Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 11 'Ancaman Di Sekolah'


__ADS_3

"Mungkinkan dia sosok lelaki yang dikirim Tuhan untuk melindungi dan menjagaku? " Tanya Dinda dalam hati sambil tersenyum manis. Pasalnya setelah Ayah Dinda sering berpergian keluar kota karena urusan pekerjaan, Dinda merasa kesepian. Ia rindu dengan sosok lelaki yang dulu selalu melindungi dan menjaganya.


Riko yang melihat Dinda terus tersenyum sedari awal ia menggenggam tangannya tadi, menyadari bahwa Dinda sangat menikmati genggaman tangannya. Hal itu membuat Riko semakin bersemangat dan optimis akan menaklukan hati si gadis manis. Bahkan ia ingin menunjukan kepada Dunia, bahwa Dinda sebentar lagi akan menjadi miliknya.


"Aku sungguh beruntung, selangkah lagi Dinda akan menjadi pasanganku. Aku akan menjadi cowok yang paling berbahagia di dunia ini" Ucap Riko dalam hati dengan bangga.


Setibanya mereka di kelas, mereka pun masih bergandengan.


"Cie ada yang baru jadian, kayaknya bakalan sukses besar nih tugas film kita" Sambut Adit. "Kita gak jadian kok dit, tapi yang jelas mulai sekarang Dinda itu tanggung jawabku" Ujar Riko dengan penuh semangat. Medengar itu, Dinda pun sampai tersipu malu. Tapi setelah melihat ekspresi Lia dan Luna yang nampak tak senang, Dinda seketika berupaya melepaskan tangannya dari genggaman Riko.


Yupss Adit merupakan salah satu orang disekolah itu yang mendukung kedekatan mereka berdua. Ia adalah sosok teman yang tulus.


"Maksud ucapan Dinda adalah tanggung jawabmu mulai sekarang itu apa ya Riko?" Tanya Lia yang berusaha menahan api cemburu dalam hatinya. "Panjang kalo diceritain Lia" Jawab Riko singkat, jawaban itu sontak membuat Lia dan seisi kelas penasaran serta bertanya-tanya dengan apa yang telah terjadi di antara mereka berdua, hingga Dinda yang awalnya terlihat selalu menghindar dan menjauhi Riko tiba-tiba bisa sedekat ini dalam kurun waktu yang sangat singkat. Bahkan beberapa teman sekelas Riko sampai berspekulasi yang tidak-tidak mengenai keanehan yang mereka lihat itu.


Ringg!!! Ringg!!! Ringg!!!

__ADS_1


Bel tanda jam pelajaran segera dimulai berbunyi, seketika menenangkan suasana heboh dikelas pagi itu. Waktu berlalu begitu cepat, hingga jam istrirahat pun tiba. Riko menghampiri Dinda sembari meletakan 2 kotak makanan di atas mejanya. "Ada masakan spesial Ibuku buat kamu Din, ayuk kita makan bareng" Ajak Riko sembari tersenyum lebar. Dinda pun sangat senang dibuatnya, apalagi ternyata makanan itu sangat enak baginya.


"Riko Riko!! " Lagi dan lagi terdengar suara lantang Julian dari depan kelasnya Riko merusak suasana saat mereka sedang asik menikmati makanannya. Riko pun bergegas keluar untuk menemui Julian. "Riko ikut sini!" Julian menyuruh Riko untuk mengikutinya. "Kemana kak? " Tanya Riko penasaran, bukannya apa-apa, masa hukumannya telah usai. Jadi Riko merasa ia tak lagi punya kewajiban tunduk terhadap Julian. "Udah ikut aja, jangan banyak tanya! " Bentak Julian, Riko akhirnya mau mengikuti Julian.


Ternyata ia di ajak ke belakang sekolah. Disana, sudah ada 6 orang kakak kelas Riko yang juga merupakan geng Julian menunggu mereka berdua.


"Hahahaha.... "


Tawa geng Julian gemuruh, menyambut kedatangan Riko.


"Maaf kak, saya tidak akan pernah menjauhi Dinda karena saya sudah janji pada seseorang. Dan satu lagi, selama saya benar, saya tidak pernah takut dengan siapa pun" Ucap Riko dengan sopan, lalu beranjak pergi meninggalkan mereka semua. Sontak respon Riko itu diluar dugaan semua anggota geng Julian, mereka baru kali ini melihat ada orang yang berani menentang Julian.


"Wah gila ni bocah, Hajar!!" Julian memerintahkan para anggota gengnya untuk memberi Riko pelajaran, perkelahian pun tak dapat dihindari. Riko dikroyok geng itu, tapi kemampuan bela diri Riko mengejutkan semua orang disana, terutama Julian.


Terlihat Riko tak melancarkan serangan sama sekali, ia hanya menghindar. Kemudian satu serangan dari geng itu pun tak ada yang mampu mengenai Riko, ada yang ditangkis dan dihindarinya dengan amat sangat mudah. Akhir dari perkelahian itu pun telah terbaca, satu per satu anggota geng Julian terjatuh akibat kelelahan.

__ADS_1


Julian akhinya dengan terpaksa membiarkan Riko pergi. Ia masih syok dengan kemampuan bela diri Riko yang sangat amat mengagumkan, bahkan ia yang jagoan disekolah itu sekali pun, rasanya bukan tandingan Riko. Sejak saat itu Julian tak mau mencari masalah lagi dengan Riko, semua anggota gengnya juga demikian, tak satu pun dari mereka yang berani menatap mata Riko.


Riko kembali ke kelas dengan seragamnya yang basah dipenuhi keringat. Sampai dikelas ia dikejutkan medapati Dinda yang menangis. "Kamu kenapa Din?" Tanya Riko yang juga ikut sedih melihat gadis yang ia cintai menangis. Dinda hanya terdiam, ia sama sekali tak mengubris kepedulian Riko itu. "Riko, sini ikut aku" Adit menarik lengan Riko seolah ada hal penting yang ingin ia sampaikan.


"Kenapa dit? Apa yang terjadi?" Tanya Riko penasaran, "gosipmu dekat dengan Dinda telah tersebar Riko, tadi saat kamu ikut Kak Julian, ada beberapa cewek kelas 12 melabrak Dinda ke kelas kita, mereka mengancam Dinda" Adit berusaha menjelaskan situasinya. "Hah? Kakak kelas siapa? Kenapa mereka sampai mengancam Dinda? " Tanya Riko yang semakin bingung. "Jadi mereka itu suka denganmu, mereka cemburu mendengar gosipmu yang dekat dengan Dinda" Ujar Adit yang kini berusaha menjelaskan situasinya dengan lebih detail. Riko akhirnya paham, ia berterimakasih dengan Adit dan berjanji akan menjaga Dinda.


Riko masih penasaran dan bertanya-tanya dalam hati, kira-kira kakak kelas yang mana tega melabrak dan mengancam Dinda hingga menangis seperti ini? Ia juga masih bingung, baginya kurang masuk akal alasanya Dinda di labrak jika hanya di dasari motif cemburu. Pasalnya walaupun faktanya ia sangat populer di sekolah itu, ia tak merasa ada kakak kelas yang berupa mendekatinya melebihi dari sekedar mengajaknya untuk berkenalan semata.


Waktu kini menunjukan pukul 12.30, menandakan jam sekolah hari itu telah usai. "Ayuk pulang" Riko menghampiri dan mengajak gadis yang ia cintai untuk pulang bareng, berniat untuk mengantarkan Dinda sesuai permintaan Ibunya.


"Aku pulang naik taksi aja ya Riko" Saut Dinda dengan nada pelan sambil mengalihkan pandangn dari Riko. "Lah kenapa? Percaya sama aku, semua akan baik-baik aja kok" Riko berusaha meyakini Dinda dan meraih tangannya. Lagi-lagi Dinda merasa sangat aman dan nyaman ketika tangannya digenggam Riko. Walaupun awalnya sempat ragu dan memastikan situasi sekitar aman dari pengawasan kakak kelas yang mengancamnya tadi atau tidak, Perasaan takut Dinda seketika hilang dan akhirnya mereka pun pulang bareng.


Dalam perjalanan menuju area parkir Dinda terlihat menjaga jarak dari Riko sembari terus memperhatikan lingkungan sekitar. Riko yang melihat itu pun, semakin penasaran dengan insiden pengancaman Dinda tad. Riko kembali meraih tangan Dinda dan berkata "selama ada aku di sampingmu, aku tak akan membiarkan siapa pun menyakitimu".


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2