
Julian yang melihat banyak darah segar mengucur deras dari kepala Dinda langsung berupaya kabur dari sana dengan berlari sekencang-kencangnya.
"Tolongg tolongg!! Siapa pun tolong telepon ambulance!!"
Teriak Riko dengan keras, ia panik melihat Dinda yang saat itu sudah terbaring lemas tak sadarkan diri di pelukannya. Karena terlalu panik, Riko seketika menangis sejadi-jadinya, melihat darah yang semakin lama kian semakin deras mengucur dari kepala gadis yang ia cintai. Ia berinisiatif melepas bajunya, dan mengikatkan baju itu di kepala Dinda guna sebagai pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan.
Pak Ridwan selaku Kepala Sekolah disana, langsung menuju ke lokasi kejadian dengan terburu-buru karena mendengar teriakan serta tangisan Riko dan suara siswa siswi lain yang berada di sekitar kejadian. Guru-guru yang tadinya ada di lokasi kejadian pun langsung berusaha menghubungi pihak rumah sakit untuk mengirimkan satu unit ambulance segera. Saat menunggu ambulance di depan sekolah, untungnya ada sebuah mobil ambulance yang kebetulan lewat sana. Akhirnya Dinda segera mendapat pertolongan dan di rujuk ke rumah sakit terdekat.
Riko masih setia menemani Dinda di dalam mobil ambulance yang kini sedang melaju kencang sambil membunyikan serinenya, menandakan pasien yang sedang di bawa dalam keadaan darurat. Kali ini Riko juga di temani wali kelasnya yaitu Bu Adel, untuk ikut mengantarkan Dinda menuju ke rumah sakit.
Dinda masih terbaring lemah tak sadarkan diri di bed mobil ambulance itu, dan belum ada sama sekali tanda-tanda ia akan segera siuman.
__ADS_1
Riko yang masih tak mengenakan baju menggengam erat tangan Dinda yang tampak sudah mulai membiru karena mulai kekurangan darah, sambil menangis dan tak henti memanjatkan doa dalam hatinya agar Dinda selamat dan segera siuman. Untungnya Riko sempat berinisiatif melepaskan bajunya tadi untuk menghentikan pendarahan dengan cara mengikatkan bajunya di kepala Dinda. Setidaknya tindakan Riko itu telah menyelamatkan gadis yang ia cintai.
Bu Adel yang menyaksikan pemandangan itu, tak bisa berkata apa-apa. Selain sangat khawatir dengan keselamatan anak didiknya yaitu Dinda, ia juga merasakan perasaan cinta dan takut kehilangan Dinda dari Riko yang teramat besar. Ia pun berusaha menenangkan dan menghibur Riko, dengan mengatakan Dinda akan segera siuman dan bisa kembali menghabiskan waktu bersama dirinya lagi.
Sebenarnya Bu Adel disini sangat amat penasaran dengan kronologi kejadian yang hampir saja merenggut nyawa Dinda tadi pagi, tetapi ia harus bisa mengubur dalam-dalam rasa penasarannya itu, setidaknya hingga Dinda siuman.
"Kalau sampai Dinda kenapa-kenapa, awas ya kau Julian!! Aku tak akan memaafkanmu!! " Ucap Riko secara tiba-tiba dengan luapan emosinya. Bu Adel yang mendengar itu, kian kebingungan dan semakin penasaran dengan kronologisnya. "Apa hubungannya dengan Julian Riko? " Tanya Bu Adel dengan spontan, "Julian telah mendorong Dinda bu, hingga ia terjatuh dan kepalanya tepat mendarat pada pembatas besi tangga di sekolahan" Saut Riko yang masih menggenggam erat tangan Dinda. Mendengar keterangan Riko itu, Bu Adel pun percaya penuh di buatnya. Bu Adel benar-benar paham betul dengan karater semua anak didiknya, itulah salah satu kelebihannya sebagai seorang wali kelas.
Singkat cerita, mobil ambulance yang membawa Dinda sebagai pasien kini tiba di rumah sakit. Para perawat beserta satu orang dokter langsung menyambut dan meletakan tubuh Dinda di bed roda kemudian langsung membawanya ke UGD rumah sakit, guna untuk di tangani lebih lanjut. Riko dan Bu Adel pun berupaya mengikuti Dinda hingga ke dalam ruang UGD, tetapi langkah mereka terhalangi dokter yang tak membiarkan mereka ikut masuk, dan menyuruh mereka untuk menunggu di luar ruangan.
Riko tertunduk lesu di bangku tunggu yang tepat berada di depan ruangan di mana Dinda sedang di tangani, ia gelisah menunggu kabar terkait tentang keadaan Dinda dari dokter hingga beberapa kali mundar-mandir disana sambil menggigit jari tangannya. Kala itu, Bu Adel sedang keluar untuk membelikan Riko minuman dan baju.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, tiba-tiba Ibunya Dinda datang dan tanpa berbasa-basi langsung menampar Riko dengan teramat keras. Tamparan itu telak mengenai pipi kiri Riko yang kebetulan sedang mundar-mandir disana. "Dasar gak becus! Kenapa anak Ibu sampai celaka begini? Kamu bisa jagain dia gak? " Bentak Ibunya Dinda sambil menangis yang langsung menyalahkan Riko sebagai penyebab terjadinya insiden ini. Ia sama sekali tak memberikan kesempatan Riko untuk menjelaskan kronologisnya.
"Bu Dinda terjatuh hingga kepalanya berdarah dan tak sadarkan diri, karena di dorong Julian dari arah belakang" Ujar Riko yang berusaha menjelaslan situasinya sambil menangis. "Jangan mengada-ngada cerita! , paling semua ini karena keteledoranmu yang tak becus menjaga anak ibu! " Bentak Ibunya Dinda lagi, kali ini sambil berteriak. Bu Adel yang kebetulan sudah tak jauh dari lokasi Ibunya Dinda marah-marah terhadap Riko, segera berlari mengahampiri mereka. "Bu tenang dulu ini rumah sakit, nanti mengganggu pasien lain yang sedang beristirahat" Ucap Ibu Adel yang berupaya untuk menengahi situasi itu dan menenangkan Ibunya Dinda.
Ia pun memberikan minuman yang sebenarnya di beli tadi untuk Riko kepada Ibunya Dinda. "Tenang dulu ya bu, saya wali kelas Dinda dan Riko. Saya tahu betul karakter Riko sebagai anak didik saya, saya jamin Riko berkata jujur terhadap Ibu tadi" Ujar Bu Adel yang kali ini berupaya membela Riko, ia juga langsung memberikan baju yang tadi ia beli kepada Riko, dan menyuruhnya untuk mengenakan baju itu.
Ditengah situasi yang masih di selimuti kepanikan dan kecemasan itu, dokter pun keluar dari ruang UGD. "Gimana kondisi Dinda dok? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Riko langsung dengan kecemasannya menanti berita dari dokter terkait tentang kondisi terkini dari Dinda. Belum sempat dokter menginformasikan tentang Dinda kepada mereka semua, Ibunya Dinda tiba-tiba mendorong Riko dan menanyakan tentang Dinda lagi terhadap Dokter itu. "Bu tolong tenang! Ini rumah sakit! " Bentak dokter itu kepada Ibunya Dinda.
"Dinda saat ini masih dalam situasi kritis, ia koma dan belum sadarkan diri sampai sekarang. Untungnya luka di kepala Dinda di ikatkan baju sebelum ia di bawa ke rumah sakit ini, itulah hal yang telah menyelamatkan nyawanya" Ujar dokter itu. Dokter mengatakan Dinda saat ini sedang kekurangan banyak darah dan ia membutuhkan donor darah segera. Keadaan di persulit dengan fakta Dinda yang golongan darahnya terbilang langka yaitu O- dan di rumah sakit itu stok darah golongan itu jarang tersedia karena saking langkanya. Ibu Dinda yang mendengar penyataan dokter itu semakin panik hingga tangisnya semakin parah tak terkendali.
Bersambung...
__ADS_1