Menyembunyikan Status Sah

Menyembunyikan Status Sah
Tak Direncanakan


__ADS_3

Sejak kejadian itu Rehan tidak pernah menyalahkan Melisa saat terjadi sesuatu pada Dea, jika anaknya itu terjatuh dan terluka, maka yang akan dia fokuskan adalah keadaan Dea, membuatnya berhenti menangis dan mengobatinya tanpa menyalahkan siapapun, apalagi istrinya, dia sudah tahu bagaimana sulitnya menjaga anak balita yang aktif-aktifnya.


Melisa dan Rehan seringkali bergantian menjaga Dea, apalagi saat Melisa sibuk memasak di dapur, maka Rehanlah yang menjaga Dea.


Melisa merasa senang karena Rehan menjadi partner rumah tangga yang bisa diandalkan.


***


Melisa yang tidak haid selama menggunakan KB suntik, dia akhirnya beralih ke pil KB, sudah empat bulan dia menggunakannya, namun entah mengapa dia seakan merasakan feeling yang kuat, dia merasa perutnya sedikit membesar.


Apa aku hamil lagi ya? Tapi aku kan pake KB, lagipula sejak aku memakai KB suntik aku memang sudah tidak haid. Pikir Melisa


Karena memang terbiasa tidak mendapatkan tamu bulanan itu, membuat Melisa tidak curiga selama ini, dia tidak pernah berpikir kalau dia akan hamil lagi.


Aku tidak merasakan mual atau ngidam seperti saat hamil Dea deh, apa aku testpack aja ya? Tapi aku takut kalau hasilnya positif, aku belum siap saat Andea saja masih berusia 2,5 tahun. Batin Melisa


Melisa menghampiri Rehan yang sedang berbaring di ranjang sambil memainkan ponselnya.


"Mas…." Melisa


"Iya, ada apa Dek? Kamu mau minta tolong apa? Bentar lagi ya, nanggung nih, 5 menit aja." Rehan


"Bukan Mas, ini aku cuma mau ngasih ini," Melisa memberikan hasil testpack nya pagi ini.


Rehan langsung bangkit dan dia duduk dengan serius, "apa maksudnya ini Dek? Kalau garis merahnya ada dua jadi gimana, hamil apa enggak?"


"Hmm, iya aku hamil lagi Mas, tapi aku benar-benar belum siap, aku gak mau kalau Andea punya adik sekarang, aku takut gak bisa membagi waktu yang adil juga untuk kedua anakku, karena Dea juga masih kecil dan perlu kasih sayangku Mas.. hiks..hiks.. aku gak tahu harus sedih apa bahagia." Melisa


Rehan memeluk istrinya itu, "disyukuri aja Dek, ini rezeki..!"


"Tapi Mas?" Melisa


"Kamu gak usah khawatir nanti Mas akan bantuin kamu jagain anak-anak kita, kalau kamu capek nyuci, Mas akan beli mesin cuci, kalau kamu lelah dan tidak mau memasak, ya beli saja lauk pauk yang udah jadi Dek..! Pokoknya kamu fokus aja sama anak kita..!" Rehan


Melisa pun mengangguk, namun tetap saja dia merasa gelisah dengan kejutan kehamilannya ini, dia harus menyiapkan fisik dan mentalnya, apalagi mental menghadapi cibiran tetangga.


Melisa juga masih mengingat bagaimana sakitnya mulas melahirkan Andea, dia masih belum bisa merasa bahagia dengan kehamilannya yang kedua yang tidak direncanakan ini.

__ADS_1


Dia yang pergi ke posyandu memeriksakan Dea, menimbang berat badannya, memeriksa tinggi badannya, lalu dia kembali ke Rumah untuk menitipkan Dea pada suaminya.


Dia kembali lagi ke Posyandu untuk menemui bidan dan memeriksakan kehamilannya, dia berharap testpack nya yang salah.


"Selamat Bu, anda hamil 3 bulan." Bidan Meri


Deg


Kenapa aku tidak bahagia dengan kehamilanku ini? Pikir Melisa


"Iya Bu, terimakasih." Melisa


"Ini buku kehamilannya, ini anak kedua kan Bu? Jangan lupa bulan depan kesini lagi..!" Bidan Meri


"Iya Bu." Melisa


Melisa bangkit dan berniat secepatnya pergi dari sana, namun ibu-ibu posyandu yang lainnya memergoki dia. Ada sebagian yang mendukung dan menyemangati Melisa di kehamilannya yang kedua ini, namun tidak banyak juga yang mengeluarkan kata-kata pedas padanya.


"Mel, kasian anakmu Dea, dia masih kecil masa udah punya adik lagi?"


"Mel, apa kamu gak KB? Kok bisa kebobolan gitu?"


"Mel, kamu doyan banget bikin anak.hehe.."


Seperti itulah kata-kata yang membuat Melisa down, dia bahkan bingung menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dijawab salah, gak dijawab makin salah, namun sebenarnya dia tidak ingin menjawab pertanyaan yang terlontar itu, dia hanya ingin marah kepada mereka yang seenaknya bicara.


Sebisa mungkin dia meredakan amarahnya, menahannya, dan mencoba bersikap tenang.


"Mel, katanya kamu hamil lagi ya? Gak kasian sama Dea? Dia masih kecil loh?" Bu Yusi


Menyebalkan sekali, apa gak ada pertanyaan lain. Pikir Melisa


"Hmm... Namanya juga rezeki Bu, mana bisa ditolak," jawab Melisa sambil berlalu pergi.


Hingga akhirnya wanita itu tiba dirumah, melihat Rumah yang berantakan karena Dea yang bermain. Membuat dia yang sedang emosi makin emosi, tapi dia memilih pergi ke kamar dan merebahkan tubuhnya, membiarkan semuanya tetap berantakan.


Ceklek

__ADS_1


Rehan memasuki kamar sambil menggendong Dea, "Dek udah pulang? Kok gak kedengeran, gimana kata bu Bidan?" Rehan


Melisa bangkit dan dia duduk ditepi ranjang dengan lesu, "iya aku hamil lagi Mas, sudah jalan 3 bulan." 


"Alhamdulillah…" Rehan


"Iya alhamdulillah," jawab Melisa lalu dia membaringkan tubuhnya kembali, dia merasa tidak ingin melakukan apapun hari ini, apalagi mengingat banyak pertanyaan tetangganya yang kepo sekaligus nyinyir.


Apa aku harus tinggal diatas gunung agar aku tidak memiliki tetangga? Pikir Melisa


Rehan yang melihat istrinya masih belum bisa menerima kenyataan, dia akhirnya menyelesaikan semua tugas istrinya di Rumah, menjaga Dea, membersihkan Rumah dan membeli lauk pauk untuk mereka, membiarkan istrinya itu istirahat dan merenungkan semuanya sampai dia ikhlas menerimanya.


Kabar itu sampai di telinga ibunya Rehan, namun Bu Maryam itu berekspresi biasa aja, tidak bahagia dan tidak juga kecewa, dia hanya menanyakan berapa bulan kandungan Melisa lalu pulang lagi ke kios dengan menggendong Dea, mengajaknya bermain disana.


"Han, Mamah bawa Dea ya? Nanti sore Mamah anterin lagi kesini, Mamah kangen sama Dea." Bu Maryam


"Iya Mah, ini baju gantinya Mah." Rehan


Bu Maryam menggendong Dea dengan rasa senang, sementara Melisa entah mengapa hatinya merasa sedih, seakan dia tidak bisa menjaga Dea, memberikan waktunya untuk Dea.


"Gapapa Dek, biarkan saja Dea sama Mamah, biar kamu gak terlalu kecapekan, apalagi Dea kan udah berat, kamu gak bisa gendong Dea, karena Mas gak mau kandungan kamu kenapa-napa." Rehan


"Iya Mas.." Melisa


Wanita itu melakukan aktivitas Rumah yang ringan-ringan, bahkan Rehan sudah membelikannya mesin cuci.


Saat siang tiba, Melisa yang sudah menyelesaikan pekerjaannya itu, dia duduk di sofa dekat televisi, dia merasa kesepian mengingat tidak ada siapapun di Rumah.


Suaminya bekerja dan anaknya ada bersama neneknya.


Sepi sekali, Dea… Mamah kangen. Pikir Melisa


Memang sebagai ibu, ada kalanya merasa lelah dan ingin me time tanpa diganggu anak, namun ada kalanya ibu rindu dengan anak yang selalu menempel padanya, berceloteh dan tak mau diam, membuat suasana Rumah menjadi ramai.


Melisa memilih tidur siang saja, tubuhnya gampang lelah semenjak hamil, dia membaringkan tubuhnya dan mulai terlelap.


"Mel… Mel… , itu Dea , Dea … ," teriak tetangga sebelah yang panik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2