Menyembunyikan Status Sah

Menyembunyikan Status Sah
Prasangka


__ADS_3

Hingga akhirnya terdengar suara motor suaminya itu, membuat Melisa bernafas lega, namun dia yang sedari tadi pagi memang merajuk, maka dia pura-pura tak peduli, dia membaringkan diri di kamar berpura-pura tidur.


Raihan masuk, dia menyimpan tas, membuka jaket dan celana jeans nya, lalu melangkahkan kakinya ke dapur, mengambil segelas air penuh dan menghabiskannya tanpa sisa, hingga tetes terakhir.


"Alhamdulillah…" Raihan


Lelaki itu merasa lapar, melihat isi di dalam tudung saji dan ternyata banyak lauk pauk. Memang istrinya itu selalu menyediakan makanan meskipun dia pulang larut malam, namun sesekali jika Melisa merasa lelah dan tak enak badan, maka dia hanya akan menyediakan telur dan mie rebus.


Siapa yang memasak mie? Tentu saja Raihan, karena dia tidak mau membangunkan istrinya hanya untuk memasakannya mie instan.


Sementara di dalam kamar, Melisa mempertajam pendengarannya, dia bisa mendengar dengan jelas jika suaminya itu sedang makan karena terdengar suara sendok beradu.


Melisa tak tahan, dia ingin melihat wajah suaminya karena rindu namun dia gengsi karena masih marah pada Rehan, dia ingin tetap merajuk sampai suaminya itu merayu-rayunya.


Melisa melangkahkan kakinya menuju dapur, namun agar terkesan tak sengaja, dia pergi ke kamar mandi melewati suaminya yang sedang makan.


Setelah 6 menit berpura-pura dikamar mandi, Melisa keluar dengan celana yang dia naikkan sedikit agar terlihat nyata kalau dia memang benar-benar butuh ke kamar mandi.


"Makan Dek..!" Raihan


"Terusin aja Mas, aku udah makan kok, hmm.. ko jam segini baru pulang sih Mas? Belok kemana dulu nih? Punya gebetan ya Mas?" Cerca Melisa.


Seketika mood Rehan memburuk, dia merasa sakit hati dengan tuduhan sang istri, dia menghentikan acara makannya, langsung minum dan melewati Melisa begitu saja, lelaki itu tampak diam duduk di kursi depan televisi.


Mas Rehan kok jadi aneh gitu ya? Pikir Melisa

__ADS_1


"Jawab dong Mas!" Melisa


Wanita itu semakin gesit menuduh suaminya, sebenarnya dia percaya 100% jika suaminya tipe lelaki setia, namun rasa egonya yang tinggi, yang ingin bertengkar dan mencari kesalahan suaminya, membuat dia terus saja memancing suaminya agar menjawab pertanyaannya.


Melisa sebenarnya hanya rindu dan ingin saling ngobrol, dia tak tahan lama-lama saling diam tanpa bicara, namun di satu sisi dia ingin tetap merajuk agar suaminya mengerti dengan kesalahannya malam kemarin.


"Dek, Mas sakit hati bnaget loh, padahal Mas itu udah cape-cape nyari nafkah buat kalian, bahkan disaat Mas gak enak badan terkadang selalu berusaha menahannya agar tidak bolos bekerja, itu buat kamu Dek, tapi kamu tega nuduh Mas."


Rehan menundukan kepalanya, nampak kesedihan di matanya, bahkan wajah lelah itu semakin membuat Melisa merasa bersalah.


Astaga, apa yang aku lakukan? Aku udah bikin Mas Rehan salah paham dan merasa sakit hati, bagaimana ini? Pikir Melisa


"Mas….." Melisa


Wanita itu ingin mengucapkan kata Maaf, namun kata itu tak sempat diucapkan karena Rehan langsung memotongnya.


Setelah mengucapkan itu, Rehan membalikkan badannya memunggungi istrinya, sebenarnya Rehan ingin marah, namun sebisa mungkin dia tahan, dia tidak mau memperkeruh keadaan, apalagi sampai main tangan pada Melisa yang akan membuatnya menyesal.


Seharusnya aku yang marah Dek, udah cape, harusnya kamu menyambutku dengan senyuman dan melayaniku, walau hanya memberikanku sekedar teh hangat untuk menghangatkan tubuh ini yang kedinginan mencari nafkah di malam hari, itu sudah cukup, bukannya malah dituduh macam-macam begini. Batin Rehan


"Mas…" Melisa


Wanita itu mulai mendekati Rehan, duduk disamping suaminya itu.


Melisa memeluk suaminya dari belakang, "maafin aku Mas, aku salah karena berprasangka buruk sama kamu, aku percaya kok kamu setia, aku bener-bener minta maaf, Mas… ,Mas….." Melisa

__ADS_1


Rehan pun luluh, dia membalikan badannya, mengecup ubun-ubun snag istri dengan lembut.


"Lain kali jangan diulangi lagi..! Tanya dulu lah Dek, jangan main asal tuduh aja..!" Rehan


"Iya Mas, aku juga minta maaf karena udah kesel sama Mas dari pagi, itu karena…" Melisa


"Karena apa Dek? Kan Mas udah nanyain itu dari tadi siang, tapi kamu gak mau jawab, Mas beneran bingung." Rehan


Akhirnya Melisa menceritakan masa sulitnya malam kemarin sampai kewalahan menjaga Andea yang sakit sementara Rehan tertidur nyenyak. bahkan Dea tak mau turun dari gendongannya, membuat Melisa terpaksa membawa Dea ke kamar mandi saat rasa ingin membuang air sudah tak tertahankan lagi, jika Dea di baringkan bayi itu pasti akan menangis kencang dan membuat Melisa tak enak hati pada tetangga lain.


"Hahaha…." Rehan


"Kok Mas malah ketawa sih? Itu cerita aku yang menderita Mas, bukan lagi ngelawak." Melisa


"Hehe bukan begitu sayang, lucu aja kamu marah-marah gak jelas, trus ke kamar mandi bawa bayi pula, harusnya kamu kan bisa minta tolong baik-baik sama Mas, bangunin Mas, pasti Mas jagain Dea juga kok. Mas kan gak tahu kalau malam kemarin kamu kewalahan jagain Dea, kirain Mas kamu tidur nyenyak bareng Dea." Rehan


"Hmm…" Melisa


Wanita itu berpikir jika laki-laki memang memiliki pemikiran yang berbeda dengan perempuan, membuatnya kembali disalahkan karena tidak mau berbicara langsung, malah menyuruh suaminya langsung peka dengan sesuatu hal yang bahkan suaminya pun tidak tahu.


"Iya, iya Maaf deh, Mas yang salah karena tidur terlalu nyenyak dan tidak mengecek saat Dea sedang sakit." Rehan


Suaminya itu mulai merayu istrinya yang kini cemberut. Hingga suasana yang tadinya dingin berubah lagi menjadi hangat.


"Iya pokoknya Mas yang salah, wanita itu kan selalu benar Mas." Melisa

__ADS_1


"Hahahaha…" Melisa dan Rehan tertawa bersama saat mereka mendengar kata-kata terakhir Melisa.


Bersambung....


__ADS_2