Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 24 'Kepedulian Seorang Wali Kelas'


__ADS_3

Melihat Adit yang tiba-tiba menyambar pertanyaannya dengan nada yang teramat ketus, Lia menjadi kesal. Karena alasan ia langsung menanyakan kabar Riko terlebih dahulu daripda kabarnya Dinda adalah ia sangat kangen dengan Riko. Ia menyukai Riko, jadi wajar saja di matanya kabar Riko ini jauh lebih penting daripda kabar terkini terkait kondisi Dinda.


Bukannya Lia tak peduli dengan Dinda, ia tetap saja peduli dengan kondisi temannya itu, akan tetapi perasaannya terhadap Riko yang lah membuatnya lebih memprioritaskan Riko.


"Iya dit, aku tahu kok. Tapi kan kita wajar saja menanyakan kabar orang yang kita temui dulu, sebelum nanti menanyakan kabar orang lain darinya" Saut Lia menjawab kesinisan Adit juga dengan nada dan tatapan yang sinis ke arahnya.


"Sudah-sudah, kalian apaan sih? Kok malah jadi ribut? Yang terpenting sekarang, selain informasi terkini terkait tentang kondisi Dinda, kabar Riko juga penting. Aku yakin, Riko pasti kurang tidur belakangan ini karena harus menjaga Dinda di rumah sakit, benar kan Riko? " Imbuh Luna yang kini berupaya meraih simpatinya Riko.


"Kabarku sekarang tak terlalu penting kok Lia, Luna. Aku baik-baik aja. Tapi yang terpenting saat ini itu kabar Dinda, Dinda saat kemarin terakhir aku di rumah sakit, ia masih dalam kondisi koma. Ia masih belum siuman sejak insiden berdarah itu terjadi" Saut Riko dengan tatapan kosong menandakan ia tengah merasakan kesedihan yang sangat mendalam.


"Tapi aku sama sekali tak sempat menjaga Dinda di rumah sakit, Ibunya Dinda melarangku untuk menemui apalagi sampai menjaga Dinda disana. Ia menuding akulah penyebab putrinya belakangan ini selalu di ancam bahaya, termasuk yang terakhir insiden berdarah yang menimpa Dinda beberapa hari lalu. Padahal jelas-jelas Julian lah yang telah mendorong Dinda hingga menyebabkannya terjatuh. Tudingan Ibunya itulah yang telah menambah kesedihanku belakangan ini" Imbuh Riko lagi sembari mengepalkan tangannya.


Lia dan Luna yang mendengar Riko bercerita dengan penuh emosi itu pun, tercengang di buatnya. Pasalnya mereka kira kondisi Dinda tak separah itu, mereka mengira Dinda hanya pingsan biasanya karena benturan di kepalanya.


"Ngomong-ngomong aku sama sekali tak pernah melihat batang hidung Julian sejak insiden berdarah Dinda itu. Ia tak pernah sekolah kan? " Tanya Adit yang kini penasaran dengan Julian.


"Iya nih, kayaknya aku ga pernah ngeliat kak Julian lagi belakangan ini" Imbuh Luna seolah menegaskan pernyataan Adit tadi.


"Ringgg!! Ringgg!! Ringg!!! "


Bel tanda pelajaran di mulai pun berbunyi, selang beberapa menit Bu Adel memasuki ruang kelas mereka. Kebetulan saat itu jam pelajaran yang pertama adalah mata pelajaran beliau.

__ADS_1


Ekspresi Bu Adel sesaat tiba di kelas itu kaget, ia heran mengapa Riko yang sebenarnya kondisinya belum pulih betul memaksa bersekolah pagi itu. Riko melempar senyum ramah ketika ia menatapnya.


Bu Adel masih teringat kalimat dokter di rumah sakit yang menyarankan Bu Adel mengurus ijin Riko untuk tidak datang ke sekolah selama minimun satu minggu. Kalimat yang kala itu seorang dokter utarakan hanya ketika berbicara empat mata dengannya. Jadi dengan kata lain Riko atau siapa pun selain Bu Adel tak ada yang mendengarnya.


Dokter itu mempunyai alasan yang sangat kuat mengapa ia tak mengutarakan hal ini langsung terhadap Riko. Karena kondisi Riko saat itu yang tak memungkinkan, ia sedang sangat lemas di tambah lagi ia sangat terpuruk melihat gadis yang ia cintai terbaring tak sadarkan diri, dan tudingan Ibunya Dinda yang sangat membebani pikirannya serta menghancurkan perasaannya kala itu.


Lebih lanjut dokter itu menjelaskan bila Riko tak cukup istirahat dan terus memaksakan dirinya, masalah kesehatan yang serius besar kemungkinan akan bisa mengancam nyawa Riko, karena saat itu, Riko sangat banyak mendonorkan darahnya, bisa di bilang 40% dari seluruh darah di tubuhnya. Apalagi golongan darah Riko dan Dinda ini sangat langka, jika sampai Riko terserang penyakit dan harus mendapatkan donor darah karena kekurangan darah, semuanya akan sama seperti apa yang di alami Dinda beberapa hari lalu atau bahkan mungkin lebih parah.


Bu Adel secara terpaksa mengajar kala itu dengan profesional, walaupun pikirannya tengah terbebani dengan kondisi Riko. Kepedulian wali kelas ini sangat luar biasa terhadap Riko dan anak didiknya yang lain.


Jika biasanya para siswa siswi lah yang tak sabar menunggu jam istrirahat dan jam pulang sekolah tiba. Kali ini situasinya malah jauh berbeda, dimana ada seorang wali kelas atau guru yang justru sangat menginginkan jam itu tiba segera.


Bel yang menandakan jam istrirahat tiba pun berbunyi.


"Riko, bisa ikut Ibu sebentar?" Tanya Bu Adel dari depan kelasnya.


"Iya bu bisa" Saut Riko singkat sembari langsung maju kedepan dan mengikuti kemana kaki Bu Adel akan melangkah.


Saat itu, Bu Adel mengajak Riko ke ruangannya.


Ia berniat untuk menjelaskan hal apa yang dokter katakan padanya saat masih di rumah sakit kala itu.

__ADS_1


"Duduk Riko" Ucap Bu Adel setibanya di ruangannya sembari menunjuk sebuah meja lengkap dengan kursinya.


"Terimkasih bu" Saut Riko singkat dan langsung menduduki kursi itu.


"Riko, Ibu mau bicara serius, ini sangat penting untukmu" Ucap Bu Adel kala itu dengan nada dan tatapan yang sangat serius ke arah Riko.


"Bicara mengenai hal apa ya bu? " Tanya Riko yang penasaran.


"Kamu belum begitu paham situasinya ya Riko? " Tanya Bu Adel dengan tatapan yang kian semakin serius ke arah Riko.


"Maaf bu, aku kurang paham situasi apa yang Ibu maksud" Saut Riko dengan kebingungan.


"Baik, Ibu akan jelaskan situasinya. Ini mengenai masa pemulihan tubuhmu yang memerlukan waktu minimum satu minggu penuh untuk beristirahat, karena saat itu darahmu telah sangat banyak di donorkan untuk Dinda, yaitu sebanyak 40% dari seluruh darah yang ada di tubuhmu. Jika kamu mengabaikan keharusan untuk beristirahat tadi, hal fatal bisa saja menimpamu dan itu sudah pasti akan memperburuk situasi saat ini" Ujar Bu Adel dengan tatapan yang penuh kepedulian sambil matanya terus menatap serius mata Riko.


"Sebelumnya aku minta maaf karena telah membuat Ibu khawatir, aku sudah sedikit tahu tentang hal itu bu, ya walaupun secara detail seperti yang Ibu bilang tadi aku kurang tahu. Akan tetapi, apa yang aku rasakan saat ini sudah jauh lebih baik dari hari dimana aku mendonorkan darah itu bu, kekhawatiran dan rasa sayangku terhadap Dinda seolah memberiku energi yang sangat kuat untuk melewati semua ini" Jawab Riko dengan rasa sedikit bersalah, tapi ia berusaha menjelaskan situasinya.


"Huuh" Bu Adel menghela nafas panjang mendengar jawaban Riko yang selalu mementingkan dan memprioritaskan Dinda terlebih dahulu.


"Ibu ngerti apa yang kamu rasakan Riko, tetapi setidaknya kamu jangan bersekolah dulu untuk beberapa hari kedepan, beristirahatlah di rumah dengan cukup untuk mempercepat masa penulihanmu. Kamu boleh saja sangat memperdulikan kondisi Dinda saat ini, namun tolong.. Ibu minta tolong dengan sangat, jangan abaikan kondisi kesehatanmu sendiri. Ibu tak mau hal buruk akan menimpamu nanti" Ucap Bu Adel lagi berusaha menasehati Riko.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2