Menyembunyikan Status Sah

Menyembunyikan Status Sah
BAB 14 Masak-masak


__ADS_3

Benar saja mas Rehan menyusulku ke kamar, mematikan lampu kamar, mengucapkan do'a sebelum melakukan ibadah yang satu ini.


Kami mencoba melakukannya lebih berhati-hati karena kini ada calon anak kami di dalam perutku. Ya tidak memungkiri, jika suami istri mempunyai kebutuhan biologis juga, ada nafkah lahir dan nafkah batin.


Untuk laki-laki memang cepat terangsang dan cepat mencapai puncak, tetapi untuk wanita mereka lebih lama, sehingga suami harus bisa mengimbanginya, tidak boleh egois, suami harus memuaskan istrinya terlebih dahulu barulah suami menuntaskan hasr@tnya.


***


Dari Anas bin Malik RA menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Ketika seorang suami menggauli istrinya, maka hendaknya ia memberinya cinta dengan tulus (falyashduqha). Kemudian ketika suami telah menyelesaikan hajatnya, maka janganlah terburu-buru untuk mengakhiri sebelum istrinya menuntaskan hajatnya juga.” Demikian itu karena bisa menimbulkan bahaya bagi istri dan menghalanginya untuk menuntaskan syahwat." ( Ibnu Qudamah, al-mughni, Beirut Dar al-fikr, 1405 H, juz VIII, halaman 138).


***


Terkadang salah satu dari kami merasa kelelahan dan menolak melakukan ibadah satu ini, bukan menolak juga sih ya, karena aku kalau lelah akan meminta pengertiannya agar bisa menundanya sampai besok, atau meminta waktu untuk istirahat atau tidur dulu sejenak.


Jika mas Rehan sudah merasa puas, disaat itulah aku akan meminta sesuatu padanya, aku yakin jika suasana hatinya sedang senang, ia akan mengabulkan apa yang aku inginkan.


"Mas.."


"Iya dek..?" Rehan


"Ko aku tiba-tiba pengen martabak ya."


"Hmm.. ya udah mas beliin mau rasa apa?" Rehan


"Rasa pisang coklat ya mas, sekalian minumannya, aku mau jus jeruk."


"Ok sayang, mas berangkat dulu ya?" Rehan


Cup.


Dia mengecup keningku sebelum pergi.


"Assalamu'alaikum." Rehan


"Wa'alaikumsalam Mas."

__ADS_1


Tuh kan bener, pasti mas Rehan gak akan menolak, ia akan bersikap 10x lebih baik dari biasanya, apa lain kali aku minta dibelikan mobil saja ya? Hmm.. harus yang mungkin-mungkin dulu deh mintanya biar pasti dapet, aku pastiin tiap udah selesai gituan aku dapat sesuatu, akan aku buat beberapa list permohonan. Hahahha..


Pikirku


Hanya menunggu setengah jam, ternyata mas Rehan sudah kembali, menenteng martabak dan juga jus jeruk pesananku. Memang cepat karena ruko jus berdekatan dengan gerobak penjual martabak sehingga bisa menghemat waktu. Kami Pun makan bersama.


"Mas ini enak, makasih ya mas.."


"Sama-sama sayang, habisin dong, kan udah dibeliin..!" Rehan


"Kenyang mas, lagian itu makanan manis, mana kuat makan banyak nanti keburu enek."


"Tapi kan mubazir dek." Rehan


"Gak ko, aku simpen aja. Besok aku lanjut makan lagi ditambah teh manis hangat di pagi hari, emm pasti enak. Jangan dimakan ya Mas, ini buat aku sarapan besok."


"Iya .. iya." Rehan


Padahal dia yang beli, kenapa aku gak dibolehin Mas Rehan makan lagi? , astaga apa kelakuan ku keterlaluan ya? Pikirku


Malam ini aku sungguh merasa lelah, apalagi setelah dikerjain mas Rehan, dikerjain di ranjang maksudnya. Hehe


Aku juga terkadang heran kenapa suamiku selalu langsung tidur jika setelah kegiatan malam begitu, dan setelah aku cari tahu di mbah google ternyata itu wajar dialami pria. Sejak itu aku akan membiarkannya, biasanya aku akan ngedumel karena kesal ditinggal tidur. Astagfirullah…


Alarm ku berbunyi, itu pertanda aku harus memaksa mataku yang berat ini terbuka lebar, aku langsung pergi ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Sebenarnya alarm mas Rehan juga berbunyi tapi ia hanya melirik hp nya lalu mematikan alarmnya.


Akupun sholat duluan, setelah itu baru aku bangunkan mas Rehan.


"Mas bangun…!"


"Iya, apa dek?" Rehan


"Bangun udah jam setengah 6 tuh..!"


"Memangnya kenapa?" Rehan

__ADS_1


"Sholat subuh dulu mas..!"


Dia hanya mengangguk lalu tidur lagi, sudahlah yang penting aku sudah membangunkannya. Dan saat matahari sudah muncul, bahkan menyilaukan mata mas Rehan, karena cahaya itu masuk ke dalam kamar melalui jendela yang sengaja aku buka.


"Udah siang, ko kamu gak bangunin Mas buat solat sih dek?" Rehan


"Hem.. udah ko, Mas aja yang tidur lagi."


"Masa sih dek? Gak ah.." Rehan


"Astagfirullah, jangan pura-pura amnesia deh mas..!"


"Mas bener-bener gak inget kamu bangunin Mas, bener deh." Ucap mas Rehan meyakinkanku.


Ya begitulah, bukan sekali dua kali kejadian itu berulang, membuatku malas membangunkan mas Rehan, memang ya kalau gak niat dari diri sendiri tuh susah berubahnya.


Aku hanya berdoa supaya mas Rehan punya alarm yang bener-bener jitu. Alarm perut, aku berharap setiap jam setengah 5 pagi perut mas Rehan mulas dan memaksanya bangun subuh, hingga aku tak perlu membangunkannya  Hahahaha…


Mas Rehan pun sarapan pagi, aku memang belum pandai memasak, tapi aku belajar setiap hari agar masakanku semakin enak.


Bersyukur mas Rehan tidak pernah berkomentar tentang masakanku.


Hari ini mas Rehan berangkat bekerja siang hari, sehingga pagi hari masih bisa bersantai di rumah.


Entah ada angin apa, mas Rehan berinisiatif ingin memasak hari ini. Ku biarkan saja dia mengobrak abrik dapurku.


"Dek.. penggorengannya dimana?"


"Dek, garamnya ko tinggal dikit?"


"Dek, kecap manis sama yang asin yang mana sih, bedainnya gimana sih gak ada tulisannya gini, ini mah botolnya polos, kamu copotin ya label merk nya?, masa mas harus coba satu-satu sih?"


Ya ampun, aku kira hari ini aku merasa jadi Ratu yang menikmati masakan suami, bersantai-santai memainkan HP, tapi ternyata ini adalah hari paling ribet dari hari-hari sebelumnya, aku tak tahan dengan pertanyaan-pertanyaan yang seakan tak ada hentinya, akhirnya aku putuskan menuju dapur, dan diam duduk disamping mas Rehan.


Aku seakan seperti mandor yang mengawasi mas Rehan memasak, aku seperti juri master chef gitu deh biar keren.haha… 

__ADS_1


Aku gak yakin masakannya akan enak. Pikirku


Bersambung...


__ADS_2