Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 8 'Kecemasan Riko'


__ADS_3

Keesokan harinya, Riko berinisiatif datang lebih awal ke sekolah dan menunggu Dinda di depan gerbang sekolah. Ia masih khawatir dengan kondisi terkini si gadis yang ia cintai itu, oleh karenanya ia ingin memastikan kondisi Dinda sendiri. Akan tetapi gadis yang ia tunggu tak kunjung terlihat batang hudungnya, Riko semakin cemas dibuatnya.


Riko takut, sopir taksi yang kemarin sempat berbuat tak senonoh terhadap Dinda di dalam mobilnya. Sebenarnya ia ingin menanyakan keadaan Dinda selama ia berada di dalam mobil kemarin, tapi dikarenakan kondisi yang ia rasa kurang kondusif, akhirnya Riko mengurungkan niatnya.


Ringg!!! Ringg!!! Ringg!!!


Bel sekolah tanda jam pelajaran dimulai pun berbunyi, mau tak mau Riko harus mengakhiri penantiannya di depan gerbang sekolah dan langsung masuk ke kelasnya. Sesampainya di kelas belum sempat duduk dan menaruh tasnya di meja, tiba-tiba Bu Adel pun masuk ke kelas.


"Selamat pagi murid-murid! " Sapa Bu Adel, "Selamat pagi Bu" Saut seluruh siswa dengan kompak. "Hari ini ada 2 hal yang Ibu mau sampaikan, yang pertama Guru bahasa inggris kalian, Mr. Brian tidak bisa mengajar seperti biasa karena beliau sedang sakit, jadi beliau menitipkan Ibu tugas untuk kalian semua. Tolong kerjakan soal pada buku halaman 10-15 dan di kumpul ke ketua kelas kalian. Kemudian yang ke dua, hari ini salah satu teman kalian yaitu Dinda juga tidak bisa hadir karena sakit". "Iya bu" Saut semuanya singkat. "Kalian jaga kondisi ya, cuaca belakangan ini cukup ekstrim jadi banyak orang yang sakit" Imbuh Bu Adel lagi sebelum meninggalkan kelas itu.

__ADS_1


"Aku harap Dinda baik-baik saja, semoga kondisi mentalnya tak terganggu dan trauma yang di alaminya akan segera hilang" Doa Riko dalam hati. Riko tak bisa fokus menyelesaikan tugas bahasa inggris dari Mr. Brian yang harus ia kerjakan dan kumpul segera, ia terus-terusan melamun karena cemas dengan keadaan Dinda.


Jam istirahat pun tiba, tapi tugas bahasa inggris Riko belum juga selsai. Ia seolah tak peduli dengan nilai dari tugas bahasa inggrisnya itu. Pokoknya hal terpenting baginya sekarang adalah informasi terkait kondisi Dinda. Disaat Riko melamun dan terlihat sangat pusing dengan apa yang ia pikirkan, Adit dan teman sekelompok Riko yang lain mendatangi meja Riko untuk menanyakan keadaan Dinda.


Mereka bertanya apakah Dinda sakit gara-gara boncengan kemaren malam saat hujan lebat turun dengan Riko atau hanya sebatas karena kelelahan semata, pasalnya kemarin Dinda terlihat lesu dan sedikit gelisah saat ia mengusulkan untuk melanjutkan tugas filmnya lain waktu. Demi merahasiakan insiden kemarin malam dan menjaga perasaan Dinda, Riko pun mengiyakan saja pertanyaan mereka dan berkata Dinda sakit karena ulahnya yang membonceng Dinda saat hujan lebat turun.


Ia berulang kali mencoba menghubungi Dinda melalui telepon, tetapi panggilannya via telepon itu tak kunjung mendapat jawaban. "Duhh Dinda ayolah, jangan siksa aku dengan kecemasan yang berlebih seperti ini. Tolong angkat teleponku dan katakan padaku bahwa kamu baik-bakk saja" Ucap Riko dalam hati sambil menggigiti jari tangannya satu per satu. Adit yang menyadari ada yang aneh dari gelagatnya Riko, penasaran apa yang sebenarnya terjadi di antara Riko dan Dinda. Sampai-sampai Riko terlihat sangat gelisah seperti ini, ia pun mencoba menanyakan apa yang Riko pikirkan. Tapi Riko kekeh tidak mau menjawab pertanyaan darinya itu dan mengalihkan pembicaraan.


Riko memandangi jam tangannya terus menerus, ia tak tahan lagi menunggu jam sekolah usai. Pasalnya ia tak tahan dengan perasaan cemas berlebih ini.

__ADS_1


Sepulang sekolah, Riko yang masih kepikiran soal Dinda berniat untuk menjenguknya, ia pun memberanikan diri berkunjung ke rumah Dinda seorang diri. Sesampainya disana ia memencet bel rumah Dinda dengan sedikit ragu, Ibunya Dinda pun membuka pintu. "Halo tante, selamat siang" Sapa Adit dengan ramah, ia berusaha melawan keraguan yang ada di dalam hatinya dan melupakan prilaku tak enak yang ia dapat kemarin. Tanpa di duga-duga Ibunya Dinda langsung memeluk erat Riko dan berkata "Maafin ibu ya nak, ibu sudah salah paham kemarin, Dinda sudah cerita semuanya dan terimakasih banyak kamu telah menyelamatkan Dinda". Kasih sayang ibu yang tulus terpancar jelas dari mata Ibunya Dinda. "Gak apa apa kok tante, aku ngerti kenapa tante seperti itu kemarin. Tante semata-mata hanya khawatir dan ingin melindungi Dinda kan?" tanya Riko dengan senyum ramahnya. "Iya nak, terimakasih kamu sudah paham situasinya, ohh iya kamu kesini ingin ketemu Dinda kan? Silahkan masuk, dan satu lagi jangan panggil ibu tante ya, panggil ibu aja" Ucap Ibunya Dinda sembari mempersilahkan Riko untuk masuk ke dalam rumahnya. "Oh iya bu" Saut Riko lembut, Ibunya Dinda pun menyuruh Riko menunggu sesaat di ruang tamu, dan ia akan memanggil Dinda untuk Riko.


"Dinda, keluar sebentar dong nak. Ada yang nyari kamu tuh" Ucap Ibunya Dinda sambil mengetok pintu kamar Dinda. "Siapa sih ma?" tanya Dinda dengan nada pelan dan kurang semangat, pasalnya ia sebenarnya tak ingin di ganggu siapapun hari itu. "Itu teman sekelasmu, dia tunggu kamu di ruang tamu, cepat keluar ya nak, kasian dia nunggu lama" Jawab Ibunya Dinda sebelum pergi dari depan kamar putrinya dan membuatkan es jeruk untuk Riko. Mendengar itu Dinda berfikir sejenak. "Siapa ya? Kayaknya teman sekelas ga ada yang tau rumahku deh, kecuali Riko. Eh Riko??" Ucapnya dalam hati. Tau persis yang sedang menunggunya di ruang tamu itu Riko, ia langsung bersemangat dan pergi ke kamar mandi kemudian berdandan.


Dinda bingung, pakaian apa yang harus ia kenakan untuk menumui Riko yang pertama kali berkunjung ke rumahnya itu, hingga banyak baju yang dicobanya untuk menemukan baju yang akan membuatnya terlihat lebih cantik dari biasanya hari itu. Entah kenapa, Dinda ingin membuat Riko terkesan dengan penampilannya.


Karena terlalu lama berdandan dan mempersiapkan penampilan terbaiknya hari itu, Ibunya Dinda berulang kali pergi ke kamar Dinda mengetok pintu dan menyuruhnya bergegas turun menemui Riko segera, seolah mengisyaratkan Riko yang sudah mulai bosan menunggu kehadirannya di ruang tamu. Hal itu menyebabkan Dinda yang telah mengacak-ngacak kamarnya dengan mengeluarkan banyak pakaian dari lemari, mengenakan baju yang pertama kali ia kenakan tadi, dan bergegas menemui Riko.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2