
Melisa kembali dari kamar mandi dengan wajahnya yang sudah bersih, namun wajahnya itu belum sempat merasakan khasiat dari maskernya.
"Dek, kamu makin cantik deh," goda Rehan.
"Hmm, di masker juga belum, jangan ngeledek deh Mas..!" Melisa
"Maaf Dek, Mas kan gak tahu kalau yang maskeran itu jangan diajak ngomong." Rehan
"Hmm.. " Melisa
"Dek, jangan gitu dong..! Kita ngebakso yu, Mas yang pesan dan beli, terus kita makan bareng dirumah, gimana?" Rehan
"Hmm.." Melisa
"Jadi mau apa enggak? Ya udah Mas aja deh pesan satu porsi aja, " Rehan melangkahkan kakinya keluar dengan kunci motor di tangannya. Membuat wanita itu tidak mau kehilangan kesempatan bisa makan bakso.
"Boleh Mas, sekalian sama minuman segarnya, trus makanan manisnya juga..!" Melisa
"Kamu dikasih hati minta jantung Dek." Rehan
"Aku gak minta jantung Mas, aku minta bakso, es jeruk, kue balok, sama satu lagi kerupuknya jangan lupa..!" Melisa
Istri Rehan itu berlalu menuju kamarnya tanpa beban, sementara Rehan menghela nafasnya panjang.
Aku dirampok lagi. Pikir Rehan
Sepanjang jalan Rehan mengingat-ngingat apa saja yang diinginkan istrinya itu, jangan sampai dia lupa dan membuatnya kerepotan karena harus pergi lagi.
Setelah mendapatkan semuanya, lelaki itu langsung membawa motornya menuju rumah.
Melisa mengambilkan mangkok, gelas dan juga sendok dari dapur, menuangkan semuanya ke tempatnya.
"Enak gak Dek?" Rehan
"Enak Mas, makasih ya.." Melisa
"Sama-sama sayang.." Rehan
__ADS_1
Namun Melisa tak bisa menghabiskan makanannya karena kekenyangan.
"Mas, aku udah ah makannya." Melisa
"Itu masih banyak Dek, mubazir mie nya, kue nya juga." Rehan
"Kue kan bisa buat nanti kalau aku lapar lagi, kalau Mie, aku kan pesannya mie ayam aja kenapa ditambahkan bakso, ya aku gak sanggup lah Mas," keluh Melisa.
"Kalau kamu maunya mie ayam aja, lah kenapa baksonya yang kamu makan sama potongan ayam , yang ditinggalkan mie nya aja sama sayurnya. Hmmm…" Rehan
"Hahaha… iya ya, aku makan yang enaknya aja dulu jadi mie nya deh yang gak muat di perut aku." Melisa
Rehan hanya menggelengkan kepalanya, pasalnya perutnya selalu menjadi wadah saat Melisa tidak bisa menghabiskan makanannya.
Begitupun jika mereka makan ditempat Abang baksonya, maka Rehan akan menghabiskan 1 setengah porsi, sementara Melisa setengah porsi miliknya.
Setelah menikah badan Rehan menjadi lebih besar, mungkin ini alasannya.
Melisa mencoba membuat perutnya nyaman, meski dia sebenarnya mengantuk, namun dia tidak boleh langsung tidur karena perutnya yang masih begah, dia fokus menonton TV sambil sesekali melirik ke arah suaminya yang belum selesai makan.
Memang Melisa sejak dulu makan dengan porsi sedikit, perutnya gampang sekali kenyang, namun setelah menyusui dia gampang lapar, dia makan dengan porsi sedikit namun sering.
"Dek, Mas kekenyangan nih, kamu sih.." Rehan
"Kok nyalahin aku ? Kan udah aku bilang biarin aja." Melisa
"Mubazir Dek, kamu pengen Mas tambah lebar ya, perut Mas nanti bulet kayak bapak-bapak." Rehan
"Haha, emang udah bapak-bapak kok, kan udah ada Andea." Melisa
"Hmmm…." Rehan
Karena tangisan Dea, membuat percakapan suami istri itu terhenti, Melisa segera menghampiri anaknya dan menyusuinya, mengajaknya bermain sebentar lalu mengganti bajunya, Dea hanya di lap air hangat sore itu.
Hari ini memang hari minggu dan suami Melisa itu sedang libur bekerja, wanita itu bersyukur waktu libur suaminya dihabiskan di rumah untuk menemaninya.
Saat malam tiba Melisa mulai panik, "Mas, gimana ini?"
__ADS_1
"Jam segini klinik udah tutup Dek." Rehan
"Aku kompres aja deh sama gempur ASI biar cepat turun panasnya, bayi umur segini bingung juga mau dikasih obat." Melisa
"Iya Dek, kompres aja..! Pagi-pagi kalau masih panas kita bawa ke klinik." Rehan
Melisa mengangguk, dia merasa gelisah dengan kondisi Dea yang demam. Dia mengompres Dea terus menerus berharap panasnya turun, dia juga rutin setiap 2 jam sekali memberikannya ASI.
Andea yang rewel membuat Melisa harus terus menggendongnya agar Dea nyaman dan menghentikan tangisannya itu.
Dikala dia lelah dan mengantuk, dia akan duduk sambil menggendong bayinya dengan jarik, menyediakan bantal besar untuknya bersandar.
Melisa tertidur sejenak sambil memeluk bayinya, hingga tangisan bayinya membangunkannya kembali. Malam itu dia begadang sampai subuh, betapa kesalnya dia saat melihat suaminya yang tidur nyenyak tanpa membantunya merawat Dea.
"Ini kan anak dia juga," keluh Melisa.
Melisa sudah ngantuk berat, bahkan sekarang kepalanya pusing karena menahan ngantuk dari semalam, bahkan dia belum sempat makan, dia lapar karena dari semalam terus menyusui, dia hanya makan cemilan saat malam hari, memakan kue balok sisa sore tadi.
ketika pagi datang tanpa rasa bersalah Rehan datang ke kamar istri dan anaknya itu karena semalam dia tidur dikamar sebelah, seolah tidak ingin diganggu. bahkan setelah shalat subuh, dia tertidur lagi.
"Dek, bagaimana keadaan Andea? Kita jadi ke klinik?" Rehan
"Gak usah, biar nanti aku naik ojeg aja ke klinik." Melisa
"Loh, kenapa?" Rehan
"Aku gak mau ganggu waktu istirahat kamu." Melisa
"Gak ko, gapapa." Rehan
Namun Melisa tidak menjawab, dia mengacuhkan suaminya, saat melihat Andea tidur, dia berbaring di samping Dea untuk menikmati waktu tidurnya yang sebentar itu.
"Dek, kok malah tidur lagi? Udah pagi nih.." Rehan
Melisa tak memperdulikannya, dia semakin kesal dalam hati, bisa-bisanya suaminya itu melarangnya tidur setelah begadang semalaman.
Ada air mata di sudut mata Melisa, namun dia menahannya dan berusaha tertidur, karena tubuhnya sangat lemah saat ini.
__ADS_1
Andea membutuhkan aku, aku harus kuat dan selalu sehat, jadi seorang ibu itu gak boleh sakit! pikir Melisa
Bersambung...