Menyembunyikan Status Sah

Menyembunyikan Status Sah
BAB 8 Surat kecil


__ADS_3

Saat ku buka kertas kecil itu, ternyata hanya bertuliskan nama dan nomor ponsel.


Oh dia mau kenalan, hmm… andai dia tahu kalau aku sudah menikah, pasti dia tidak akan berani memberikan ini. Hahaha… bisa jadi pebinor dia. Pikirku


Aku memasukkan kertas kecil itu ke saku bajuku dan melanjutkan pekerjaanku. Hari ini aku harus semangat bekerja, sebenarnya aku sudah lelah ingin rasanya berhenti bekerja dan merasakan pola tidur yang normal, pasti menyenangkan.


Saat teman-temanku yang sudah menikah mengobrolkan masalah rumah tangga, ingin rasanya bibir ini juga ikut mengeluh kesahkannya.


Tahan Mel, tahan..! Jangan sampai kamu keceplosan, pura-puralah menjadi gadis polos. pura-puralah tidak tahu kalau malam pertama memang sakit, kalau program KB itu malesin harus disuntik rutin, kalau sebenarnya kamu ingin menjadi ibu rumah tangga saja dirumah merawat anak-anak. Huh.. ya ampun greget deh pengen ikut nimbrung pikirku


Wkwkwk… ya terkadang memang sampai mengobrol pun aku harus mengontrolnya.


"Mel.. nanti kalau kamu nikah, undang kami ya..! Nanti kita sewa mobil, kamu pasti nikahnya di Kota A kan?"


"Emhh.. iya, pasti kak aku undang, kalau masalah sewa mobil nanti deh kalau dananya ada ya pasti ditanggung. Hehe" jawabku dengan gugup


Ya ampun.. terus aja bohong mel..!, aku udah nikah kali, tapi nanti resepsi diadakan di kota B deh, mudah-mudahan secepatnya sih. Tapi kalau dipikir-pikir belum ada biayanya juga, kasihan kan ibuku kalau harus mencari uang sebanyak itu, apalagi sampai hutang ke bank.. aaarrgghh.. aku mendadak sakit kepala. Pikirku


Lelahnya hari ini, akhirnya waktu kerja habis, tak sabar untuk segera merebahkan badanku di kasur.


Seperti biasa aku pulang bersama mas Rehan, kami pulang lebih awal dari Desi, hingga mas Rehan bisa langsung masuk ke dalam kamar, sebenarnya ada juga teman mas Rehan yang tinggal di kosan ini, hanya saja karena mereka laki-laki jadi mereka tidak terlalu kepo dengan urusan kami.


Saat aku berpapasan dengan pak satpam yang baru ku lihat lagi, mungkin dia mengambil cuti pikirku, dan dia bertanya.

__ADS_1


"Neng.. tadi siang ada yang mengangkat jemuran neng loh laki-laki, apakah benar itu suami neng?" 


Aku berpikir sejenak, "ah iya bukankah tadi siang mendung, dan mas Rehan pulang dulu untuk mengangkat jemuran, semoga aja gak ada orang lain yang lihat."


"Emm iya pak itu suami saya."


"Syukur deh, bapak kira maling pakaian. Hahaha"


"Ah bapak ada-ada aja, mari pak.."


Akupun pergi dengan terburu-buru untuk menghampiri mas Rehan.


"Mas, bukankah tadi kamu angkat jemuran, ada yang lihat gak? Tadi aja pak satpam sempet nanyain loh."


"Iya angkat jemuran kan mau hujan, ya kalau masalah ada yang melihat atau nggak… mas gak tau dek, mas kan buru-buru mana sempet lihat situasi, memangnya kenapa sih dek?"


"Mas maling jemuran? Hahaha.. "


Mas Rehan juga menertawakan dirinya sendiri, kelakuan kita akhir-akhir ini memang mengundang banyak kecurigaan, untuk orang yang tidak tahu status kami. Lalu mas Rehan menenangkanku, memberiku minum dan menyuruhku untuk tidak memikirkan hal yang masih dugaan belaka.


Akupun mandi secara bergantian dengan mas Rehan, aku sedang lelah dan tidak ingin mandi bersama. Karena kalau mandi bersama pasti akan semakin lama, mas Rehan akan menggodaku dan terjadilah aktivitas orang dewasa di kamar mandi.


***

__ADS_1


Dikala mandi bersama,


"Mas, kamu niat gak sih mandiinnya?" Ucapku kesal


"Kan ini juga udah bener disabunin semuanya." Rehan


"Iya.. tapi gak usah mainin yang lain kan mas..! geli tau, dan lama selesainya."


"Hehe.. seneng aja becandain kamu dek, kalau kamu mau kamu bisa mainin punya mas..!" Rehan


"Gak ah, ntar bangun lagi dan harus tanggung jawab. Aku udah kedinginan mas."


***


Setelah mandi dan berganti pakaian, kita lalu makan sore, dan bersantai menonton TV sambil duduk berdempetan. Maklum ya pengantin baru. Hehehe


Saat mas Rehan mengambil baju kotor untuk dicuci, tiba-tiba ada yang terjatuh, dan ternyata itu surat kecil tadi di pabrik.


"Astaga, aku belum membuangnya tadi, jangan sampai mas Rehan membacanya."


Saat aku ingin mengambil kertas itu, ternyata tangan mas Rehan yang menggapai kertas itu terlebih dahulu.


jangan sampai ada pertengkaran setelah ini..! Gumamku dalam hati

__ADS_1


Deg..


Bersambung…


__ADS_2