Menyembunyikan Status Sah

Menyembunyikan Status Sah
BAB 6 Musibah


__ADS_3

Setelah lelah berbelanja, aku merasa lelah dan membaringkan tubuhku di kasur yang sempit itu, mas Rehan pun ikut berbaring disampingku.


"Capek ya dek?" Rehan


"Iya, aku lebih suka belanja online tinggal klik, klik aja nanti barang datang sendiri, ini cari sepatu dua pasang aja pergi pagi pulang sore, gak sekalian aja mas kaya bang toyib pulangnya pagi lagi?, iya kan? Hahaha"


"Hahahaha, bener sih tapi kalau belanja online, kamu masih saja ngomel-ngomel dek, bilangnya kekecilan lah, jelek lah, bahannya tipis lah, astaga.. lebih baik kaki mas yang sakit daripada telinga mas yang sakit. Hahaha.." Rehan


"Mas.. jangan ngeledek deh..!, aku beneran capek mas aku mau tidur dulu ya 10 menit aja."


"Iya, iya tidur aja." Rehan


**


Keesokan harinya aku dan Mas Rehan berniat membeli perlengkapan rumah yang kurang, kami memanfaatkan waktu karena minggu ini kami bekerja shift malam.


Kami keluar mengendap-ngendap berharap Desi sedang tidak ada di kosan.


"Astaga, dimana-mana orang tuh takut ketahuan zina, ini malah takut ketahuan udah nikah kan lucu mas, kita tuh beda dari yang lain. Ko aku serasa jadi istri kedua ya? Yang lagi takut pernikahannya ketahuan. Hahahaha.."


"Huss.. kamu dek kalau ngomong suka ngasal gitu, ya istri mas cuma satu lah kamu aja. Hmm.." Rehan


"Iya, iya.. cepet mas..!, loh ko motor kamu malah kamu dorong, bensinnya habis?"


Tapi Mas Rehan tidak menjawab pertanyaanku, ia malah terus mendorong motornya sampai ke depan gerbang. Ternyata ia sengaja, takut keburu ketahuan Desi.

__ADS_1


"Hidup kita ko serasa gak tenang ya mas, padahal kita masih hidup loh mas."


"Kamu pikir mas hantu yang gentayangan, yang matinya gak tenang, dek … dek.." Rehan


"Hahahaha… makanya cepet-cepet dong umumin biar aku tenang."


"Astaga, jangan mati dulu dek.. Mas belum siap jadi duda tersembunyi." Rehan


"Mas…., kamu keterlaluan."


"Satu sama dong. Hahaha…" Rehan


Kami memang punya selera humor yang sama, meski nampak dari luar aku seorang wanita pendiam, tapi jika diajak bercanda, naluri kekocakkan ku muncul.


**


Disaat aku ingin mengejar cita-citaku dan melanjutkan pendidikanku, aku terhalang biaya dan aku merelakannya untuk bekerja dan membantu meringankan beban orang tuaku, karena masih ada adik-adikku yang membutuhkan tenagaku.


Dan baru 3th bekerja aku memutuskan menikah muda, membuatku sedikit bersalah pada adik-adikku karena setelah menikah aku tidak bisa fokus membiayai mereka, tapi aku menikah pun atas dorongan ibuku juga.


Aku pun takut jika berpacaran terlalu lama, dan salah langkah.


***


Pacaran dalam islam hukumnya haram. Sebab dalam aktivitas pacaran hampir dapat dipastikan akan melanggar semua ketentuan/hukum-hukum terkait interaksi laki-laki dan perempuan. Apalagi fakta membuktikan bahwa pacaran merupakan awal dari perbuatan zina yang diharamkan. Oleh karena itu tidak ada istilah dan praktik “pacaran Islami” sebelum menikah. Pacaran Islami itu hanya ada dalam khayalan dan tidak pernah ada wujudnya.

__ADS_1


Sejatinya, Islam tidak melarang seseorang untuk jatuh cinta, sebab perasaan cinta terhadap lawan jenis adalah sesuatu yang fitrah dalam diri manusia. Hanya saja perasaan itu harus disalurkan secara benar. Menurut Islam, saluran yang benar untuk merealisasikan rasa cinta terhadap lawan jenis adalah dengan menikah, bukan pacaran.


Adapun cara islam mengenai mengendalikan hawa nafsu, seperti berpuasa, sholat malam, menjaga pandangan dll.


Bisa juga dengan melakukan kegiatan positif seperti olahraga, menghindari berduaan, mempunyai prinsip hidup dll.


***


Musibah datang ketika tak sengaja suamiku menabrak pejalan kaki. Hingga Mas Rehan harus menanggung pengobatan dan juga memberi santunan yang bahkan nominalnya disepakati dari pihak korban.


"Dek, bulan ini Mas gak akan bisa ngasih jatah bulanan. Gak apa-apa kan kalau pake uang punyamu dulu?" Ucap Mas Rehan.


"Iya mas, pake uang aku aja dulu." Jawabku


Disatu sisi aku kasihan padanya, tapi bulan ini aku tak bisa mentransfer uang ke kampung. Pasti orang tuaku sangat berharap mendapatkan bantuan dariku.


Tapi yasudahlah, aku berpikir mungkin orang tuaku akan mengerti, memang setelah menikah aku harus mendahulukan suamiku dan keluarga kecilku. Meminta izinnya dikala aku ingin pergi.


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Seorang perempuan jika telah menikah, maka suami lebih berhak terhadap dirinya dibandingkan kedua orang tuanya dan mentaati suami itu lebih wajib daripada taat orang tua." (Majmu’ Fatawa 32/261).


Tiba-tiba ponsel mas Rehan berbunyi, lalu dia mengangkatnya dan terdengar jawaban darinya,


"Ah iya mah, besok aku kesana."


"Ada apa mas?"

__ADS_1


"Besok kita harus mengunjungi rumah mamah, ada hal penting..!" Rehan


Bersambung…


__ADS_2