Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 6 'Dinda Si Pemeran Utama Wanita'


__ADS_3

Sesampainya di kelas, Riko langsung menemui Dinda bermaksud untuk menyampaikan terimakasih yang belum sempat ia sampaikan sebelummya, meresepon ucapan terimakasih Riko itu Dinda hanya tersenyum manis dan berkata "sama-sama Riko". Lagi dan lagi Riko yang melihat itu, dibuat takjub oleh senyum manisnya Dinda untuk yang kesekian kalinya, "yaampun indah sekali senyuman gadis ini" Ucap Riko dalam hati. Melihat Riko yang dibuat bengong oleh senyuman Dinda, Adit tiba-tiba menghampiri mereka sembari meledek dan berkata "Ciee Riko,Nah gitu dong kalian akur, biar kemistrinya lebih dapat".


"Kemistri buat apa ya dit?" tanya Dinda yang penasaran dengan maksudnya Adit, "kemistri buat tugas film kita lah Din, kan nanti kamu yang jadi pemeran utama wanitanya, semua juga udah pada setuju kok" Jawab Adit sembari menatap Riko dengan tatapan meledek. "Lah kok jadi aku yang jadi pemeran utama wanitanya? Kan waktu itu aku bilang gak mau" Protes Dinda sambil mengrenyitkan alisnya. "Lagian kenapa sih kamu gak mau jadi partnerku sebagai pemeran utama din?" tanya Riko sekedar basa basi, padahal ia tahu Dinda tak mau karena ingin menghindarinya. "Yaa ga mau aja, emang ga mau harus ada alasannya kenapa?" Saut Dinda, "ya harus ada alasannya lah din. Lagian daripda Lia dan Luna rebutan jadi partner Riko, mending kamu aja yang ga mau, kan adil". Imbuh Adit, " Tapi kan.." Ucap Dinda yang belum selesai berbicara untuk mengajukan protes,


"Udahlah ga ada tapi-tapian, demi kelancaran tugas ini kita harus mengkesampingkan ego masing-masing" Sambar Riko yang memotong protes Dinda.


Seketika tatapan Dinda sinis ke Riko, ia merasa Riko punya tujuan terselubung di balik semua ini "ah paling ini akal-akalan dia saja" ucapnya dalam hati. "Hi guys, Sorry ya aku terlambat, tadi kesiangan" Sapa Luna yang baru datang pagi itu, "santai aja Lun" jawab Adit. "Lagi pada ngomongin apa? Oh iya nanti sepulang sekolah kita mulai project filmnya yuk" Ajak Luna, "ok mau dimana? " tanya Adit ke yang lainnya. "Di warung sate langgananku aja yuk, aku traktir deh, soalnya hari ini aku lagi senang" Ucap Riko sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ciee seneng kenapa tuh? Pasti ada hubungannya sma Dinda ya? " Tanya Adit lagi melanjutkan aksinya untuk meledek Riko sembari melirik Dinda dengan tatapan manja. "Ah tau aja kamu dit" Saut Riko yang tersipu malu. "Ihh Riko, jangan mulai deh!!" Bentak Dinda yang wajahnya seketika memerah karena ulah Riko dan Adit. Luna dan Lia melihat pemandangan itu dengan perasaan iri dan cemburu, tetapi mereka berusaha menyembunyikan hal itu dari Riko, dan hanya memendamnya dalam hati.


Singkat cerita, mereka semua pun sepakat akan mengerjakan project film pendeknya di warung sate langganan Riko. "Oh iya alamat warung satenya dimana ya Riko? " Tanya Luna penasaran, "alamatnya di jalan pantai indah, tepat di sebrang mall Lun" jawab Riko berusaha menjelaskan alamatnya.


"Jemput aku ya Riko, aku gak tau alamat yang kamu maksud. Daripada aku nyasar nanti" Ucap Luna yang ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. "Ga usah, nanti bareng aku aja Lun, aku jemput kerumahmu" Saut Lia yang menghalangi niatan Luna. Mau tak mau Luna yang tak ingin terlihat keras kepala di mata Riko, hanya bisa pasrah dan mengiyakan ajakan Lia itu.


Setibanya di parkiran warung, ternyata si gadis manis alias Dinda juga baru tiba disana dan yang mengejutkan, pakaian yang Dinda kenakan hampir sama dengan pakaian Riko baik dari segi warna maupun motifnya.

__ADS_1


"Cie samaan lo kita" Ucap Riko coba menggoda Dinda, "iihh kok bisa sih? Kamu mata-matain aku ya?" tuduh Dinda yang tersipu malu hingga wajahnya memerah seketika. "Lah gimana caranya aku ngemata-matain kamu? Rumahmu aja aku gak tau" Jawab Riko sambil tertawa bahagia. "Yaudh aku mau pulang dulu ganti baju, malu aku samaan gini sama kamu" Ucap Dinda yang langsung mencoba menghentikan taxi lewat. "Jangan pulang lagi! , kasian yang lain nunggu kita lama didalam" Riko mencoba menghentikan Dinda, sambil memegang tangannya. "Riko, Dinda sini masuk! " tiba-tiba terdengar suara Adit dari dalam warung, ia juga melambai-lambaikan tangannya yang mengisyaratkan ajakan masuk kepada mereka berdua.


"Iya deh, tapi aku ga mau kita barengan masuk kesana, aku duluan!" Ucap Dinda menghempaskan tangan Riko yang menggenggam tangannya. Riko pun setuju dengan Dinda dan menunggu beberapa saat sebelum masuk ke warung sate itu.


"Ehh Riko, kok bisa samaan gitu bajumu sama Dinda? Kalian janjian ya? " tanya Lia menyambut Riko yang baru datang sembari memegang dadanya seolah menunjukan gesture sakit hati. "Gak janjian kok, cuman kebetulan aja" Jawab Riko sambil tertawa malu, "ciiee kayaknya kalian ga perlu susah payah membangun kemistri deh, secara kalian udah kompak gini" Ucap Adit yang kembali meledek mereka berdua. "Apaan sih dit? Jangan mulai deh, Riko kan udah bilang ini hanya kebetulan" Saut Luna yang juga cemburu melihat mereka berdua. "Udah-udah mending kita langsung pesan sate aja dan mulai berdiskusi untuk skenario film kita" Ucap Riko. "Ide bagus tuh, aku sudah mulai lapar juga nih" Saut Adit sambil menepuk-nepuk perutnya yang buncit.


Tidak berlangsung lama, sate yang mereka pesan pun tiba. Riko dan teman-temannya menyantap sate itu dengan lahap, sembari mendiskusikan tentang sinopsis dan skenario film yang akan mereka garap nanti. "wahh enak sekali sate disini Riko, aku boleh nambah seporsi atau dua porsi lagi gak nih?" tanya Adit sambil kegirangan. "busetdah kamu lapar atau doyan dit? boleh kok boleh, silahkan" saut Riko sambil menepuk pundak Adit. "wahh kamu baik sekali Riko, kalau aku bungkus buat keluargaku dirumah boleh juga gak? " tanya Adit lagi. "boleh dit, boleh banget. Tenang saja, kali ini aku yang traktir" jawab Riko singkat. Melihat tingkah Adit yang lucu dan tak tau malu, yang lain pun tertawa geli.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2