
Diperjalanan pulang ketika posisinya sudah lumayan jauh dari sekolah, Dinda baru berani memeluk badan Riko untuk berpegangan. Riko sebenarnya paham mengapa Dinda betingkah seperti itu, tapi kali ini ia ingin mendengar langsung dari mulut si gadis manis tentang apa sebenarnya yang terjadi hingga membuatnya menangis dan ketakutan seperti tadi. Akhirnya Dinda pun menceritakan semuanya tanpa terkecuali.
Tapi yang aneh di sini, Dinda juga tak mengenali kakak-kakak kelas yang melabrak dan mengancamnya tadi.
Beberapa menit berlalu hingga mereka berdua tiba dirumah Dinda, mereka disambut dengan senyum ramah Ibunya Dinda sembari berkata "yang di tunggu-tunggu akhirnya pulang juga. Sini ikut makan siang dengan kami nak Riko, Ibu sudah masak banyak nih" Dinda pun dengan bersemangat menarik tangan Riko dan mengajaknya ke ruang makan. "Wahh keliatannya enak nih" Ucap Riko spontan melihat banyak makanan yang tertata rapi dan terlihat sangat menggoda di atas meja makan keluarga Dinda. "Pasti enaklah, masakan mama gak kalah enak lo sama masakan Ibumu" Ujar Dinda yang segera mempersilahkan Riko untuk menyantap hidangannya.
"Emang Dinda pernah menyicipi masakan Ibunya Riko? " Tanya Ibunya Dinda penasaran. "Pernah ma, tadi di sekolah Riko bawa bekal dari Ibunya. Katanya sih spesial buat aku sama Riko" Saut Dinda sambil menyantap makanan yang ada di depannya. "Wahh, Ibu juga pengen dong nyobain sekali-kali masakan Ibumu Riko" Ucap Ibu Dinda terhadap Riko sambil tersenyum girang. "Iya kapan kapan ya bu" Saut Riko yang membalas itu juga dengan senyuman riang.
Selesai makan, Riko sebenarnya ingin mengajak Dinda ke suatu tempat, namun tiba-tiba lidahnya gugup seolah tak mau bergerak untuk meminta izin ke Ibunya Dinda. Gelagat Riko yang agak aneh seperti terpikirkan sesuatu, memancing tanya Ibunya Dinda. "Nak Riko kenapa? Masakan Ibu gak enak ya? " Tanyanya penasaran. "Eh bukan bu, masakan Ibu enak banget kok. Hmm bu, kalo aku mau ngajak Dinda ke suatu tempat setelah ini, boleh gak? Tanya Riko sambil memejamkan mata seolah mencerminkan keraguan dalam hatinya. "Boleh kok, tapi sebelum jam 7 malam kalian harus sudah pulang ya" Ucap Ibunya Dinda dengan lembut sembari tersenyum. "Terimakasih banyak bu" Saut Riko.
Setelah Dinda mandi dan bersiap-siap, mereka pun menuju ke suatu tempat yang di katakan Riko tadi. "Ini dimana Riko? Kok ada banyak orang?" Tanya Dinda penuh penasatan setelah tiba di tempat yang dimaksud Riko. "Ini Rumahku Din, iya mereka semua murid-muridku" Ucap Riko yang semakin membuat Dinda kebingungan. "Murid??" Tanya Dinda lagi, "yaudah kamu masuk dulu sini, nanti juga kamu paham sendiri" Riko menarik dan mengajak Dinda untuk masuk ke dalam rumahnya, melawati segerombolan orang-orang tadi. Yang mengagetkan Dinda, semua orang disana membungkuk menunjukan gesture hormat seketika, ketika Riko dan Dinda melewati mereka.
__ADS_1
"Wahh siapa ini? Cantik sekali" Sambut Ibunya Riko dengan ramah. "Selamat siang tante, aku Dinda teman sekelasnya Riko" Saut Dinda dengan senyum manisnya. "Teman sekelas apa pacar? " Sontak pertanyaan Ibunya Riko itu membuat mereka berdua salah tingkah. "Ga usah malu-malu begitu, sini ikut tante" Ibunya Riko menarik tangan Dinda dengan lembut dan mengajaknya duduk di teras rumah yang langsung mengarah ke halaman tempat banyak orang tadi. Selang beberapa lama, seorang pembantu rumah tangga disana datang dan menyajikan Dinda coklat hangat serta beberapa cemilan.
"Yaudah kamu ngobrol-ngobrol dulu ya sama Ibu Din, aku mau siap-siap dulu". Ucap Riko sebelum menuju ke kamarnya.
Selang beberapa menit, Riko pun keluar rumah dan langsung menuju ke halaman bergabung dengan banyak orang tadi.
Dinda dan Ibunya Riko berbincang-bincang tentang banyak hal, salah satunya tentang kemampuan bela diri Riko yang sangat mengagumkan. Ibu Riko menjelaskan sedari kecil ketika umur Riko masih 4 tahun, ia sudah menyukai olahraga bela diri hingga bisa jadi seperti sekarang ini. Dari obrolan itu, Dinda paham apa yang di maksud Riko 'murid' tadi.
Lebih lanjut, Ibu Riko menjelaskan Riko adalah anak yang sangat mandiri. Biaya sekolahnya di dapat dari hasil ia melatih bela diri seperti sekarang ini. Sebenarnya ia sama sekali tak mematok harga untuk para murid-muridnya alias gratis, namun sebagian besar dari mereka bersikeras memberi Riko uang sebagai upah jasa Riko.
Beberapa saat berlalu, Riko mengundang Dinda ikut bergabung bersama murid-muridnya untuk berlatih bela diri. Semuanya pun menyambut Dinda dengan hangat. Selain berlatih untuk menjada diri, Dinda juga mendapat banyak teman baru disana.
__ADS_1
Saat itu Dinda belajar hal-hal dasar untuk melindungi diri, disaat murid-murid Riko yang lainnya melanjutkan latihan mereka.
Riko menjelaskan serta menegaskan terhadap Dinda, tehnik dasar itu tak kan ada artinya kalau tidak dibarengi dengan latihan mental dan pengendalian emosi. Mental yang kuat serta pengendalian emosi adalah salah satu faktor terpenting dalam hal melindungi diri. Riko menjelaslan lebih lanjut ketenangan adalah kunci dari mental yang kuat dan emosi yang terkendali itu.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, Riko pun menghentikan latihan hari ini dan membubarkan murid-muridnya. Benar saja apa yang diceritakan Ibu Riko tadi, setelah mereka semua di bubarkan sebagian besar orang disana bersikeras membayar jasa Riko, walaupun Riko menolaknya. Nominal yang di bayar mereka terhadap Riko pun terbilang cukup banyak untuk ukuran sekedar latihan bela diri, pasalnya mayoritas murid-murid Riko adalah orang kaya.
Waktu menunjukan pukul 18.15 yang artinya Riko harus segera mengantar Dinda pulang, ia mengambil helm dan langsung berpamitan kepada Ibu Riko lalu bergegas mengantar Dinda pulang. Baginya, sebagai seorang lelaki sejati omongannya harus bisa dipegang. Sebelumnya ia janji dengan Ibunya Dinda untuk tiba dirumah Dinda sebelum jam 7 malam. Itu lah salah satu hal yang menjadi daya tariknya Riko, ia selalu menepati janjinya dan memegang teguh setiap perkataaannya.
Ditengah perjalanan, Riko menanyakan perasaan Dinda setelah pertama kali ikut latihan bela diri dengannya. "Aku seneng banget hari ini Riko, selain aku jadi sedikit paham dasar-dasar ilmu bela diri yang kamu ajarkan tadi, aku juga dapat pengalaman baru yang seru". Saut Dinda yang semakin mengeratkan pelukannya di badan Riko. "Kamu kenapa meluk aku makin erat gini? Udah mulai suka ya? " Tanya Riko kembali, kali ini sambil mencoba merayu Dinda. "Sok tau" Ucap Dinda singkat menjawab pertanyaan Riko.
Bersambung...
__ADS_1