Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 27 ' Menjenguk Dinda'


__ADS_3

Pak Ridwan yang ternyata juga mempunyai latar pendidikan psikologi, tentunya sangat memahami bahasa tubuh seseorang yang tengah berkata jujur ataupun bohong, beliau yakin dan percaya bahwa siswa yang sedang berbicara di depannya saat ini, yaitu Riko, 100% berbicara jujur apa adanya.


"Baik Riko, terimakasih banyak atas kesediaanmu telah menceritakan semuanya kepada bapak hari ini. Berkat keteranganmu tadi, bapak kini mulai sedikit tidaknya ada gambaran terkait tentang kronologi insiden berdarah waktu itu" Ucap Pak Ridwan sembari menepuk-nepuk pundak Riko.


"Sama-sama pak, saya harap semua ini bisa sgera berlalu" Saut Riko sambil menatap mata Pak Ridwan.


"Oh iya Pak, saya selaku wali kelasnya Riko dan Dinda ingin mengajukan ijin untuk Riko, agar ia bisa tak bersekolah selama beberapa hari kedepan" Ucap Bu Adel yang kala itu memohon agar Riko di ijinkan beristirahat beberapa hari kedepan.


Pak Ridwan pun telah mengetahui alasannya, karena Bu Adel sebelumnya sudah pernah membicarakan soal hal ini terhadap dirinya.


"Baik bu, saya ijinkan" Saut Pak Ridwan singkat.


Pak Ridwan juga menambahkan bahwa dirinya dan pihak sekolah berencana akan menjengguk Dinda siang ini, setelah jam belajar mengajar usai. Ia menawarkan Bu Adel dan Riko untuk ikut bersama mereka.


Riko sangat senang dan bersemangat mendengar hal membahagiakan itu, pasalnya ia berpikir Ibunya Dinda tak akan enak hati jika mengusirnya di depan para petinggi sekolah. Beliau pasti akan dengan terpaksa membiarkan Riko dekat-dekat dengan putrinya lagi.


"Baik Pak, saya akan ikut" Ucap Riko yang kala itu langsung bersemangat. Ia akhirnya setelah sekian lama dihantui rasa khawatir dan cemas yang amat luar biasa karena selalu terpikirkan tentang Dinda, kini akhirnya akan bisa melihat dari dekat gadis yang ia cintai itu, tanpa perlu memikirkan ataupun mencemaskan halangan dari Ibunya Dinda lagi.


"Ringg!!! Ringg!!! Ringg!!!"


Bel tanda jam belajar mengajar telah usai hari itu berbunyi. Wajah Riko pun kini di hiasi senyuman lebar, menandakan ia telah tak sabar menemui Dinda dan sangat bersemangat kala itu.


"Riko, silahkan kamu ke kelas kemasi barang-barang mu dulu sekarang. Kemudian tunggu saya dan yang lainnya di loby sekolah" Kami akan segera kesana setelah selesai berberes-beres" Ucap Pak Ridwan yang kini memberikan Riko intruksi.


"Baik pak, terimakasih banyak. Sampai ketemu di loby sekolah, saya permisi" Saut Riko dengan sangat bersemangatnya.


Riko bergegas ke kelasnya dengan perasaan sedikit lebih lega dari sebelumnya, senyum tipis yang kala itu timbul pada wajahnya seolah menegaskan hal itu.

__ADS_1


Sesampainya di dalam kelas, sebagian besar teman-teman sekelas Riko tampak sudah tak di sana, banyak dari mereka yang telah pulang. Akan tetapi, Adit, Luna dan juga Lia masih setia disana menunggu kembalinya Riko setelah tadi di panggil Bu Adel.


"Loh, kalian kok pada gak pulang? " Tanya Riko yang bingung melihat teman-teman sekelompoknya itu masih berada di kelasnya.


"Kami nungguin kamu Riko, kami khawatir denganmu" Saut Lia sambil bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Riko.


"Iya Riko, kamu darimana aja sih? " Timpal Luna dengan pertanyaan.


"Udah-udah, kalian jangan pada kepo begitu kenapa sih? Oh iya Riko, kamu darimana aja? Lama banget" Ucap Adit kali ini.


"Aditt!!! " Bentak Luna dan Lia dengan kompak.


Riko yang melihat tingkah para teman-temannya itu, akhirnya bisa tertawa lepas untuk yang pertama kalinya setelah terakhir kali ia tertawa seperti itu sebelum insiden berdarah Dinda terjadi.


"Hahaha, terimakasih banyak ya teman-teman. Tingkah konyol kalian telah mengembalikan tawaku" Ucap Riko yang kala itu masih tertawa.


"Oh iya Riko, sebenarnya kami menunggumu disini ingin mengajakmu untuk menjenguk Dinda bersma-sama, karena kan di antara kita semua, hanya kamu yang mengetahui di mana Dinda di rawat sekarang" Ucap Adit yang mulai menjelaslan maksud dari ia dan yang lainnya menunggu Riko disana saat itu.


Mendengar hal itu, Riko teringat bahwa ia juga ada janji untuk menjenguk Dinda bareng Pak Ridwan dan pihak sekolah saat itu.


"Sebenarnya sekarang ini aku sudah ada janji untuk menjenguk Dinda bareng Pak Ridwan dan pihak sekolah, kalian mau ikut? " Tanya Riko yang menawarkan teman-temannya untuk ikut dengannya.


"Pak Ridwan kepala sekolah kita?" Tanya Lia yang ingin memastikan hal itu.


"Iya Lia, sekarang mungkin bliau sudah di loby sekolah nungguin aku, yuk kita ke bawah" Ajak Riko lagi.


Mereka semua pun mengikuti Riko menuju Loby sekolah yang terdapat di bagian depan lantai satu sekolah itu.

__ADS_1


"Mana Pak Ridwan dan yang lainnya Riko? Kamu gak mungkin di tinggal mereka kan? " Tanya Luna sesampainya di loby sekolah mereka.


"Tadi sih Pak Ridwan bilang, beliau dan yang lainnya mau beres-beres dulu sebelum berangkat untuk menjenguk Dinda. Mungkin mereka semua masih di ruangannya" Saut Riko sembari mengajak teman-temannya untuk duduk sembari menunggu Pak Ridwan dan yang lainnya.


Beberapa menit berlalu, akhirnya yang ditunggu-tunggu mereka tiba di loby sekolah itu. Terlihat Pak Ridwan, Bu Adel dan dua guru lainnya yang akan berangkat menjengguk Dinda.


"Lohh, anak-anak yang lain kok pada belum pulang? " Tanya Pak Ridwan kala itu penasaran setibanya di loby sekolah itu.


"Jadi gini pak, mereka bertiga ini teman-teman dekatnya Dinda. Mereka khawatir dan ingin melihat langsung kondisi Dinda sekarang" Saut Riko sembari menatap sesekali ke arah teman-temannya.


"Iya Pak Ridwan, tolong ijinin kami ikut menengok Dinda ya? Kami semua sangat menghawatirkan kondisi Dinda" Ucap Adit kala itu sambil mencangkupkan ke dua telapak tangan di depan wajahnya sambil memejamkan kedua matanya.


"Huuhh" Pak Ridwan menghela nafas panjang.


"Baiklah anak-anak, kalian boleh ikut. Tapi kalian janji dengan bapak ya? Nanti apapun kondisinya di rumah sakit, agar jangan ribut dan tetap tenang" Saut Pak Ridwan dengan penuh wibawa.


"Baik Pak, kami berjanji untuk hal itu" Saut Adit kegirangan.


"Oh iya pak, kita berangkat ke rumah sakit membawa kendaraan masing-masing atau gimana? " Tanya Bu Adel.


"Kita berangkat kesana menggunakan mobil saya saja, biar tak terlalu banyak membawa kendaraan yang nantinya akan memenuhi tempat parkir disana saja" Saut Pak Ridwan sambil mengeluarkan kunci mobil dari saku kantong sebelah kanan celananya.


"Baik pak, memang sebaiknya seperti itu biar keselamatan anak-anak di jalan juga lebih terjamin" Ujar Bu Adel sambil tersenyum riang.


Mereka pun segera memasuki mobil Pak Ridwan yang berwana hitam dan besar. Mobil yang juga terlihat sangat mencerminkan karakter Pak Ridwan yang sangat beribawa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2