Menyembunyikan Status Sah

Menyembunyikan Status Sah
BAB 15 Syukuran


__ADS_3

Setelah masakkan mas Rehan matang, dan semua sudah ditata rapi di meja makan.


Ada nasi goreng lengkap dengan sosis, telur, dan sayuran, dan ada teh manis hangat, juga tak lupa kerupuk.


Kami mulai makan bersama, mas Rehan mulai menyuapiku. Mulanya aku ragu untuk membuka mulutku, tapi aku harus menghargai usahanya.


Rasanya lumayan, sedikit asin tapi memang mas Rehan suka dengan masakan asin gurih, sedangkan aku lebih suka manis pedas.


Meski berbeda selera, aku menyesuaikan lidahku dengan lidah mas Rehan, karena kalau masakkan yang dibuat sesuai seleranya pasti dia akan makan banyak dan aku pun merasa bangga karena bisa membuat suami puas dengan masakanku.


Tak terasa usia kandunganku kini menginjak usia 4 bulan, kami berencana mengadakan syukuran sederhana.


"Dek, jadinya hari apa?" Rehan


"Apanya yang hari apa?"


"Itu loh, acara 4 bulanan kamu sayang." Rehan


"Oh, 2 hari lagi mas, bukankah begitu kata mamah, bukannya semua diurusin sama mamah, kan kita acaranya mau disini bukan di kampungku mas."


"Emm.. iya deh, nanti Mas tanyain lagi ke mamah, Mas berangkat dulu, assalamu'alaikum" Rehan


"Wa'alaikumsalam mas."


Aku begitu senang bisa melewati kehamilan trimester pertamaku, kini perutku sudah mulai membesar, terkadang aku merasakan gerakan-gerakan halus dari dalam, meski samar kurasakan tapi aku bahagia, entahlah itu nyata gerakan janinku atau perasaanku yang berlebihan.

__ADS_1


Aku mengadakan syukuran di rumah mertuaku, yang diundang pun tetangga sekitar sini saja, uang yang digunakan adalah uang mas Rehan dari gajinya. Ibu mertuaku yang akan mengelolanya, memasak dan mengatur semuanya.


Aku bersyukur mempunyai mertua yang baik, dan tidak perhitungan masalah uang ataupun tenaga. Tapi entah kenapa aku merasa selalu ada jarak antara aku dan beliau.


Mungkin aku yang pendiam sehingga aku hanya berbicara seperlunya, membuatku sulit bersosialisasi dengan tetangga, bahkan ibu mertuaku.


"Bu.. 2 hari lagi aku mau ngadain syukuran bu."


"Iya, semoga lancar, kamu sehat sampai lahiran nanti, maafkan ibu karena tidak bisa datang, ibu tidak punya uang untuk ongkos pulang pergi Mel, lagi pula adikmu juga harus pergi sekolah." ibuku


"Iya , aamiin, tidak apa-apa bu. Maafkan Mel juga ya belum bisa kasih uang lebih ke ibu."


"Gak apa-apa nak, mendengar kamu disana baik-baik saja dan berkecukupan saja ibu sudah bahagia, ibu tak ingin meminta uang darimu, Karena ibu juga tidak mampu memberikan banyak hal untukmu dulu, maafkan ibu ya. Semoga lancar acaranya, assalamu'alaikum." ibuku


"Aamiin , terimakasih bu. Wa'alaikumsalam."


Setiap kali aku melakukan chat atau video call dengan ibuku, selalu berakhir dengan air mata yang menetes tanpa bisa kuhentikan.


Setelah aku merantau, aku hanya akan bertemu dengan keluargaku di kota B saat lebaran tiba.


Karena aku pun tak punya uang lebih untuk pulang kampung dan membawa berbagai oleh-oleh.


Benar kata orang, jika anak perempuan telah menikah, maka ia akan menjadi hak suaminya.


Tapi jika anak lelaki menikah, maka ia masih menjadi hak ibunya.

__ADS_1


Setelah menikah, aku merasa benar-benar telah jauh dari ibuku.


Acara syukuran pun akhirnya terlaksana, di adakan di rumah mertuaku. Mas Rehan pun bahkan mengambil cuti kerja, mas Rehan begitu sibuk mempersiapkan semuanya, mengambil pesanan kue , bahkan ikut bergadung denganku membungkus nasi kotak untuk nanti dibagikan.


Kami tidak memesan makanan yang sudah jadi, kami sekeluarga yang memasak di rumah sebelum pengajian, bahkan ada paman dan bibi yang ikut membantu, acara seperti ini terkadang bisa mengumpulkan satu keluarga besar yang tadinya sibuk dan sulit bertemu.


Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Aku harus mulai menabung untuk biaya persalinan nanti.


***


Dalil mengenai walimatul haml tersebut dapat dilihat dalam hadits riwayat Muhammad Ismail al-Bukhari dalam Sahih al-Bukhari (Beirut: Dar al-Fikr, 1422), juz IV, hal. 111, hadits nomor 3208 berikut:


“Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya empat puluh hari berupa nutfah, 


Kemudian menjadi segumpal darah, (empat puluh hari kemudian), kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula (40 hari berikutnya). 


Kemudian diutuslah kepadanya malaikat, lalu meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan atasnya menuliskan empat hal; ketentuan rejekinya, ketentuan ajalnya, ketentuan amalnya, dan ketentuan celaka atau bahagianya …”


Pada bulan ke-4 inilah, Allah SWT mengutus malaikat untuk meniupkan ruh ke dalam janin yang terdapat dalam rahim ibu.


***


Saat aku membantu membersihkan ruang tamu yang telah dipakai pengajian, aku tak sengaja terjatuh karena tersandung karpet yang sebagian ujungnya terangkat, Perutku kram.


 "Dek… dek , kamu tidak apa-apa?" Rehan

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2