Menyembunyikan Status Sah

Menyembunyikan Status Sah
Tak Menyangka


__ADS_3

Melisa kecewa karena saat memeluk Andea, anak sulungnya itu diam, dia tidak terlihat senang dengan kedatangan ibunya itu. Bahkan seperti mengacuhkannya, tidak seperti dulu yang selalu nempel dan berteriak IBU.


"Dea udah makan? Ibu suapin ya?" Melisa mendekati Dea dengan perlahan.


"Nenek…," teriak Dea lalu dia berlari menemui neneknya, nenek Maryam.


Ibu Maryam menggendong cucunya itu. "Kenapa, Dea mau apa?"


"Mau gendong." Dea


Bu Maryam pun menggendong Dea, anak itu sepertinya tidak mau lepas dari neneknya.


Bu Maryam menggendong Dea sambil menyambut kedatangan keluarga Melisa yang datang dari kota B.


Melisa beralih ke tempat lain, mencari suaminya di dapur, mencium punggung tangan suaminya dengan wajah sedih.


"Kamu pasti lelah Dek, istirahat dulu, makan dulu ya..!" Rehan


"Iya Mas," jawab Melisa lalu mengikuti suaminya ke ruang tamu, mereka makan bersama-sama dengan hidangan makanan yang sengaja dimasak untuk menyambut keluarga Melisa.


Melisa makan dengan tidak semangat, sementara Rehan sedang sibuk dengan Keisha karena dia baru pertama kali bisa menyentuh anak keduanya, menggendongnya dengan bahagia.


Kenapa aku merasa tak bahagia? Dea, ibu kangen. Batin Melisa 


Wanita itu memandang anak sulungnya yang sudah tumbuh cantik dengan rambut yang mulai memanjang. Anak kecil yang menempel pada ibu mertuanya, membuat hati Melisa sedikit terasa nyeri.


Bu Tina yang menyadari itu, dia mendekati Melisa dan mengelus punggung anaknya.


"Yang sabar Mel, gapapa nanti juga Dea bakalan Deket lagi, nempel lagi sama kamu," ucap Bu Tina, dia berharap anaknya sedikit tenang dan terhibur.


Melisa tersenyum, senyum yang terpaksa karena dia tidak bisa berbohong kalau dia sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Melisa menyusui Keisha di kamar, Rehan menghampiri istrinya itu.


"Dek, mau menginap disini? Atau langsung ke kontrakan? Barang-barang juga udah disana semua."


"Hmm, langsung pindah aja Mas, gak enak kan kalau disini, ada saudara kamu Mas, ibu, bapak, mana cukup kamarnya." Melisa


"Iya sih, iya deh kalau keluarga dari kota B sudah pulang, kita lihat kontrakan ya, biar kamu langsung istirahat di sana aja." Rehan

__ADS_1


Melisa mengangguk, dia berharap setelah pindah, Dea akan menempel lagi padanya, Melisa tidak mau jika kehilangan Dea.


*


*


*


Rehan meminta izin dan pamit pada orang tuanya untuk pindah malam ini juga, namun saat melihat Dea, dia bertanya terlebih dahulu pada anaknya itu, ternyata Dea tidak ingin ikut, dia memilih tinggal bersama nenek dan kakeknya.


Rehan tidak mempermasalahkannya dan membiarkan Dea menginap disana. Sementara Melisa hanya menundukkan kepalanya, dia tidak bisa memaksa keinginan anak sulungnya itu.


Mungkin aku harus menunggu lagi, sampai Dea mau tinggal denganku dan Keisha sudah tumbuh lebih besar. Pikir Melisa


Melisa akhirnya pamit,dia menyempatkan untuk mencium Dea, menggendongnya meski Dea menolak dan bahkan turun dari pangkuannya, hati Melisa begitu perih. Namun dia terpaksa pergi tanpa anak pertamanya itu, dia akan mengunjungi Dea lebih sering agar Dea mengingatnya lagi.


*


*


*


Melisa langsung membaringkan Keisha, dia juga merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


"Dek, gimana kontrakannya nyaman gak?" Rehan


"Alhamdulillah, bagus kok Mas, nyaman." Melisa


Kontrakannya nyaman, ada suami dan anaknya Keisha bersamanya, bahkan dia sudah melewati masa kehamilannya yang terbilang sulit karena mendapatkan cibiran dari tetangga, dia telah melewati masa melahirkan yang sulit juga karena harus berjauhan dengan anaknya selama hampir 3 bulan, seharusnya sekarang dia bahagia, namun Melisa belum mencapai kebahagiaannya itu.


Sebentar lagi, sabar Mel..! Batin Melisa


*


*


*


Tiga hari berlalu, Melisa melakukan aktivitas ibu rumah tangga sebagaimana mestinya, memasak dan merawat bayinya, karena sudah berpengalaman mengurus bayi, itu mudah baginya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum.." Rehan


"Waalaikumsalam Mas, makan dulu Mas, ini minumnya," Melisa memberikan secangkir air putih.


Rehan meneguknya, lalu dia makan dengan lahapnya, sepertinya dia benar-benar lelah.


Kasian juga Mas Rehan, apa aku tunda saja ya niat untuk mengajaknya kerumah Mamah. Pikir Melisa


"Kamu ngelamunin apa Dek?" Rehan


"Hehe, gapapa Mas." Melisa


"Jangan bohong, cerita aja..!" Rehan


Melisa pun mengungkapkan keinginannya untuk berkunjung ke rumah mertuanya dan menjenguk Dea, dia ingin bertemu Dea, memang jarak kontrakan dan rumah ibu mertuanya itu tidaklah jauh bisa pergi hanya dengan ojek, namun Rehan pasti tidak akan mengizinkannya karena khawatir jika Melisa hanya pergi berdua dengan bayinya.


Rehan pun setuju, mereka langsung berangkat, disana Melisa bergantian dengan ibu mertuanya, Melisa yang mengasuh Dea dan Bu Maryam yang mengasuh bayi mungil itu.


Saat hari sudah sore, ingin rasanya Melisa membawa Dea pulang ke kontrakan, dia merasa sanggup menjaga kedua anaknya sekaligus. Namun Rehan tidak setuju, sepanjang jalan Melisa kesal pada suaminya.


Melisa turun dari motor tanpa bicara apapun, dia masuk dan langsung menyusui Keisha di kamar.


"Dek, jangan ngambek gitu dong..!" Ratu Rehan.


"Aku mau Dea ikut kita Mas, aku sanggup kok jagain mereka sendirian." Melisa


"Iya, tapi nanti lah Dek, kalau Dea ikut disini kan nambah pengeluaran juga, Dea udah suka jajan." Rehan


"Astagfirullah Mas, jadi itu alasan kamu? Jajan Dea memangnya ngabisin uang kamu ya? Dia itu masih kecil, jajannya gak banyak, aku kecewa Mas sama kamu." Melisa


Melisa benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dia dengar, padahal anak selalu ada rezekinya, bahkan di dalam harta yang suaminya dapatkan itu ada rezeki Dea, anak pertamanya berhak atas rezeki itu.


Melisa rela menghemat dan mengatur uang jajan Dea jika perlu, asal Dea ikut tinggal dengannya.


"Ini sudah keputusan Mas, kamu ngikut ajalah Dek! Jangan bikin Mas tambah pusing." Rehan


Dia pergi keluar rumah dengan keadaan marah, sementara Melisa menangis sendirian.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2