Menyembunyikan Status Sah

Menyembunyikan Status Sah
Hutang


__ADS_3

Melisa melangkahkan kakinya ke dalam rumah dengan perlahan, dia mengendap-ngendap seakan takut ketahuan suaminya.


"Dek.." Rehan


"Eh copot, copot.. Mas ngagetin deh." Melisa


"Kamu masuk gak pake salam." Rehan


"Eh iya, assalamu'alaikum.." Melisa


"Wa'alaikumsalam, kamu dari rumah bu Yusi kan? Gimana , dia bayar gak Dek?" Rehan


"Gak Mas, gak bayar," jawab Melisa dengan lesu.


Setelah mendengar bahwa istrinya itu tidak berhasil menagih hutang pria itu bergegas pergi ke kamar, mencoba mengasuh Dea lagi yang memang terbangun.


"Mas marah ya sama aku?" Melisa


"Gak, buat pelajaran aja kedepannya, kamu kalau mau minjemin uang ngomong dulu ke Mas, terus kalau udah tahu bu Yusi begitu jangan mau minjemin uang lagi sebelum dia bayar utang yang sebelumnya..!" Rehan


"Iya Mas, terus gimana dong?" Melisa


"Gajian Mas juga sepertinya diundur, kamu ridho gak kalau jual cincin mas kawin dulu?" Rehan


Melisa mengangguk, dia memang merasa bersalah dan mau tidak mau harus menjual apa yang menjadi miliknya itu.


Siang itu Rehan langsung pergi ke pasar untuk pergi ke toko mas disana, menjual sesuatu yang seharusnya tak dijual namun dia terpaksa karnena untuk menyambung hidup.


Saat dia kembali, dia memberikan semua uangnya pada Melisa.


"Maaf ya, nanti kalau ada rezeki Mas ganti lagi." Rehan


"Iya gapapa ko Mas, lagian aku gak masalah kalau gak pake cincin." Melisa


Namanya hidup, memang tidak selalu mulus, kadang semua yang kita rencanakan, berharap semua indah ternyata banyak bebatuan dan lubang di tengah jalan, membuat kita tersandung lalu jatuh, namun sebisa mungkin kita harus bisa semangat untuk berdiri lagi.


Kehidupan Melisa pun seperti itu, disaat dia melahirkan membayangkan betapa bahagianya dia dan suaminya, namun kenyataan pahit yang harus diterima, namun dengan rasa sabar dan percaya jika hati suaminya itu bisa dibolak-balikan oleh maha pencipta, akhirnya dia bisa berjalan lagi bersama suaminya.


Aku gapapa kehilangan cincin, yang penting aku tidak kehilangan keluarga kecilku, dan aku bersyukur Mas, kamu sudah mau berjalan membina rumah tangga kita lagi, memperhatikan aku lagi. Batin Melisa


***

__ADS_1


Saat pagi hari, Melisa kehabisan teh celup, dia terpaksa pergi ke warung depan dulu dengan cepat tentunya, karena khawatir Dea akan menangis.


Saat diwarung, dia malah bertemu bu Yusi, namun ibu itu seakan tidak melihat keberadaan Melisa.


Karena terburu-buru wanita itu pun dengan segera kembali pulang membawa teh nya.


Melisa menyiapkan teh manis hangat untuk suaminya, ditemani macam-macam gorengan yang sempat dia buat.


"Dek, kamu kok murung gitu? Masih pagi ini, semangat dong..!" Rehan


"Aku abis ketemu bu Yusi Mas di warung, kesel aja gitu, dia pikir aku hantu, ditanya aja gak nyaut, apa aku gak kasat mata? Mas bisa lihat aku kan?" Melisa


"Hahaha… ya bisa lah Dek, mana ada hantu cantik kaya kamu." Rehan


"Gak lucu Mas, aku lagi bete malah dibecandain." Melisa


"Kamu yang lucu, wajar bu Yusi begitu, dia cuma gak mau ditagih hutang sama kamu, apalagi diwarung 'kan banyak orang." Rehan


"Uang 100rb, pahalanya gak seberapa nih minjemin dia, tapi tiap hari dibikin kesel, aduh dosanya jadi tiap hari gini." Melisa


"Hahaha… mau tau caranya biar gak dosa dan kamu dapat pahala banyak?" Rehan


"Gimana Mas caranya?" Tanya Melisa dengan mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya itu.


Melisa menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, memang betul apa yang diucapkan Rehan kalau gak diikhlasin maka setiap hari jadi dosa karena merasa kesal pada bu Yusi. Namun entah mengapa dia masih merasa belum rela.


Hutang memang pemutus silaturahmi. Batin Melisa


"Iya Mas sepertinya itu memang jalan satu-satunya." Melisa


"Tapi jangan nangis begitu dong Dek..!, cuma 100rb kok jadi nangis," ledek Rehan, lalu dia menggelitik istrinya itu agar tidak cemberut lagi.


***


Untuk menghibur istrinya yang beberapa hari ini kesal, hari ini Rehan yang baru gajian itu membawa Melisa dan Dea jalan-jalan. Pergi ke supermarket membeli semua kebutuhan bulanan.


"Mas bedakku habis, lipstik ku juga." Melisa


"Iya, kamu ambil aja apa yang kamu mau..!" Rehan


"Asyik, bener nih?" Melisa

__ADS_1


"Iya.." Rehan


Melisa dengan senang hati memasukan semua yang dia lihat dan dia minati ke dalam troli, membuat Rehan menelan ludah, saking banyaknya belanjaan istrinya itu.


Banyak sekali? pikir Rehan


Rehan tak mampu melarang istrinya saat melihat raut wajah ceria di wajah istrinya, bahkan meski menggendong Dea, Melisa tetap semangat mencari apa yang dia inginkan, seakan tidak ada rasa lelah.


Memang kalau membahagiakan istri itu gampang, diajak belanja, dibantu pekerjaan rumah, dibantu momong anak, ditemani di rumah pas waktu libur kerja aja udah bahagia, karena ada sebagian ayah yang masih suka keluyuran sama teman-temannya.


Mereka pulang dengan belanjaan yang banyak, bahkan Rehan sempat menggeleng-gelengkan kepalanya karena motornya yang penuh dengan belanjaan.


"Gak muat loh Dek saking banyaknya." Rehan


"Muat Mas, sini aku yang pegang satu kreseknya." Melisa


"Berat Dek.." Rehan


"Gapapa Mas itu kan belanjaan aku, hehe.." Melisa


Saat sudah dekat rumahnya, motor mereka melewati ibu-ibu yang sedang berkumpul, Melisa dan Rehan sempat mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan, membuat Rehan emosi.


"Dek, mereka gak tahu apa-apa eh malah ngomongin kita yang jelek-jelek, Mas nanti mau ngelabrak rumahnya bu Yusi." Rehan


"Jangan Mas, biarin aja , kan aku udah ikhlasin yang 100rb itu." Melisa


"Bukan masalah ikhlas dan gak ikhlasnya Dek, bu Yusi itu udah keterlaluan." Rehan


Rehan menurunkan semua belanjaan, memasukkannya ke dalam rumah dan bergegas keluar.


"Mas tunggu! Jangan bikin ribut Mas!" Teriak Melisa, dia bergegas menyusul suaminya.


jangan sampai ada ribut-ribut deh. pikir Melisa


***


فسأل عنهم فقيل له: إنهم يستحيون مما لك عليهم من الدين. فقال: أخزى الله مالا يمنع عني الإخوان من الزيارة، ثم أمر مناديا ينادي من كان لقيس عنده مال، فهو منه في حل. فكسرت عتبة بابه بالعشي لكثرة العواد.


“Tatkala Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah sakit, para saudara dan sahabat menunda menjenguknya. Lalu, ia bertanya tentang mereka. Maka, dijawab, ‘Mereka merasa malu karena punya utang kepada engkau.’ Ia pun berkata, ‘Semoga Allah menghinakan harta yang telah mencegah kawan-kawan menjengukku.’ Kemudian ia perintahkan agar diumumkan bahwa barangsiapa yang punya utang kepada Qais, telah diputihkan (dianggap lunas). Setelah itu, ambang pintu rumah Qais patah karena begitu banyaknya orang yang menjenguknya.” (Hakaya Al-Ajwad, hal. 51)


Demikianlah hutang bisa menjadi pemutus persaudaraan dan pertemanan, bahkan bisa jadi menyebabkan permusuhan dan perkelahian antar saudara kandung sendiri yang notabene satu darah dan satu nasab. Oleh karena itu, syariat memotivasi agar yang berhutang segera melunasi hutang jika mampu dan tidak menunda-nunda bahkan memprioritaskan sebagai prioritas utama.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2