
"Andea … ," Melisa segera menghampiri dan menggendong anaknya yang menangis karena gatal, ada dua bulatan merah di pipinya.
"Maaf ya, aku lupa tadi gak pakein Dea kelambu." Rehan
"Iya gapapa Mas." Melisa
Wanita itu memakaikan sedikit minyak telon dengan hati-hati, hanya sedikit karena takut jika nanti akan perih ke mata.
Memang kalau masih bayi, bekas gigitan nyamuk itu akan memerah melebar dan membuat bayi rewel, dan bekasnya pun nanti akan lama hilang dengan bekas sedikit menghitam.
Melisa menimang-nimang anaknya agar tertidur lagi, memang jika umur baru 3 minggu bayi banyak tidur daripada bermain.
Rehan mengambil ponsel dan dia mulai bermain game setelah lelah dengan aktivitasnya dari pagi.
Melisa membiarkan suaminya me time, kalau main game seharian, barulah wanita itu akan protes dengan tingkah cueknya dan diam membisu yang bisa bertahan sampai 3 hari.
"Mas, Andea mau diadakan syukuran gak Mas, nanti pas 40 hari?, ada acara potong rambut gitu, dibotakin." Melisa
"Emm, lihat nanti aja Dek, kalau ada Rezeki ya syukuran sekaligus aqiqah, kalau gak ada ya syukuran aja dulu, selamatan 40 harinya Andea."
"Iya Mas.." Melisa
Melisa menidurkan bayinya yang kini tertidur lagi, tak lupa dia menutupi badannya dengan kelambu agar tidak ada gigitan nyamuk lagi.
Dulu saat Melisa bekerja di kota ini dalam keadaan menjadi anak rantau, dia bahkan mengumpulkan sebagian gajinya untuk beraqiqah, dia sadar kalau orang tuanya belum mampu mengaqiqahkannya apalagi ada adik-adiknya yang perlu biaya sekolah.
Melisa itu dia menyempatkan untuk pulang ke Kota B dan melaksanakan aqiqah di kampung halamannya. Meski aqiqah itu kewajiban orang tua, namun jika mempunyai rezeki cukup kenapa tidak aqiqah sendiri saja? Wanita itu tidak mau membebani orang tuanya. Itulah yang dipikirkan wanita itu.
Melisa duduk diteras sambil memberi susu dot pada bayinya, datanglah tetangga sebelah yang menyapa.
"Mel, dede bayi makin gemuk aja. Hehe.." Nirmala
__ADS_1
"Iya nih, alhamdulillah, tapi anakku diare sudah 2 hari ini, bingung ngobatinnya karena masih bayi." Melisa
"Mungkin tidak cocok susu formulanya, coba ganti aja Mel sama merk lain!" Nirmala
"Oh gitu ya?" Melisa
"Iya, anakku sih dulu gitu, kalau gak cocok tuh ada yang mencret, ada yang bayinya nolak buat minum, ada yang alergi bentol-bentol, banyak deh, kamu cari aja di mbah google!" Nirmala
"Emmh, iya nanti aku ganti deh susunya." Melisa
Sejak obrolan itu Melisa menyuruh Rehan membelikan susu formula dengan merk berbeda, setelah diminum 4 hari ternyata bayinya masih mencret, susu yang sebelumnya belum habis, tapi dia membeli susu merk baru lagi.
"Emm yang ini terlalu bau anyir Mas," Melisa mengeluh setelah menyeduh susu dengan merek yang baru dan ini yang ke 3 kalinya diganti.
"Terus Mas harus beli lagi? Merek apa lagi Dek, udah beli dari yang murah sampai yang mahal juga," keluh Rehan
"Tapi kata Nirmala gitu, kalau mencret, bentol-bentol kaya gatel berarti gak cocok, oh iya ganti sama susu kedelai kan bisa yang merek itu loh Mas yang di Tv kemarin." Melisa
Melisa sebagai ibu baru memang lebih khawatir dengan kondisi anaknya, namun itu terlalu berlebihan menurut Rehan. Tapi apalah daya suaminya itu tidak mau membangkitkan singa yang nantinya akan menimbulkan perdebatan kecil yang dibesar-besarkan, pria itu mencoba mengalah.
Keesokan harinya Rehan menjemur Andea lagi, mengajaknya jalan-jalan disekitar depan rumah dengan hanya menggendongnya dengan lengan tanpa kain.
Namun Melisa kaget saat suaminya tertawa terbahak-bahak sambil menghampirinya.
"Hahaha… Dek coba deh kamu lihat ini!" Rehan
"Ada apa Mas?" tanya Melisa yang datang dari dalam rumah.
"Ini Dek, Mas dikasih hadiah sama Andea." Rehan
"Astagfirulloh , Andea BAB dan popoknya bergeser Mas, jadi kena tangan kamu deh kotorannya, gimana dong Mas?" tanya Melisa yang sedikit panik.
__ADS_1
"Iya nih, ya gapapa, tinggal bersihin aja, kamu bawa Andea trus bersihin! Mas mau bersihin tangan Mas juga." Rehan
Astaga bisa-bisanya kotoran Andea kemana-mana, untung mood Mas Rehan lagi bagus. Batin Melisa
Iya, memang bayi umur segitu biasanya belum memakai popok sekali pakai, hanya menggunakan popok kain yang diikatkan. Karena Rehan menggendong dengan seringnya digeser-geser dan merubah posisi bayi, membuat posisi popok kain nya pun menyamping, hingga terlihat celah dan tidak rapi.
"Dea, lain kali kamu jangan gitu ya, kasian ayah kamu, untung dia gak marahin kamu, hmm.." Melisa
Namun bayi itu hanya mengedipkan matanya, bagi Melisa itu adalah jawaban iya dari anaknya itu.
Acara syukuran 40 hari dan pemotongan rambut akan segera dilaksanakan. Namun wanita itu malah menangis di malam hari membuat Rehan bingung sendiri.
"Udah Dek, jangan sedih begitu..!" Rehan
Sebenarnya ada apa dengan Melisa?
Bisa di baca di Bab selanjutnya ya! :)
***
Dalam tradisi umat Islam, kelahiran seorang anak biasanya dirayakan dengan acara aqiqahan. Acara aqiqah dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkapkan kebahagian dan memanjatkan syukur kepada Allah SWT. Upacara aqiqah biasanya dilakukan dengan prosesi penyembelihan hewan ternak seperti kambing, yang lalu dibagi-bagikan kepada keluarga dan tetangga.
Secara bahasa, aqiqah memiliki arti “memotong” yang berasal dari bahasa arab “al-qath'u”. Terdapat juga definisi lain aqiqah yaitu “nama rambut bayi yang baru dilahirkan”. Menurut istilah, aqiqah adalah proses kegiatan menyembelih hewan ternak pada hari ketujuh setelah bayi dilahirkan. Hal ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.
Aqiqah biasanya dilakukan pada hari ke-7, ke-14, atau ke-21 setelah kelahiran seorang anak. Bagi anak laki-laki, untuk melaksanakan aqiqah wajib memotong dua ekor kambing sementara anak perempuan satu ekor kambing saja.
Secara sunnah, hukum aqiqah adalah sunnah muakkad, atau sunnah yang harus diutamakan. Artinya, apabila seorang muslim mampu melaksanakannya (karena mempunyai harta yang cukup) maka ia dianjurkan untuk melakukan aqiqah bagi anaknya saat anak tersebut masih bayi. Sementara bagi orang yang kurang atau tidak mampu, pelaksanaan aqiqah dapat ditiadakan.
Secara wajib, menurut hadist riwayat Ahmad yang berbunyi “Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama.” (HR Ahmad), aqiqah wajib dilakukan. Dengan berpatokan pada hadits di atas, para ulama menafsirkan bahwasanya seorang anak tidak dapat memberi syafaat pada orang tuanya apabila ia belum diaqiqah. Meski demikian, pendapat ini masih kalah dengan pendapat bahwa aqiqah adalah sunnah sehingga ditolak oleh banyak para ulama.
***
__ADS_1
Bersambung...