
Riko sama sekali tak fokus dengan apa yang baru saja di katakan Sinta, karena kala itu ia sedang memikirkan apa maksud perasaan nyaman yang tengah ia rasakan? Mengapa pelukan Sinta terasa begitu sama persis dengan pelukan Dinda?
Kala itu perasaan cemas dan khawatir secara tiba-tiba bermunculan di hatinya Riko, ia merasa takut kalau sampai ia akan mencitai Sinta sama seperti ia mencintai Dinda selama ini. Karena ia paham jika hal itu sampai terjadi, semuanya akan menjadi semakin rumit. Pasti akan ada hati yang tersakiti, dan Riko sama sekali tak ingin hal itu terjadi.
"Kak Riko! Kak! " Bentak Sinta yang berupaya melepas pelukan hangatnya terhadap Riko.
Sinta kala itu telah berprasangka buruk terhadap Riko, pasalnya Riko terlihat seperti sangat menikmati pelukannya hingga ia sama sekali tak merespon apa yang Sinta katakan sebelumnya, di tambah lagi Riko seperti enggan melepaskan tubuh Sinta ketika Sinta berupaya melespas pelukan itu.
"Eh iya dik, maaf" Saut Riko yang baru tersadar dari lamunannya dan melepaskan tubuh Sinta yang sedari tadi ia peluk erat.
"Kak Riko mencari-cari kesempatan ya? Kenapa terlihat begitu menikmati pelukanku, hingga enggan melepasnya? " Tanya Sinta penuh kecurigaan terhadap Riko kala itu.
"Eeh maaf dik maaf, jangan berprasangka buruk begitu terhadapku. Aku sama sekali tak punya pemikiran yang tidak-tidak denganmu, apalagi sampai mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tolong jangan salah paham" Ujar Riko yang berusaha menghindari kecurigaan Sinta.
"Terus kenapa Kak Riko tak mau melepaskan tubuhku tadi? Kak Riko gak membayangkan yang tidak-tidak kan?" Tanya Sinta yang belum mempercayai penjelasan Riko tadi.
"Ya ampun, demi Tuhan dik. Aku sama sekali tak memikirkan hal yang tidak-tidak tadi. Jujur aku memang merasa nyaman saat kamu peluk tadi, dan tiba-tiba aku terpikirkan sesuatu hingga aku melamun" Imbuh Riko lagi.
"Terpikirkan sesuatu? Gak terpikirkan hal-hal jorok kan Kak?" Tanya lagi yang berusaha mempercayai omongan Riko. Walaupun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Sinta tak mempercayai Riko sepenuhnya.
"Enggak lah dik, sejak kecil aku selalu di didik untuk menjadi pribadi lelaki yang sangat menghargai wanita oleh almarhum Ayahku, jadi tak mungkin aku punya niatan buruk terhadapmu, apalagi sampai melakukan tindak pelecehan. Itu hal yang sungguh tak mungkin" Ujar Riko yang kembali berusaha meyakinkan Sinta untuk tidak berprasangka buruk terhadapnya lagi.
"Iya deh iya Kak Riko, aku mempercayai mu. Aku juga mohon maaf kalau tadi sempat berprasangka buruk terhadapmu. Abisnya tingkahmu tadi sedikit mencurigakan sih" Ucap Sinta yang mulai mempercayai Riko.
__ADS_1
Setelah terjadi sedikit drama di antara Riko dan Sinta kala itu, waktu pun tak terasa telah menunjukan pukup 1 lewat 15 menit dinihari.
"Tok tok tok" Tiba2 suara ketokan pintu kamar itu memutus obrolan Riko dan Sinta.
"Siapa itu Kak Riko?" Tanya Sinta yang kala itu tiba2 melompat dari tempat tidurnya ke arah badan Riko lagi, seketika Riko refleks dan menangkap tubuh Sinta kemudian secara tak sengaja memeluknya lagi.
"Kak Riko! Kak Riko mengambil kesempatan dalam kesempitan ya?" Bentak Sinta yang kembali menyalahkan Riko kala itu.
"Ya ampun, kan kamu sendiri yang melompat ke arah badanku barusan dik. Ya aku refleks lah menangkap dan memeluk tubuhmu lagi, tolong lah jangan mencurigai aku seperti itu" Saut Riko yang langsung melepaskan pelukannya.
"Tok tok tok" Suara ketokan pintu itu kian terdengar keras dan semakin kencang, membuat Sinta yang tengah parno saat itu, semakin merasa ketakutan.
Riko berupaya mendekati dan membuka pintu itu dengan santainya, akan tetapi Sinta meraih tangan Riko dan menghalangi tindakan Riko karena saking ketakutannya.
"Kak Riko jangan buka pintunya, aku takut. Serem tau di rumah sakit jam segini" Ucap Sinta yang masih ketakutan sembari menggigit jari tangannya.
"Tenang saja dik, kan ada aku di sini. Biar aku saja yang membuka pintunya, kamu diam di tempat tidur saja gih sana" Ucap Riko yang berupaya menenangkan Sinta.
"Ga mau kak, aku takut. Aku ikut" Saut Sinta lagi kala itu sambil bergelantungan di tangan kiri Riko.
"Ya sudah kalau itu mau mu dik" Saut Riko singkat sembari mulai melangkahkan kakinya menuju pintu guna untuk membukanya.
Pintu itu di buka Riko tanpa perasaan ragu sedikit pun di dalam hatinya.
__ADS_1
Ternyata yang sedari tadi berulang kali mengetuk pintu kamar itu adalah petugas rumah sakit yang shift malam. Sambil terlihat sekantong makanan yang di genggam salah satu tangannya. Sinta pun seketika melepas tangan Riko yang tadinya ia gelantungi dengan kuat sembari melempar senyum tipis ke arah si petugas dan kemudian bergegas kembali ke tempat tidurnya, meninggalkan Riko dan si petugas itu di sana.
"Selamat Pagi dik"
Sapa petugas itu setelah Riko dan Sinta membukakan pintu untuknya.
"Oh pagi pak" Saut Riko singkat. Melihat sekantung makanan yang tengah petugas rumah sakit itu genggam di salah satu tangannya, Riko baru teringat dengan ucapan Ibunya tadi via telepon, yang mengatakan akan memesan makanan online untuk dirinya dan juga Sinta.
"Mau mengantar makanan ya pak?" Tanya Riko singkat.
"Oh iya dik, ini saya mengantar makanan untuk pasien atas nama Sinta dari Ibunya" Saut Si petugas rumah sakit itu sembari tersenyum ramah dan memberi sekantong makanan itu kepada Riko.
"Terimakasih banyak pak, ini sudah di bayar kan ya?" Riko mengucapkan terimakasih sembari tersenyum ramah dan di lanjutkan sebuah pertanyaan darinya..
"Oh sudah di bayar kok dik. Oh iya maaf sebelumnya kalau pertanyaan saya ini agak lancang, adik siapanya pasien ya? Orang tuanya yang biasa menjaga ia di sini kemana?" Tanya Si petugas itu dengan penuh rasa penasaran.
"Iya pak santai aja, Saya ini Kakak kandungnya pasien. Dan orang tua kami sekarang ini tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masig-masing, makanya saya yang di tugaskan untuk menjaga adik saya kali ini" Ujar Riko kala itu yang terpaksa berbohong, karena ia takut dirinya dan Sinta akan masuk ke sebuah masalah baru jika ia menjawab pertanyaan petugas itu dengan jujur.
Mendengar penjelasan Riko tadi, si petugas rumah sakit terdiam sejenak sebelum meresponnya. Selang beberapa saat akhirnya si petugas itu pergi karena telah mempercayai apa yang barusan Riko katakan.
Hal yang kala itu meyakini si petugas rumah sakit untuk mempercayai apa yang Riko katakan adalah, Wajah Riko dan Sinta yang terlihat sedikit ada kemiripan baginya.
Bersambung...
__ADS_1