Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 28 'Nasihat Pak Ridwan'


__ADS_3

Kurang lebih 45 menit waktu perjalanan dari sekolah ke Internasional Hospital yang dituju berlalu, tetapi mereka tak juga kunjung sampai.


Selama perjalanan Pak Ridwan mempertanyakan beberapa pertanyaan basa-basi ke teman-temannya Riko guna untuk sekedar mencairkan suasana. Hal itu pun terbukti ampuh, Adit, Luna dan juga Lia yang tadinya terlihat sangat canggung ketika mulai memasuki mobil Pak Ridwan, kini sudah mulai sedikit demi sedikit beradaptasi dengan lingkungan sekitar mereka. Mereka pun mulai berbincang satu sama lain.


"Semuanya, kita berhenti sebentar ya untuk sekedar mengisi perut di rumah makan nasi padang yang berada di depan sana, udah jam makan siang nih, bapak lapar sekali" Ucap Pak Ridwan yang tiba-tiba mengajak semua orang yang berada di dalam mobil itu untuk makan siang bersama.


Di karenakan yang lainnya hanya menumpang, tak satu dari mereka pun yang enak hati untuk menolak ajakan pak Ridwan itu, akan tetapi bukanya malah menjawab ajakan dari beliau, yang lainnya malah hanya terdiam seribu bahasa.


"Kok malah pada diam? Saya berbicara ke kalian semua lo. Oh iya kalau begini saya paham, tenang saja saya traktir kalian semua kok" Ujar Pak Ridwan menjawab respon diam yang lainnya.


Seketika semua orang di dalam mobil itu, merasa tak enak dan membantah kalau mereka memang ingin di traktir. Tetapi tidak untuk Adit, Ia malah secara spontan kegirangan mendengar kalimat Pak Ridwan tadi.


"Yeeyy dapat traktiran nasi padang, bisa kenyang nih" Saut Adit dengan sangat polos dan penuh antusias. Perutnya yang buncit sekaan menari-menari membayangkan betapa nikmatnya menu masakan padang yang sebentar lagi akan di santapnya.


Sikap Adit itu, sontak memancing gelak tawa semua orang yang membuat suasana menjadi cair dan jauh lebih menyenangkan.


"Ahahhaa saya suka siswa yang polos dan jujur seperti mu, siapa namamu? Tanya Pak Ridwan yang kala itu tertawa terbahak-bahak melihat aksi konyol Adit.


"Heheehe maaf pak, saya kelepasan, saya memang orang yang paling tak bisa menahan godaan makanan, apalagi makanan khas daerah padang. Nyam nyam nyam... membayangkannya saja membuat perut saya kelaparan, pasti enak banget deh" Saut Adit dengan penuh semangat dan sangat ekspresif.


"Oh iya gara-gara membayangkan makanan saya jadi lupa memperkenalkan diri, Nama saya Adit pak, saya teman sekelasnya Riko dan juga Dinda" Imbuhnya lagi.

__ADS_1


Lia dan Luna yang melihat tingkah konyol Adit sampai menepok jidat dibuatnya. Mereka berdua sangat keheranan dan tak habis pikir dengan Adit yang kala itu tak tahu malu bagi mereka.


"Ohh Adit, terus ini yang cantik-cantik lagi dua siapa? Teman sekelas Riko juga? " Tanya Pak Ridwan kali ini melemparkan pertanyaan ke Lia dan Luna.


"Saya Lia pak" Saut Lia singkat.


"Dan saya Luna pak, iya kami juga merupakan teman sekelas Riko dan Dinda" Imbuh Luna kala itu.


Keasikan berbincang-bincang, mereka pun tiba di rumah makan yang di katakan Pak Ridwan tadi. Rumah makan padang itu adalah Rumah makan padang yang paling terkenal di seluruh penjuru negeri, rasa maksakannya yang sangat enak dan kebersihannya yang sangat terjaga menjadi alasannya mengapa Rumah makan padang yang satu ini sampai sangat sepopuler itu.


Pak Ridwan langsung menuju area parkir guna untuk memarkirkan mobilnya.


"Yuk turun, kita telah tiba di rumah makan padang yang saya katakan tadi. Ini tempat makan langganan dan favorit saya, jadi jangan sungkan ya! kalian bebas memilih lauk apa saja, dan makan sebanyak apapun. Saya yang traktir pokoknya! " Ucap Pak Ridwan sambil mempersilahkan mereka semua untuk turun dari mobilnya.


Pelayan di rumah makan itu, langsung mengantar mereka semua ke mejanya. Dan mencatat pesanan semua orang. Riko, Bu Adel serta yang lainnya masih terlihat malu-malu kala itu, makanya mereka tak memesan terlalu banyak lauk. Tapi kata malu nampaknya memang benar-benar tak mempan untuk menghalangi seorang Adit yang tengah kelaparan.


Ia memesan banyak sekali lauk kala itu, bahkan pesanannya hingga tiga kali lipat jiga dibandingkan yang lainnya. Semua orang sontak bengong melihat tingkah Adit yang memesan makanan secara membabi buta. Pak Ridwan pun hanya tertawa dan sesekali menggoda Adit melihat tingkahnya itu.


Bu Adel yang kala itu merasa tak enak dengan Pak Ridwan terus menatap ke arah Pak Ridwan.


"Maaf pak, kalau saya ingin membantu bapak untuk membayar semua ini boleh kan? " Tanya Bu Adel yang merasa tak enak hati, apalagi ia melihat tingkah konyol Adit. Sebagai wali kelas mereka, ia benar-benar merasa tak enak kala itu.

__ADS_1


"Loh kenapa Bu? Udah gak apa-apa kok. Kan saya tadi yang bilang mau nraktir kalian semua" Saut Pak Ridwan menanggapi tawaran dari Bu Adel.


"Iya sih pak, tapi.. " Imbuh Bu Adel lagi yang kalimatnya tiba-tiba di potong Pak Ridwan.


"Udah gak ada tapi-tapian Bu, sebelumnya saya hargai niat baik Bu Adel, akan tetapi ini sudah menjadi tanggung jawab saya. Saya ini soerang laki-kaik, jadi saya harus bisa memegang teguh omongan saya sendiri" Ujar Pak Ridwan yang kala itu ingin memberikan contoh yang baik sebagai seorang lelaki sejati terhadap Riko dan Adit.


"Riko dan Adit juga harus demikian ya. Sebagai lelaki sejati omongan kita harus selalu bisa di pegang, kita harus bertanggung jawab dalam apapun kondisinya, jangan pernah lari dari yang namanya tanggu jawab apalagi masalah. Hadapi saja semua masalah itu, yakin dan percaya lah, semua masalah tercipta langsung dengan solusinya masing-masing. Jadi dengan kata lain, pasti jalan keluar dari semua jenis masalah itu akan selalu ada, sekarang tergantung kembali ke pribadi masing-masing, kita mau berjuang untuk menemukan jalan keluar itu atau tidak" Imbuh Pak Ridwan lagi.


Riko yang melihat karakter dan pola pikir Pak Ridwan, teringat kembali dengan almarhum Ayahnya yang karakter dan pola pikirnya sama persis seperti itu. Di mata Riko dulu, Ayahnya adalah contoh sempurna dari sosok seorang lelaki sejati. Sekarang ia seakan menemukan kembali sosok yang selalu menjadi inspirasinya sedari dulu itu dari seorang Kepala Sekolah yaitu Pak Ridwan.


Riko dan Adit yang mendengar nasihat Pak Ridwan tadi pun, menatap serius ke arah Pak Ridwan dan mengiyakannya.


"Oh iya, ngomong-ngomong kita sebaiknya membawakan Dinda apaan nih? Tanya Pak Ridwan yang sedari tadi kebingungan memikirkan hal itu.


"Kita bawakan buah aja gimana pak? " Usul Lia menjawab pertanyaan dari Pak Ridwan itu.


"Kalau kondisi Dinda sudah siuman, kemudian kita bawakan buah sih bagus. Tapi kalau misalkan Dinda hingga sekarang juga belum siuman, buah itu akan tak berguna" Ujar Pak Ridwan.


"Hmm iya benar juga sih pak" Saut Lia lagi sambil memikirkan hal lain yang akan mereka bawakan untuk Dinda.


Semua orang kala itu seolah kebingungan memutuskan apa yang akan mereka bawakan untuk Dinda, hal itu terlihat dari suasana meja makan yang tadinya ramai dan seru kini seketika hening.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2