Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 36 'Kekompakan Ibu Riko dan Sinta'


__ADS_3

Setelah urusan dengan si petugas rumah sakit itu usai, Riko menutup pintu kamar Sinta dan bergegas kembali menemui Sinta.


"Wahh ada makanan, horee Kak Riko akhinya bisa makan. Suara perutnya yang sedari tadi berisik dan menggangguku itu akhirnya akan segera hilang, bisa tidur nyenyak deh, yey!!" Ledek Sinta menyambut Riko yang bahkan belum sempat duduk kala itu dengan penuh semangat.


"Apaan sih dik? Kamu mau?" Tanya Riko singkat sembari tertawa tipis menanggapi tingkah konyol Sinta, dan mulai untuk duduk di sofa kamar itu.


"Ya enggak lah Kak Riko, nanti kalau aku gemuk karena makan jam segini gimana? Kak Riko mau tanggung jawab?" Saut Sinta dengan ekspresi yang masih dipenuhi semangat.


"Ya udah, kalau begitu kamu tidur gih sana, udah pagi lo. Serahkan semua makanan ini kepada ku, aku akan menghabisinya! " Ujar Riko sambil menepuk-nepuk perutnya.


Sinta tertawa melihat bahasa tubuh Riko yang teramat konyol itu. Karena pikirannya telah jauh lebih tenang melihat Riko akhirnya sudah mendapati makanannya, Sinta pun mulai mencoba memejamkan kedua mata indahnya.


"Siap Kak Riko, aku percayakan makanan itu kepada Kak Riko. Aku tidur ya, bye" Saut Sinta sambil menguap.


Beberapa menit berlalu, makanan yang banyak tadi akhirnya ludes di santap Riko semuanya. Sinta juga telah tertidur lelap di tempat tidurnya.


Riko berdiri, dan membersihkan semua kotak makanan yang barusan saja ia santap, kemudian ia berinisiatif menyelimuti tubuh Sinta agar Sinta tak merasa kedinginan. Ketika mencoba untuk menyelimuti tubuh Sinta dengan selimut tipis yang ada di sana, perhatian Riko tiba-tiba teralihkan dengan wajah Sinta yang terlihat sedikit sama dengan wajahnya ketika Sinta tertidur lelap.


"Kalau di perhatikan lagi, kenapa wajah gadis ini bisa begitu mirip denganku? Apakah ia jodohku? Lalu bagaimana dengan Dinda?" Ucap Riko dalam hati penuh tanya, sambil bengong menatap ke arah Sinta.


"Jodohmu itu Dinda Riko, tolong jangan sampai kamu mencintai gadis lain lagi selain Dinda. Apalagi kamu sampai mencintai dua gadis di waktu yang bersamaan. Semua itu hanya akan memperkeruh suasana, dan membawa penderitaan" Imbuh Riko lagi dalam hati, yang kala itu berbicara terhadap dirinya sendiri.


Karena tak mau semunya menjadi rumit dan tambah ngawur, Riko bergegas untuk menyelimuti tubuh Sinta dan berniat kembali ke sofanya untuk beristirahat.

__ADS_1


Akan tetapi, tiba-tiba Sinta mengigau dan memegang erat salah satu tangan Riko yang baru saja menyelimuti tubuhnya.


"Jangan tinggalin aku, jangan tinggalin aku" Ucap Sinta terbata-bata, sambil meneteskan air mata.


Melihat adegan itu, Riko menghela nafas panjang kemudian meraih tempat duduk yang berada di dekatnya kala itu dan duduk tepat di samping tempat tidur Sinta. Riko sebenarnya ingin membangunkan Sinta, tetapi ia mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk beristirahat pada kursi di sebelah Sinta, sambil salah satu tangannya yang masih di pegang erat oleh Sinta.


Riko yang akhirnya ketiduran di kursi itu baru membuka matanya ketika waktu menunjukan pukul 9 pagi, kala itu sinar matahari menembus ventilasi udara di kamar Sinta, dan langsung mengarah ke wajah Riko hingga pandangannya silau.


RIko yang baru saja terbangun, di kagetkan dengan menghilangnya Sinta dari atas kasurnya. Belum sempat ia mengumpulkan nyawanya untuk sekedae mencuci muka, ia langsung berusaha mencari keberadaan Sinta, ia sangat khawatir kala itu.


Riko mulai mencarinya dari toilet kamar Sinta, hingga hampir ke seluruh bagian Internasional Hospital itu. Tapi orang yang berusaha ia cari, tak kunjung ia temukan, bahkan Riko telah mencoba bertanya kepada seluruh pegawai rumah sakit yang ia temui, akan tetapi hasilnya tetap saja nihil.


Saat masih sibuk mencari keberadaan Sinta, tiba-tiba ponsel Riko berbunyi karena di hubungi Ibunya.


"Riko kamu dimana?" Tanya Ibu Riko singkat mengawali percakalan via telepon kala itu.


"Di sebelah mananya? Ibu juga sedang di rumah sakit tempat Dinda dan Sinta di rawat nih" Tanya Ibunya lagi.


Mengetahui Ibunya saat itu sedang berada di tempat yang sama dengannya, Riko mau tak mau harus jujur dan mengatakan tentang hilangnya Sinta secara tiba-tiba dari atas tempat tidurnya pagi tadi.


"Aku di kantin rumah sakit, tengah mencari keberadaan Sinta nih bu, ia tiba-tiba hilang saat aku terbangun dari tidurku tadi" Ujar Riko yang masih mengkhawatirkan keadaan Sinta kala itu.


"Hah? Hilang? Kata siapa? Ini Sinta sedang di kamarnya dengan Ibu" Saut Ibu Riko sembari tertawa ringan.

__ADS_1


Riko sedikit lega mendengar pernyataan Ibunya, dan ia pun langsung mengakhiri percakapan via telepon kala itu, kemudian tanpa berpikir panjang langsung bergegas kembali ke kamarnya Sinta.


Setibanya di depan pintu kamar Sinta, Riko dengan sangat bersemangat langsung membuka pintunya dan masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu itu terlebih dahulu, pasalnya Riko merasa lega hingga sangat bersemangat setelah mengetahui Sinta kini baik-baik saja dan sedang berada di dalam kamarnya bersama Ibunya.


"Akhirnya anak Ibu yang paling ganteng tiba juga" Ucap Ibu Riko singkat menyambut kedatangan anaknya itu sambil tersenyum ramah.


"Ibu apaan sih, malu tau" Saut Riko singkat yang wajahnya mulai memerah karena merasa malu dengan Sinta yang sedari tadi menatapinya sambil tersenyum manis.


"Ya ampun, kenapa mesti malu? Kamu malu dengan Ibu atau dengan Sinta?" Tanya Ibu Riko yang kala itu mencoba untuk menggoda dirinya.


"Bu udah lah, jangan di lanjutin lagi" Saut Riko yang wajahnya semakin memerah.


"Cie Kak Riko kayaknya malu sama aku nih" Ucap Sinta yang mencoba ikut untuk menggoda Riko.


"Sinta, jangan mulai deh" Saut Riko singkat sambil tertawa ringan sembari salah satu tangannya memegang bagian belakang kepalanya.


"Haha abisnya Kak Riko lucu sih ekspresinya, awas lo Kak nanti bisa sayang sama aku" Ucap Sinta lagi sambil menatap ke arah Riko dengan tatapan menggoda.


"Ibu dan Sinta kenapa bisa kompak gini sih ngegodain aku? Kalian sudah lama saling mengenal satu sama lain ya?" Tanya Riko penasaran, karena heran melihat Ibunya bisa sangat kompak dalam waktu yang singkat dengan Sinta.


"Hahaha enggak kok Riko, Ibu baru saja mengenal Sinta kurang lebih satu jam yang lalu" Saut Ibunya singkat.


"Ibu tak sedang mencoba berbohong dan mengerjaiku kan?" Tanya Riko kembali kala itu dengan penuh kecurigaan terhadap Ibunya.

__ADS_1


Merespon kecurigaan anaknya kala itu, Ibu Riko malah hanya tertawa riang sambil menutupi mulutnya. Hal itu sontak semakin menambah kecurigaan Riko terhadap Ibunya.


Bersambung...


__ADS_2