan dia saja hanya asyik bermain game tanpa membantunya, namun sekarang malah menyalahkannya terus terusan.
"Oh…" Rehan
Mas Rehan ngeselin banget deh, dia belum ngerasain jagain Dea sih karena sibuk bekerja, dan aku gak tega kalau ngerepotin dia dengan jagain Dea, tapi malah gini. Batin Melisa
Entah mengapa jika terjadi sesuatu pada Dea dan anak itu menangis maka Rehan akan marah pada Melisa tanpa mau mendengarkan penjelasan istrinya, wanita itu akhirnya muak dan benar-benar muak.
Dia mendiamkan suaminya beberapa hari karena kesal.
***
Suatu hari Melisa ada jadwal suntik KB 3 bulan sekali, dia berniat pergi ke Bidan sendirian dan menitipkan Dea pada Rehan yang kebetulan sedang libur bekerja.
"Memangnya kamu mau kemana Dek?" Rehan
"Suntik Kb Mas, di klinik depan, deket kok." Melisa
"Oh, iya.. kenapa gak dibawa sekalian Dea nya Dek?" Rehan
"Repot Mas, kasihan juga kalau nunggu lama, dia pasti bete Mas menunggu di sana, terus kalau di sana malah nangis gimana?" Melisa
Pokoknya aku harus bisa pergi sendiri dan membiarkan Mas Rehan merasakan bagaimana menjaga balita. Pikir Melisa
"Hmm, tapi jangan lama-lama ya?" Rehan
"Iya Mas, kan kamu juga libur kerja, memangnya Mas ada acara lain?" Melisa
__ADS_1
"Gak sih Dek, takutnya nanti Dea kangen sama kamu, hehe.." Rehan
"Hmm, cuma 1 jam paling juga Mas, aku berangkat ya? Jagain Dea yang bener Mas jangan main ponsel dan main game mulu..! Assalamu'alaikum…" Melisa
"hmm, Iya Dek." Rehan
Melisa pergi dengan berjalan kaki karena memang letak klinik tidak jauh dari rumahnya, Melisa sebenarnya khawatir meninggalkan Dea bersama suaminya, dia merasa tak tenang, namun memang lebih baik dia pergi ke klinik sendirian agar dia tidak kerepotan, lagi pula memang sebentar.
Sekalian Melisa juga ingin Rehan merasakan betapa sulitnya menjaga balita yang sedang aktif-aktifnya agar suaminya itu mengerti, dia ingin melihat bagaimana Rehan menghadapi Dea.
Melisa akhirnya sampai di klinik setelah 7 menit berjalan kaki, dia menunggu antrian yang lumayan banyak, saat Melisa masih menyusui anaknya dia menggunakan KB suntik satu bulan agar tidak mengurangi jumlah produksi ASInya, namun sekarang setelah menyapih, dia mulai menggantinya dengan Kb suntik 3 bulan sekali.
Melisa berniat memberi jarak kehamilannya, dia ingin memiliki anak kedua saat Andea sudah lumayan besar dan mandiri, setidaknya sudah bisa mandi sendiri, makan sendiri, berpakaian sendiri agar Melisa tidak kerepotan membagi waktu nantinya, itu juga sudah menjadi kesepakatannya dengan Rehan.
Satu jam berlalu, kini giliran Melisa yang diperiksa, meskipun sudah melakukan KB cukup lama namun timbangan berat badannya stabil, Melisa sangat beruntung KB itu tidak membuatnya gemuk seperti ibu-ibu yang lainnya, hanya saja tekanan darahnya selalu rendah.
Setelah selesai, dia begitu terburu-buru menuju rumah bahkan berjalan dengan terkesan berlari karena saking cepatnya.
Aduh, aku mengkhawatirkan Dea, mudah-mudahan dia baik-baik saja. Pikir Melisa
Setelah sampai, dia membuka pintu rumah namun tidak nampak keberadaan suami dan anaknya.
"Mereka kemana? Apa pergi keluar?" Melisa
Wanita itu melangkahkan kakinya semakin dalam, memeriksa ruangan satu persatu, sampai dimana dia melihat ke kamar yang biasa ditempati dia dan Dea.
"Astagfirullah…." Melisa
Wanita itu tak menyangka akan kejadian yang dilihat di hadapannya sekarang
Bersambung….
__ADS_1