Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 22 'Nasihat Seorang Ibu'


__ADS_3

"Kamu kenapa nak? Baru pertama kali Ibu lihat kamu seterpuruk ini, hal buruk apa yang telah terjadi? Sini ceritakan ke Ibu" Ucap Ibunya Riko dengan nada pelan sembari memeluk tubuh Riko penuh kasih sayang. Kasih sayang seorang Ibu yang sangat tulus.


Merasakan kasih sayang tulus yang mengalir dari Ibunya, Riko merasa bersalah karena ia sadar telah membuat Ibunya memikirkan dirinya terus beberapa hari belakangan, Riko tahu kalau Ibunya itu pasti sama sepertinya belakangan ini. Ibunya pasti juga kurang tidur karena banyak pikirkan, hal itu terlihat dari lingkaran hitam di bawah mata dan wajah Ibunya yang terlihat kurang segar. Jika ia memikirkan tentang Dinda dan permasalahan yang tengah ia hadapi belakangan ini, Ibunya memekirkan dan menghawatirkan tentang anak semata wayangnya yaitu Riko.


"Maaf bu, aku telah membuat Ibu panik dan khawatir belakangan ini. Ada masalah yang bagiku sangat berat kini sedang menimpa Dinda dan Aku bu" Saut Riko yang menantap Ibunya sambil menangis tersedu-sedu.


Sontak hal itu mengagetkan bagi Ibu Riko, karena anaknya yang ia kenal adalah anak yang kuat dan sama sekali tak pernah menjatuhkan air mata sebelumnya. Melihat pemandangan Riko yang menangis dengan tersedu-sedu kala itu, secara otomatis menimbulkan prasangka buruk di benak Ibunya. Ia meyakini pasti ada masalah besar yang kini tengah di hadapi Riko.


"Kamu ada masalah apa nak? Percaya sama Ibu, setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Terpuruk atau bersedih itu manusiawi dan boleh-boleh saja, tapi jangan sampai kamu berlarut-larut di dalam keterpurukan itu" Ucap Ibu Riko lembut.


"Terimakasih banyak untuk nasihatnya bu, saat sekarang ini mungkin aku hanya perlu sedikit waktu untuk menenangkan pikiranku. Maaf tadi aku terpancing emosi dengan seseorang yang barusan menghubungiku lewat telepon bu" Saut Riko yang mulai mungusap air matanya.


"Emang siapa orang yang bisa memancing emosimu Riko? Apa yang ia telah katakan sampai kamu semarah ini? " Tanya Ibunya Riko yang kian semakin penasaran.


"Aku akan menceritakan semuanya kepada Ibu sekarang, tapi sebelum itu aku minta Ibu berjanji satu hal kepadaku" Saut Riko sembari menatap serius ke arah Ibunya.


"Baik Riko, hal apa itu? " Tanya Ibu Riko singkat.


"Apapun yang Ibu rasakan nanti setelah mendengar ceritaku, aku minta Ibu berjanji untuk tidak ikut campur langsunh dalam permasalahanku ini, aku tak ingin Ibu sampai terlibat di dalamnya" Ucap Riko yang kini semakin serius.

__ADS_1


"Baik Riko, Ibu berjanji untuk tidak akan ikut terlibat langsung dalam permasalahanmu ini" Janji Ibunya terhadap Riko sambil menyambut jari kelingking yang di arahakan Riko ke arahnya.


Setelah Ibunya berjanji, Riko pun mulai bercerita dengan penuh emosional.


"Dia kakak kelas sekaligus ketua OSIS di sekolahku bu, namanya Julian. Dia juga orang yang sama dengan orang yang menyebakan Dinda celaka beberapa hari lalu dengan cara mendorongnya dengan keras dari belakang bu, hingga menyebabkan Dinda terjatuh dan kepalanya tepat mendarat di pembatas tangga, hal itulah yang membuat Dinda tak sadarkan diri sampai saat ini, karena banyak darah yang bercucuran dari kepala Dinda dan menyebabkan ia kekurangan banyak darah" Ujar Riko sambil mengrenyitkan dahinya, dan mengepalkan tangannya. Menandakan ia tengah bercerita sambil menahan emosinya yang saat itu tengah berapi-api.


Mendengar pernyataan anak semata wayangnya itu, sontak membuat Ibunya Riko kaget sekaligus sangat menghawatirkan keadaan terkini Dinda.


"Julian sungguh telah kelewatan! Lalu apa tanggapan pihak sekolah soal insiden itu? Harusnya mereka berupaya membawa kasus ini ke jalur hukum!" Ucap Ibunya Riko yang kini ikut tersulut emosinya setelah mendengar cerita Riko tadi.


"Pihak sekolah memang bermaksud membawa kasus ini ke jalur hukum bu, akan tetapi permasalahannya mereka sama sekali tak mempunyai bukti yang cukup kuat, bahwa sanya Julian lah pelaku utama dalam kasus ini" Saut Riko yang mulai menjelaskan situasinya.


Bukannya Riko tak mempercayai Ibunya, tetapi ia sangat tahu tipe orang seperti apa Ibunya itu. Beliau terkadang sampai bertindak nekad jika di rasa perlu. Dan tindakan Ibunya itu sering kali merugikan dirinya sendiri.


"Aku minta doanya aja bu ya, Doa seorang Ibu akan sangat berarti bagiku. Berkat kalimat Ibu tadi, aku sadar jika aku tak boleh menyerah dengan keadaan dan harus tetap bersemangat demi Dinda" Ucap Riko sambil memeluk Ibunya.


"Doa Ibu akan selalu menyertaimu nak, Ibu yakin dan percaya kamu pasti bisa melewati semua ini. Ibu ada satu pesan lagi, jangan pernah mengambil tindakan atau keputusan saat kamu sedang emosi. Semua itu tak ada gunanya dan akan hanya memperkeruh keadaan. Tertaplah jadi Riko yang Ibu kenal, yang selalu tenang dalam menghadapi apapun" Ujar Ibu Riko sembari memberinya nasihat lagi dan mengelus-ngelus kepala anak semata wayangnya itu.


"Terimakasi banyak bu, aku beruntung di lahirkan dari rahim seorang Ibu yang sangat penyayang seperti Ibu. Aku sangat menyayangi Ibu" Ucap Riko sambil kembali meneteskan air mata. Tetapi kali ini, air mata yang keluar dari matanya adalah air mata haru. Suasana seketika penuh haru.

__ADS_1


Beberapa saat berlalu, pembantu di rumah itu pun menghampiri mereka berdua dan menginformasikan ia telah menyelesaikan tugasnya untuk membersihkan dan merapikan kamar Riko. Menandakan kamar itu telah siap di gunakan Riko untuk beristirahat.


Merasakan suasana hatinya yang telah jauh membaik, Riko bergegas ke kamarnya guna untuk beristirahat dan meninggalkan Ibunya sendirian disana.


Hari mulai gelap, akan tetapi Riko tak kunjung keluar dari kamarnya untuk ikut makan malam di meja makan bersama Ibunya. Menyadari hal itu, Pembantu di sana kembali berinisiatif, kali ini ia ingin mengantarkan makan malam Riko ke kamarnya.


"Biar saya aja bi" Ucap Ibu Riko yang saat itu sekalian ingin menengok Riko ke kamarnya.


"Baik bu, silahkan" Saut si pembantu dengan ramah dan singkat sembari menyerahkan nampan yang berisikan makanan yang di pegangnya.


Ibu Riko pun langsung bergegas menuju kamar Riko sembari membawa makan malam itu Riko.


"Tok tok tok"


"Riko Riko, bangun nak. Ini Ibu bawakan makan malam untukmu" Ucap Ibu Riko sambil terus mengetok pintu kamar Riko.


Setah beberapa menit mengetok pintu itu, Riko masih saja tak menjawab dan membukakan pintu untuk Ibunya. Karena mulai bosan mengetok dan timbul sedikit kekhawatiran di hatinya, Ibu Riko langsung berupaya membuka pintu itu.


Setelah pintu kamar Riko terbuka, terlihat Riko tertidur di kasurnya dengan begitu lelapnya. Akhirnya makan malam Riko hanya di letakan Ibunya di atas meja karena tak tega membangunkan Riko yang kala itu tampak sangat kelelahan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2