
Melisa akhirnya memilih pulang, merelakan Dea tetap tinggal bersama Rehan di kota A. Dia pergi ke kampung halamannya sendirian dengan menggunakan Bus umum, suaminya itu tidak bisa ikut karena tuntutan pekerjaan.
Selama perjalanan, hati wanita itu tidak tenang, dia melamun sepanjang jalan.
Bagaimana kalau Dea bangun tidur dan mencari-cari aku, tapi aku tidak ada?
Bagaimana kalau dia kecewa padaku dan berpikir jika aku ibu yang tega meninggalkannya?
Bagaimana aku bisa berpisah dengannya dalam waktu yang cukup lama?
Meski aku percaya pada Mas Rehan, tapi tetaplah hanya aku yang mampu menyayanginya dengan sepenuh hati bahkan aku lebih mementingkan dirinya.
Jika dia ingin pipis di tengah malam, apakah akan ada yang setia mengantarnya ke kamar mandi? atau malah membiarkannya sendirian, memaksanya mandiri diusia balita?
Begitulah isi pikiran wanita itu, dia tidak tega jika anaknya yang masih balita itu dipaksa untuk mandiri diusia yang benar-benar masih membutuhkan kasih sayang ibunya.
"Neng, berhenti di terminal?" Pak kenek
"Eh iya Pak." Melisa
Setelah sampai di terminal, dia melanjutkan perjalanannya menuju rumah orang tuanya dengan menggunakan ojek.
Wanita itu merasa setengah hati dengan pilihannya sekarang, namun dia terlanjur pergi ke kota B. Dia hanya berharap Dea tidak kesulitan selama dia pergi.
*
*
*
"Assalamu'alaikum… ," Melisa baru saja sampai, dia melihat suasana rumah orangtuanya yang sedikit berubah, rumah yang semakin termakan usia, mengingat dia sudah lama tidak pulang.
''Waalaikumsalam…,'' Bu Tina terlihat masih memakai celemek, sepertinya ibu itu sedang memasak dan menghentikan kegiatannya.
__ADS_1
Saat melihat jika yang datang adalah anak perempuan sulungnya, bu Tina begitu bahagia, dia berhambur memeluk anaknya itu.
''Ah, maafkan Mamah yang bau bawang ini, Mamah lagi Masak, hehe… kenapa datang tak memberi kabar dulu? Mamah kira bukan hari ini,'' ucap bu Tina sembari melepaskan pelukannya.
''Iya Mah kejutan, hehe.. '' Melisa
Bu Tina sempat menanyakan Dea cucunya, terasa rindu yang amat berat yang dia rasakan, namun dia harus kecewa karena tidak bisa menggendong cucu perempuannya itu, Dea merupakan cucu pertamanya.
''Iya Mah, maaf ya.. Dea tidak aku bawa karena mas Rehan katanya tak ada teman kalau Andea dibawa. Hehe… '' Melisa
''Iya gapapa Nak, ayo masuk, kita makan bersama..!'' bu Tina.
Melisa makan bersama keluarganya, ada adik-adiknya juga disana. Bersenda gurau nampak bahagia, padahal jauh dilubuk hati Melisa, dia begitu merindukan anak pertamanya yang masih balita meski baru saja sampai di kota B.
Melisa bahkan belum berpamitan, dia pergi saat Dea tertidur nyenyak, membuatnya semakin bersalah, terbayang Dea yang berteriak mencari ibunya.
Maafkan Mamah.. Maafkan Mamah ya, Dea..! Pikir Melisa
''Kamu kenapa Mel? Malah melamun aja.'' bu Tina.
''Hmm, gak usah khawatir karena Dea kan bersama ayahnya, pasti nak Rehan menjaganya dengan baik, kamu bisa fokus pada persalinannya mu..!'' bu Tina mencoba menenangkan anaknya.
''Iya Mah… ,'' meski sulit, Melisa harus menjalaninya.
*
*
*
6 minggu berlalu, Melisa menunggu namun dia belum juga melahirkan, sepertinya perkiraan lahir kurang tepat, bahkan sudah lebih 2 minggu membuatnya berinisiatif pergi untuk melakukan USG.
Alhamdulillah cairan ketuban masih cukup, kalau sekiranya dalam waktu seminggu belum juga ada kontraksi, Melisa disarankan untuk melakukan induksi.
__ADS_1
Aku gak mau kalau diinduksi, aku mau lahiran dengan rasa mulas alami, katanya diinduksi itu berkali-kali lipat sakitnya. Pikir Melisa
Sesampainya di rumah kedua orang tuanya, dia melakukan shalat dan berdoa meminta kemudahan dalam urusan persalinannya, selamat ibu dan bayinya.
''Belum kerasa mules juga Mel?'' bu Tina
''Belum Mah, padahal aku sudah ingin cepat melahirkan dan segera menemui Andea di kota A,'' jawab Melisa sambil menunduk, dia mencoba menahan agar tidak menangis dihadapan ibunya.
***
Saat malam tiba, Melisa mendapatkan kabar dari suaminya, Rehan akan datang ke kota B untuk menjenguk istrinya itu.
Melisa begitu bahagia, mengingat dia sudah lama tidak bertemu Rehan, dia juga berharap Andea ikut bersama suaminya datang ke kota B.
Namun dirinya tidak sempat menanyakan lebih jelas kapan suaminya datang karena Rehan bisa tidak mengaktifkan kembali ponselnya disaat dia bekerja, iya.. Dia bekerja shift malam minggu ini.
Melisa begitu bahagia, hingga dia bisa tertidur nyenyak dan melupakan kekhawatirannya masalah persalinannya.
Hari berganti hari namun tidak ada kabar lagi dari Rehan, membuatnya khawatir, Melisa bahkan berkali-kali menelpon tapi tidak diangkat.
Mas Rehan sibuk kali ya? Tapi kenapa sampe gak diangkat dari kemarin? Pikir Melisa.
Pagi itu dia menjemur baju, dia juga menjemur pakaian bayi untuk menyambut bayinya yang masih betah didalam perut.
Perutnya dielus-elus, ''sayang, mamah rindu sekali, mamah harap kamu mau cepet-cepet ketemu sama Mamah.''
Saat dia ingin kembali masuk ke dalam rumah.
''Assalamualaikum… '' Rehan
Wanita itu begitu mengenal suara siapa yang mengucapkan salam, dia berbalik dengan senyum merekah.
''Waalaikumsalam, Mas Re….han.'' Melisa
__ADS_1
Namun senyum wanita itu sedikit memudar saat melihat suaminya datang dan menyadari sesuatu.
Bersambung. ..