Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 42 'Dinda Yang Telah Siuman'


__ADS_3

Sinta yang melihat ekspresi Riko sangat serius kala itu pun, akhirnya terpaksa merelakan Riko untuk pergi menyelesaikan urusan penting yang baru saja ia katakan.


Riko mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar Sinta itu, dan kemudian mulai menggenggam gagang pintu kamar itu lalu membuka pintunya.


Betapa terkejut sekaligus girangnya Riko melihat si gadis manis alias Dinda yang juga kebetulan baru keluar dari kamar rawatnya dengan wajah yang masih terlihat pucat. Saat itu tak ada sama sekali selang infus di tangannya Dinda dan tubuhnya pun terlihat jauh lebih kurus jika dibandingkan dengan dirinya saat sebelum insiden berdarah itu terjadi.


"Dinda, kamu sudah siuman?" Tanya Riko menatap Dinda dengan ekspresi wajah yang sangat kegirangan. Riko sama sekali tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya melihat Dinda siang itu, setelah sekian lama ia menunggu Dinda untuk sadar dari komanya.


Mendengar kalimat tanya yang baru saja di lontarkan Riko, Dinda tampak kebingungan sembari menatap ke arah mata Riko. Ekspresi Dinda saat itu seolah mengambarkan ia tak mengingat Riko sama sekali.


"Kamu siapa?" Tanya Dinda singkat dengan tatapan penuh kebingungan teehadap Riko.


Respon Gadis yang ia cintai itu benar-benar sontak mengagetkan Riko, perasaan Riko seketika hancur berkeping-keping menanggapi pertanyaan Dinda yang sangat singkat dan dingin saat itu.


"Kamu tak mengingatku sama sekali Din? Kenapa bisa? Aku Riko, salah satu orang yang paling dekat denganmu sesaat tepat sebelum kamu di rawat karena kecelakaan" Saut Riko yang mencoba mengingatkan Dinda tentang dirinya.


"Kecelakaan? Kecelakaan bagaimana?" Tanya Dinda yang kala itu tampak semakin penasaran sekaligus kebingungan dengan apa yang telah di sampaikan Riko.


Belum sempat Riko menjelaskan semuanya secara lebih mendetail, Dinda tiba-tiba memegangi kepalanya yang masih di balut perban dengan ekspresi menahan rasa sakit yang sangat hebat.


Melihat gadis yang ia cintai mengeram kesakitan, Riko panik dan tanpa berpikir panjang, langsung berupaya untuk menuntun Dinda kembali ke kamarnya guna untuk beristirahat.

__ADS_1


Untungnya saat itu tak ada Ibunya Dinda disana, jadi tak ada orang yang akan mengusir Riko lagi dari ruangan itu.


Setelah memastikan Dinda telah berbaring kembali di tempat tidurnya dengan posisi yang sempurna, Riko bergegas berlari ke ruangan dokter yang berjarak beberapa meter dari kamar Dinda memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Dinda.


"Dok dok!! Tolong ikut saya ke kamar pasien atas nama Dinda yang koma kemarin, ia telah sadarkan diri!" Ucap Riko dengan tergesa-gesa.


Salah seorang dokter disana pun, dengan cepat merespon Riko yang meminta tolong kemudian bergegas mengukuti Riko yang terlebih dahulu berlari ke kamar Dinda.


"Ya ampun, akhirnya kamu sadar juga dik. Telah lama kamu tak sadarkan diri, ini kenapa kabel infusnya terlepas ya?" Ucap syukur dokter itu dan di ikuti pertanyaan darinya.


Saat itu, Dinda sama sekali tak merespon ucapan dokter itu, dan masih mengeram kesakitan memegangi kepalanya.


Beberapa menit berlalu setelah cairan itu di suntikan ke salah satu tangan Dinda, akhirnya ekspresi kesakitan yang sedari tadi terlihat pada wajah pucat Dinda pun perlahan-lahan mulai menghilang. Dinda mulai memejamkan kembali kedua mata indahnya, bukan karena kembali koma, akan tetapi itu adalah efek samping dari obat yang barusan di suntikan dokter itu, membuatnya merasakan kantuk yang hebat dan akhirnya tertidur pulas.


"Dik, kamu kerabatnya pasien?" Tanya Dokter itu singkat terhadap Riko.


"Oh bukan dok, saya teman sekelasnya pasien" Saut Riko sembari menatap ke arah Dinda.


"Dinda kenapa tak sadarkan diri kembali dok? Ia kembali koma?" Imbuh Riko dengan pertanyaan dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba penuh kepanikan.


"Oh jangan khawatir dik, itu hanya sekedar efek samping dari cairan obat yang baru saja saya suntikan, nanti setelah dua atau tiga jam kemudian Dinda akan tersadar kembali, dan kondisinya akan lebih membaik daridapa sekarang ini. Kamu banyak-banyak berdoa saja ya" Ujar dokter itu sembari tersenyum dan memegangi pundak Riko.

__ADS_1


Mengetahui itu hanya efek samping dari obat tadi semata, dan tak ada hal yang perlu di khawatirkan saat itu, senyum lega seketika muncul pada wajah Riko.


Saat Riko dan Dokter itu masih berbincang-bincang perihal kondisi terkini Dinda di kamar rawatnya Dinda, tiba-tiba pintu kamar Dinda itu berbunyi, menandakan seseorang akan memasuki kamar itu.


Ekspresi Riko seketika berubah dari ekspresi lega ke ekspresi wajah yang di penuhi kegelisahan. Riko cemas orang yang akan memasuki kamar itu adalah Ibunya Dinda. Mengingat perlakuan tak adil Ibunya Dinda terhadap dirinya selama ini, Riko menjadi merasa sedikit cemas dan gelisah.


Benar saja, Ibunya Dinda adalah orang yang baru saja memasuki kamar itu.


"Riko! Siapa yang mengijinkan kamu memasuki kamar anak saya?" Bentak Ibunya Dinda yang tak terima melihat keberadaan Riko di sana, tanpa memperdulikan keberadaan seorang dokter yang kala itu masih berbincang-bincang dengan Riko.


"Bu mohon tenang, ini rumah sakit! Adik ini yang baru saja menyelamatkan Dinda dan segera melaporkan ke saya bahwa Dinda telah siuman, tanpa laporan darinya, mungkin Dinda telah tergeletak di lantai karena merasakan sakit kepala yang hebat, dan hal itu bisa saja memperparah kondisinya" Ucap Dokter itu yang berusaha menjelaskan situasinya.


"Ibu harusnya justru berterima kasih terhadap adik ini, bukan malah membentaknya dengan penuh kebencian seperti tadi!" Imbuh Dokter itu yang seolah merasa jengkel dengan amarah Ibunya Dinda yang tanpa sebab di matanya.


"Berterimakasih terhadapnya? Dokter gak salah ngomong kan? Dia ini adalah orang yang telah menyebabkan anak saya menanggung banyak penderitaan hingga ia menjadi seperti sekarang ini!" Ucap Ibunya Dinda kepada dokter itu dengan nada tinggi di penuhi emosi yang kembali menuding Riko sembarangan.


"Apapun alasannya bu, Ibu harus sadar satu hal, sekarang ini yang terpenting adalah kesembuhan putri Ibu. Jadi tolong kesampingkan dulu kebencian dan dendam yang Ibu punya terhadap adik ini, dan berterimakasihlah atas tindakan cepat yang baru saja di ambilnya untuk menyelamatkan anak Ibu! " Ucap Dokter itu yang kala itu ikut berbicara dengan nada yang tinggi.


"Saya tidak akan pernah memaafkan apalagi berterimakasih terhadap dia, sebelum ia bisa membuktikan bukan dirinya lah penyebab putri saya menjadi seperti sekarang ini!" Ucap Ibu Dinda dengan penuh emosi hingga meneteskan air matanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2