Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 45 'Rencana Tes DNA"


__ADS_3

"Tapi kan hal itu belum cukup untuk membuktikan bahwa Sinta ini putri kandungmu bu! Saya sebagai seorang Ibu yang telah merawat Sinta dari ia masih kecil, belum bisa menerima bukti itu semua, harus ada hal yang lebih kuat lagi untuk membuktikannya! " Ucap Bu Dian tiba-tiba dengan nada tinggi, sontak ucapannya itu memecah suasana haru yang kala itu tengah terjadi.


Bu Dian merasa tak rela, jika putri angkatnya yang dari dulu ia rawat dan asuh dengan penuh kasih sayang, layaknya anak kandungnya sendiri kini di klaim begitu saja sebagai anak seorang perempuan yang bahkan baru ia kenal.


"Pokoknya saya masih belum bisa menerima semua ini! Saya perlu bukti yang lebih kuat! " Imbuh Bu Dian lagi sambil menangis dan tiba-tiba berlari keluar dari ruangan itu. Ia berlari karena merasakan perasaannya hancur membayangkan putri angkatnya yaitu Sinta, yang selama ini telah mewarnai hari-harinya akan pergi meninggalkan dirinya dan suaminya.


Pak Roni yang melihat dan paham dengan perasaan istrinya yang begitu hancur, berinisiatif untuk mengikuti Bu Dian dan berusaha menenangkan perasaannya.


"Ma! Ma!" Panggil Pak Roni yang mengikuti Bu Dian berlari dari arah belakang.


Bu Dian pun menuju taman dari International Hospital itu, dan menangis tersedu-sedu di sana sambil memegangi dadanya dengan ke dua tangannya.


Pak Roni tanpa berbasa-basi bergegas memeluk tubuh Istrinya yang tengah bersedih itu. Ia berupaya menenangkan tangisan Bu Dian, walaupun sebenarnya perasaannya sendiri pun juga hancur berkeping-keping mengingat Sinta kini telah bertemu dengan keluarga kandungnya. Di benak Pak Roni terus membayangkan Sinta yang mungkin saja akan pergi dan tak mau tinggal dengan mereka lagi.


"Ma, sudahlah. Hapus air matamu dan tenangkan pikiranmu, kasian Sinta melihat kita yang seperti ini. Perasaan Sinta pasti akan ikut hancur dan ia pasti akan dilema mengambil keputusan setelah ini" Ucap Pak Roni sambil berupaya menghapus air mata istrinya kala itu yang terus saja berjatuhan.


"Bagaimana aku bisa tenang pa? Anak kita satu-satunya yang selama ini menjadi salah satu alasan utama aku untuk bersemangat melewati hari-hari kini akan meninggalkan kita karena ia telah menemukan keluarganya yang sebenarnya. Aku sama sekali tak sanggup menghadapi situasi ini, hatiku merasa hancur berkeping-keping" Saut Bu Dian dengan sangat emosionalnya.

__ADS_1


"Iya aku paham, aku pun juga merasakan hal yang sama. Aku sangat menyayangi Sinta, tapi di sisi lain, kita juga tak boleh egois, kita harus mendahulukan perasaan Sinta daripada perasaan kita sendiri. Lagipula Sinta telah berjanji akan tetap menganggap kita sebagai orang tuanya sampai kapan pun" Ujar Pak Roni sambil kembali memeluk erat tubuh istrinya yang kala itu mulai gemetaran, karena merasakan kesedihan yang teramat mendalam.


"Papa, mama!" Terdengar suara Sinta dari kejauhan, Bu Dian dan Pak Roni pun segera menoleh ke pusat suara itu, terlihat Sinta yang berupaya untuk mencari mereka berdua sambil tubuhnya di tutun Riko.


Melihat keberadaan putri angkatnya yang semakin mendekat, Pak Roni dan Bu Dian yang tak ingin terlihat bersedih di depan Sinta pun, berupaya untuk saling mengusap air matanya satu sama lain.


Setelah kondisi mereka berdua telah terlihat memungkinkan, mereka pun bergegas mendekati putri angkatnya itu.


"Ya ampun Sinta sayang, kamu kenapa keluar dari kamarmu seperti ini? Nanti masuk angin lo nak" Ucap Bu Dian sambil tersenyum lembut dan memegang wajah putri angkatnya itu.


"Aku keluar karena hendak mencari Mama dan Papa, kenapa kalian menghilang dari kamarku tadi? Aku khawatir tau" Saut Sinta sambil menantap ke arah kedua orang tua angkatnya itu.


"Oh jadi begitu, ya sudah sekarang ayo kita kembali ke kamarku lagi, situasinya lagi penuh haru dan kebahagiaan lo Ma, Pa. Masa Mama dan Papa ga ada di sana saat seperti ini?" Ucap Sinta yang berupaya membujuk kedua orang tua angkatnya, agar mau memasuki kamarnya lagi.


"Kamu duluan saja nak, nanti kami berdua akan segera menyusul. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan dan diskusikan berdua" Saut Papa angkatnya Sinta yaitu Pak Roni, yang berdalih ada hal penting yang perlu mereka bicarakan berdua.


"Membicarakan soal apa Pa? Kok terlihat sangat penting begitu? Sampai-sampai aku pun nampaknya di larang untung mengetahuinya" Tanya Sinta yang mulai penasaran dengan hal yang akan di bicarakan kedua orang tua angkatnya.

__ADS_1


"Kami hendak mendiskusikan soal pekerjaan nak. Iya, hal ini memang sangat penting untuk karier papa kedepannya, oleh sebab itu papa perlu mendiskusikannya dengan mamamu" Ujar Pak Roni dengan tatapan yang sangat serius kala itu.


"Bukan nak, bukannya kamu tak boleh mengetahuinya, tapi kami hanya tak ingin kamu jadi ikut kepikiran soal ini. Kan kamu sedang dalam tahap penyembuhan, jadi kami tak mau hal itu akan dapat menghambat fase penyembuhanmu" Imbuh Pak Roni lagi.


Riko yang sadar, ada hal yang sedang di sembunyikan oleh kedua orang tua angkat Sinta itu berpura-pura seakaan mempercayai ucapan mereka, dan tak menaruh rasa curiga sedikitpun. Riko juga berupaya meyakini Sinta agar mau meninggal kedua orang tua angkatnya disana dan kembali ke kamarnya bersama Riko.


Sinta yang masih lugu pun mau untuk kembali ke kamar rawatnya bersama Riko, tanpa menaruh curiga sedikit pun dengan apa yang sedang coba di sembunyikan kedua orang tua angkatnya.


"Pa, aku terpikirkan sesutu" Ucap Bu Dian terhadap suaminya ketika Sinta dan Riko telah pergi dari hadapan mereka berdua.


"Apa itu ma?" Tanya Pak Roni dengan penuh rasa penasaran.


"Bagaimana kita suruh Sinta untuk tes DNA saja? Bukannya aku tak ingin putri kita berbahagia karena telah menemukan keluarga kandungnya. Tap hal itu aku rasa perlu sebagai bukti yang lebih kuat. Gimana menurutmu pa?" Ujar Bu Dian.


"Boleh juga idemu ma, tapi aku takut nanti Sinta malah salah paham terhadap idemu ini. Usianya kan masih labil, aku takut ia nanti punya pikiran kalau kita tak mau ia bertemu dan kembali dengan keluarga kandungnya" Saut Pak Roni sambil mempertimbangkan ide istrinya kala itu.


"Iya juga sih pa, ada benarnya apa yang baru saja kamu katakan. Tapi aku sebagai Ibu yang telah merawatnya dengan penuh kasih sayang sejak ia kecil, tak akan bisa rela jika Sinta ikut bersama Ibu itu sebelum mendapatkan bukti yang lebih kuat" Saut Bu Dian yang mencurahkan isi hatinya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, kita coba membicarakan hal ini dulu secara pelan-pelan dengan Sinta. Semoga saja ia dapat mengerti dengan tujuan kita dan tak salah paham" Saut Pak Roni menyetujui usul istrinya itu.


Bersambung...


__ADS_2