
Mengetahui golongan darah Dinda yaitu Golongan darah O- yang terbilang golongan darah cukup langka, Riko panik dan ia segera menghubungi semua murid-muridnya yang kini hampir tersebar di seluruh pelosok kota, melalui telepon tanpa terkecuali. Ia juga memerintahkan para muridnya ikut mencari orang yang mempunyai golongan darah langka itu, atau kalau tidak ia takkan mau melatih mereka lagi.
Di mata para murid-muridnya, Riko adalah sosok seorang guru yang tenang namun tegas. Ini kali pertama mereka mendengar suara Riko yang terdengar amat sangat panik bahkan hingga gemetaran, walaupun hanya melalui via telepon, itu tetap saja mengagetkan mereka.
Waktu terus berjalan, detik demi detik kian terlewati tanpa ada hasil dari pencarian golongan darah yang langka itu. Walaupun demikian, Riko sama sekali tak mau menyerah dalam mencari donor darah untuk gadis yang ia cintai, yaitu Dinda. Dari sekian banyak rumah sakit yang ia datangi untuk mencari golongan darah O-, tak satu rumah sakit pun yang mempunyai persediaan donor darah untuk jenis golongan darah yang satu ini.
Riko terus berusaha, tak peduli rintangan jenis apapun yang harus ia lewati, ia akan tetap mencari golongan darah langka itu untuk Dinda. Kalimat dokter yang kini sedang menangani Dinda tadi beberapa kali terus mengganggu pikirannya. Pasalnya dokter mengatakan, kalau sampai dalam kurun waktu satu hari donor darah untuk Dinda tidak di dapatkan, besar kemungkinan nyawa Dinda tidak akan bisa terselamatkan.
Karena perasaan cintanya yang begitu besar nan tulus terhadap Dinda, ia tak akan mungkin bisa terima kalau harus merelakan gadis yang ia cintai meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Hari mulai gelap kala itu, Riko tiba-tiba tumbang di jalan yang kebetulan sepi ketika masih dalam pencarian donor darah untuk menyelamatkan nyawa Dinda. Ia menangis sejadi-jadinya dan berteriak "ya Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi terhadap Dinda? Kenapa tak aku saja yang ada di posisi itu? ". Tepat setelah Riko berteriak dengan amat kencang tadi, hujan tiba-tiba turun dengan sangat lebat sekaan Tuhan mendengar teriakan Riko dan ingin memberinya petunjuk.
__ADS_1
Tetes demi tetes air huja turun, membasahi sekujur tubuh Riko dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Ajaibnya setelah kepalanya basah karena di guyur air hujan yang begitu lebat, Riko tiba-tiba merasa jauh lebih tenang seolah solusi dari permasalahan ini akan segera ia temukan, hal itu mengakibatkan tangisnya terhenti seketika.
Ia spontan sesekali memandangi ponselnya sembari berharap ada salah satu muridnya yang akan menghubungi dirinya guna untuk menyampaikan kabar gembira. Benar saja, salah satu muridnya yang paling lama berguru dengan Riko, tiba-tiba menghubunginya. Ponsel Riko pun yang tahan air pun berbunyi di tengah-tengah hujan lebat.
Dengan perasaan yang jauh lebih lega, Riko mengangkat panggilan telepon itu penuh semangat. "Riko, kamu lagi nyari pendonor golongan darah O- kan? " Tanya salah seorang murid Riko mengawali percakapan di telepon itu. "Iya nih, kamu tau dimana aku bisa mendapatkannya? " Saut Riko yang balik bertanya dengan bersemangatnya. "Aku tau lah, kan kamu sendiri yang mempunyai golongan darah langka itu" Jawab murid Riko itu yang menyadarkan Riko seketika.
Riko yang baru ingat bahwa apa yang dikatakan muridnya itu benar, langsung mengucapkan terimakasih dan dengan terburu-buru menuju ke rumah sakit tempat dimana Dinda sedang di rawat. Ia tak peduli walaupun pakaian yang ia kenakan basah kuyut, ia hanya ingin Dinda segera mendepat pertolongan.
Sesampainya di gerbang rumah sakit, langkah Riko terhenti setelah melihat Dinda kini di bawa dan dipindahkan ke suatu rungan oleh dokter beserta beberapa perawat yang menangani Dinda kala itu. Mereka juga diikuti Ibunya Dinda dan Bu Adel dari arah belakang, saat itu Ibunya Dinda masih tetap saja menangis kala mendapati wajah anaknya yang kini membiru menandakan ia perlu donor darah secepatnya. Sedangkan Bu Adel masih terus berupaya menenangkan Ibunya Dinda.
Melihat Riko yang sedang berlali ke arah bed roda Dinda, Ibunya Dinda tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membentak Riko dengan berkata "Jangan kesini! Jangan ganggu anak Ibu lagi!! Semenjak kenal kamu, banyak bahaya yang silih bergantian datang mengancam keselamatannya. Pergi sana!! "
__ADS_1
Riko yang mendengar kalimat emosional Ibunya Dinda itu, mendapati perasaannya kian semakin hancur berkeping-keping. Ia yang dari sebelumnya sudah merasakan kekhawatiran, kesedihan dan juga ketakutan yang teramat kuat, kini harus menghadapi kenyataan pahit. Dimana ia seolah di tuding jadi penyebab Dinda terbaring lemas seperti sekarang ini, oleh orang terdekatnya Dinda.
Ia sudah berusaha membantah tudingan yang mengarah ke dirinya itu dengan cara menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, untuk yang kedua kalinya. Akan tetapi ia sekaan tak di beri kesempatan berbicara, dan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya sama sekali tak di percaya. Akhinya Bu Adel yang melihat situasi itu menarik tangan Riko.
"Kamu kemana aja dari tadi Riko? " Tanyanya penasaran, "mengingat kalimat dokter yang menyatakan Dinda harus segera mendapat donor darah supaya nyawanya bisa tertolong, saya berusaha mencari donor darah untuk Dinda dari tadi bu. Semua rumah sakit yang saya ketahui, telah saya datangi untuk mencari donor darah, tapi hasilnya nihil" Ujar Riko yang berusaha menjelaskan situasinya.
"Oh gitu, yaampun sampai sebegitunya kamu berusaha menyelamatkan nyawa Dinda. Ibu jadi terharu" Imbuh Bu Adel. "Saya tak akan pernah rela melihat orang yang saya cintai dalam kondisi yang tak mengenakkan bu, apalagi Dinda sekarang berada di situasi hidup dan mati. Saya akan melakukan apapun untuk bisa menyelamatkannya, karena saat ini keselamatan Dinda telah menjadi prioritas utama saya" Imbuh Riko lagi.
"Ibu tau itu kok Riko, Ibu bisa lihat ketulusan hati terpancar jelas dari matamu. Mungkin saat ini Ibunya Dinda terlalu panik hingga tak bisa menyadari akan ketulusanmu. Jangan terlalu di ambil hati ya" Ujar Bu Adel. "Tenang aja bu, saya paham situasinya. Ini bukan kali pertama saya melihat Ibu Dinda seperti ini" Saut Riko lagi.
"Baguslah kalau begitu, Ibu punya kabar yang agak gembira nih. Dinda telah mendapat donor darah" Ucap Bu Adel. "Wahh syukurlah, tapi kenapa agak gembira bu? Ada yang salah? " Tanya Riko yang mulai kebingungan.
__ADS_1
"Pendonor darah Dinda adalah pasien HIV yang baru saja meninggal beberapa menit yang lalu, hal itu menyebakan besar kemungkinan Dinda akan terjangkit HIV setelah menerima donor darah darinya. Tapi saat ini kondisinya sedang terdesak, Dokter mengatakan ini satu-satunya langkah yang dapat di ambil untuk menyelamatkan nyawa Dinda" Ujar Bu Adel.
Bersambung...