
Mendengar pertanyaan Ibu Riko itu, Pak Roni tersenyum sejenak sembari menatap wajah Ibu Riko lalu kemudian mengeluarkan dompet dari saku kanan celananya, dan mengeluarkan selembar foto jadul dirinya yang kala itu masih terlihat sangat culun dengan pasangan terpopuler di sekolah SMAnya dulu, yaitu Riki Setiawan dan Ibu Riko alias Intan permata sari saat masih remaja.
Melihat foto yang baru saja di tunjukan Pak Roni, Ibu Riko kaget bukan kepalang. Pasalnya orang yang sekarang tepat berada di depan matanya dan sedang berbicara dengannya itu adalah adik kelasnya dulu, yang lebih membuatnya kaget lagi orang yang juga sekaligus menjadi bapak angkatnya Sinta itu adalah adik kelas terfavoritnya sewaktu masih mengenakan seragam SMA puluhan tahun silam.
"Roni si mata empat?" Tanya Ibu Riko singkat.
"Iya bu, itu nama julukan saya dulu semasa SMA. Sempit banget ya dunia ini, kita bisa sampai bertemu kembali dengan cara tak terduga seperti ini" Ujar Pak Roni sambil tersenyum bahagia. Pasalnya dulu semenjak Bang Riki dan Kak Intan yang merupakan pasangan terpopuler dan juga pasangan yang paling di kagumi Pak Roni itu tamat sekolah, Pak Roni benar-benar kehilangan jejak mereka berdua.
Pak Roni bahkan sempat mencari mereka berdua kemana-mana, tapi tetap saja mereke menghilang tanpa jejak bak di telan dunia. Karena hal itu lah sekarang Pak Roni merasakan kebahagiaan dan kelegaan luar biasa dalam hatinya setelah bertemu kembali dengan salah satu dari orang yang ia paling kagumi semasa masih mengenakan seragam SMA, yaitu Kak Intan alias Ibunya Riko. Walaupun kebahagiaan itu terasa kurang lengkap, setelah ia mendapati kabar duka karena Bang Riki yang dulu selalu melindunginya dari aksi pembulyan telah meninggal dunia.
"Iya lo, saya juga tak menyangka akan bertemu kamu lagi dengan cara yang sungguh tak terduga seperti ini pak" Ujar Ibu Riko sembari membalas senyum bahagia Pak Roni tadi.
"Waah Bapak kenal sama Ibu ini? Entah apa alasannya, yang jelas aku bahagia mendengar dan melihat kalian bisa seakrab ini" Ucap Sinta yang ingin seolah larut dalam cerita masa lalu ke dua orang tua itu.
"Iya lo mas, aku juga entah kenapa merasa bahagia melihat kamu bisa akrab dengan Ibu ini" Saut Bu Dian yang juga ikut tersenyum bahagia.
"Dulu semasa almarhum Ayah masih SMA, pasti ia keren banget ya bu. Aku jadi merasa sangat bangga dan bersyukur menjadi anak beliau, aku bersyukur bisa merasakan didikan beliau, walaupun itu terbilang dengan waktu yang teramat sangat singkat" Ucap Riko sambil menatap ke atas, seolah ia ingin mengucapkan langsung kepada almarhum Ayahnya bahwa Riko sangat bangga terhadap dirinya.
__ADS_1
"Iyalah Riko, Ayahmu dulu sangat keren, tampan dan populer terutama di kalangan wanita, baik itu di kalangan adik kelas, teman seangkatannya dan juga kakak kelasnya. Banyak wanita di sekolahan SMA kami sampai tergila-gila dengan beliau. Tapi cinta almarhum Ayahmu, hanya untuk Ibu semata. Bahkan dulu, Ibu di musuhi wanita-wanita satu sekolahan karena merasa iri dengan Ibu" Ujar Ibu Riko dengan penuh semangat menceritakan tentang almarhum suaminya.
"Kalau mengingat-ngingat masa indah kami dulu, Ibu jadi kangen dengan almarhum Ayahmu" Imbuh Ibu Riko lagi kala itu dengan ekspresi sedih.
Mendengar cerita Ibunya itu, Riko termenung sejenak, pasalnya cerita masa lalu Ibunya dan almarhum ayahnya itu hampir mirip dengan kisah dirinya dengan Dinda. Riko seketika teringat kembali dengan Dinda yang terakhir kali ia lihat masih belum sadarkan diri dari komanya.
"Wahh hebat banget ya almarhum suaminya Ibu dulu, tapi aku yakin dan percaya, Kak Riko jauh lebih hebat dari beliau lo" Ucap Sinta sambil menatap Riko dengan tatapan menggoda.
Merespon hal itu, Riko masih saja tak bergeming sedikit pun, ia masih terus saja memikirkan kondisi Dinda dengan ekpresi sangat serius menatap ke satu titik kamar Sinta itu.
Riko tersadar dari lamunannya setelah mendengar pertanyaan dari Ibunya yang bertubi-tubi.
"Aku gak apa-apa kok bu, aku hanya tengah terpikirkan sesuatu" Saut Riko singkat sambil menatap ke arah Ibunya.
"Sesuatu soal Dinda kan? Ibu sangat paham segala sesuatu tentang kamu lo Riko, jadi kamu tak bisa membohongi Ibu" Tanya Ibu Riko yang masih penasaran dengan penyebab anaknya yang tiba-tiba melamun kala itu.
"Iya bu, mendengar cerita Ibu tadi, aku jadi teringat kembali tentang Dinda yang kemungkinan masih terbaring koma hingga detik ini. Aku sangat rindu dan khawatir dengannya" Ujar Riko yang kembali bengong.
__ADS_1
"Kak Riko jahat!! harusnya Kak Riko sekarang ini khawatir dengan kondisi kesehatanku, bukan malah lebih memikirkan Kak Dinda" Bentak Sinta secara tiba-tiba setelah mendengar pengakuan dari Riko itu, kemudian bergegas kembali ke atas kasurnya karena merasakan perasaan cemburu yang hebat.
"Kamu kenapa sih Sin? Aku juga menghawatirkan dirimu kok, tapi kan aku telah melihat realitanya sendiri bahwa saat ini kondisimu jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi Dinda" Ucap Riko yang melihat tingkah aneh dari Sinta itu.
Semua orang yang berada di ruangan itu, mulai dari kedua orang tua angkatnya Sinta dan juga Ibu Riko, berupaya menenangkan Sinta kala itu yang tiba-tiba berlali menuju ke atas tempat tidurnya sambil menangis. Bahkan Ibu Riko berupaya mengingatkan Sinta untuk tidak memiliki perasaan lebih terhadap Riko, karena Riko itu besar kemungkinan adalah kakak kandungnya sendiri.
"Iya bu, aku paham situasinya kok. Tapi jujur entah kenapa, untuk saat ini aku merasa seperti tak rela jika Kak Riko mengarahkan perhatiannya teradap orang lain selain diriku. Mungkin aku terkesan sedikit egois, tapi itu yang tengah aku rasakan sekarang" Ujar Sinta yang berusaha menjelaskan situasinya sambil tetap menangis.
Melihat pemandangan itu, Riko pun ikut berupaya menenangkan Sinta dengan cara menggenggam salah satu tangannya. Seolah Riko mengisyaratkan ia tak akan pernah meninggalkan Sinta apapun alasannya.
"Yaudah Sin, kamu sama kedua orang tuamu dan juga Ibuku saja ya dulu di sini. Aku mau ada urusan dulu sebentar" Ucap Riko yang tiba-tiba berpamitan kala itu.
"Kak Riko mau kemana? Pasti mau ke kamar Kak Dinda kan?" Tanya Sinta yang kala itu meneteskan air mata yang tadinya sempat berhenti menetes lagi.
"Aku mau ada urusan penting Sin, ini soal sekolahku. Jangan khawatir, aku akan datang menjengukmu lagi kok nanti" Saut Riko yang berusaha menenangkan Sinta kembali.
Bersambung...
__ADS_1