
Setelah bulat dengan keputusan mereka, dan mempertimbangkan segala kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi setelah mereka mengemukakan ide tes DNA itu, Pak Roni dan Bu Dian pun bergegas kembali ke kamar putri angkatnya. Mereka bermaksud membicarakan ide tes DNA untuk membuktikan Sinta benar-benar anak kandung Ibu Riko atau tidak, terutama terhadap Sinta.
Setibanya di kamar Sinta kembali, mereka berdua masih melihat pemandangan yang di penuhi suasana haru dan kebahagiaan sama seperti sebelumnya. Sinta kala itu terlihat amat sangat berbahagia, senyum lepas pada wajahnya seolah tak bisa menyembunyikan betapa bahagia perasaannya saat itu. Pak Roni dan Bu Dian bahkan pertama kali melihat senyum pada wajah putri kesayangannya yang selepas itu.
"Maaf sebelumnya, saya dan suami saya telah memutuskan akan melakukan tes DNA terhadap Ibu dan juga Sinta. Hal ini bertujuan untuk memperkuat bukti bahwa Sinta itu bener-benar putri kandung yang Ibu titipkan belasan tahun silam atau tidak" Ucap Bu Dian terhadap Ibu Riko yang seketika seolah menunda suasana bahagia yang telah larut sebelumnya.
"Ma? Kenapa? Mama tak rela aku menemukan keluarga kandungku?" Ucap Sinta yang mempertanyakan Ide kedua orang tuanya yang tak perlu baginya kala itu.
"Tolong jangan salah paham nak, maksud kami berdua itu baik. Ini untuk kebaikanmu juga kedepannya, supaya kita semua yakin akan kebenaran masa lalumu, supaya kamu benar-benar bertemu kembali dengan keluarga kandungmu. Kami hanya ingin memastikannya, tak ada maksud lain" Ujar Pak Roni yang berupaya meluruskan kesalahpahaman putri angkatnya itu.
"Baiklah Pak, Ibu. Saya setuju dengan ide itu. Supaya semuanya juga jelas" Saut Ibu Riko yang ikut menyetujui usul kedua orang tua angkatnya Sinta.
Di karenakan semua orang di ruangan itu telah menyetujui Sinta untuk tes DNA, prosesi tes itu pun akan segera di laksanakan guna untuk memastikan apakah benar Sinta itu anak kandung Ibu Riko dan almarhum suaminya atau tidak.
__ADS_1
Setelah hampir menunggu selama kurang lebih dua jam, akhirnya hasil tes DNA itu di ketahui dan benar saja, hasil itu menunjukkan Sinta 100% putri kandung Ibu Riko dan almarhum suaminya.
"Sinta putriku, kamu memang benar-benar putriku. Firasatku sebagai seorang Ibu tak meleset sedikit pun, kesini nak biar Ibu beri kamu kehangatan seorang Ibu, biar Ibu peluk kamu" Ucap Ibu Riko spontan dengan penuh emosional kepada Sinta yang juga tiba-tiba meneteskan air mata kebahagiaan.
Sinta pun secara dramatis berlari ke arah Ibu Riko guna untuk mendapatkan pelukan hangat dari Ibu kandungnya itu.
"Kesini Kak Riko" Ucap Sinta yang mengundang Riko untuk ikut berpelukan dengan dirinya dan Ibu kandung mereka berdua.
Riko pun dengan perasaan sedikit ragu menerima ajakan Sinta yang ternyata merupakan adik kandungnya kala itu. Riko ragu karena ia sangat bingung dengan perasaannya terhadap Sinta, ia benar-benar takut ada persaan sayang berlebih yang tak sepantasnya di tujukan ke saudara kandungnya itu, pasalnya sejak belakangan ini sering menghabiskan waktu bersama Sinta, ia merasakan perasaan yang hampir sama dengan perasaannya terhadap Dinda kepada Sinta yang merupakan adik kandungnya sendiri.
"Papa, mama terimakasih banyak untuk kasih sayang tulus kalian berdua selama ini. Aku tak akan pernah lupa akan hal itu, dan sesuai janjiku sebelumnya, aku akan mengatur waktu supaya juga bisa tinggal bersama kalian berdua" Ucap Sinta yang kemudian memeluk kedua orang tua angkatnya itu dengan penuh kasih sayang.
"Sama-sama Putriku sayang, kami akan selalu menganggapmu sebagai putri kecil kami. Pulanglah sesekali ke rumah, pintu rumah kita akan selalu terbuka untukmu sampai kapan pun" Saut Pak Roni yang berupaya tabah menerima kenyataan pahit kalau putrinya itu akan segera meninggalkan rumah mereka.
__ADS_1
"Sinta sayang, kamu janji ya jangan pernah melupakan kami berdua. Kami benar-benar sangat menyayangimu, rasa sayang itu tak akan pernah pudar oleh apapun. Seperti yang tadi di katakan papa angkatmu, pulanglah kapan pun kamu merindukan kami berdua, kami akan tetap menunggu kepulanganmu di sana" Ujar Bu Dian kala itu sambil memeluk erat tubuh putri angkarnya.
Suasana saat itu benar-benar di selimuti keharuan dan kebahagiaan, bahagia karena akhirnya Sinta dapat menemukan dan akan segera berkempumpul dengan keluarga kandungnya, yaitu Ibu Riko dan Riko, dan haru karena Sinta akan segera berpisah dengan kedua orang tua angkatnya yang telah mengasuh dan merawatnya dengan penuh kasih sayang sejak ia masih kecil.
"Kalian berdua jangan khawatir, saya dan Riko tak akan pernah melarang Sinta untuk menemui kalian, dan kami juga akan dengan senang hati mengantarkannya pulang ke rumah kalian, jika ia merasa rindu dengan kalian berdua. Ohh iya satu hal lagi, pintu rumah kami pun akan selalu terbuka lebar menyambut kedatangan kalian, jika kalian ingin menemui Sinta, ini kartu nama saya, di sana telah terdapat alamat serta nomer telepon saya" Ujar Ibu Riko yang sangat mengerti akan kesedihan yang tengah di rasakan sepasang suami istri itu sembari memberikan kartu namanya.
"Terimakasi banyak atas pengertianmu kak Intan, saya dan istri saya akan dengan senang hati meluangkan waktu untuk bertamu kerumahmu. Selain tujuan utama kami yaitu untuk menemui Sinta, kami juga ingin tetap menjalin hubungan silaturahmi yang baik dengan Kak Intan sekeluarga" Saut Pak Roni sembari tersenyum ramah menatap ke arah Ibu Riko.
"Saya juga akan selalu menjaga dan melindungi Sinta sepenuh hati Pak, Ibu. Jadi kalian tak perlu khawatir, keselamatan Sinta mulai saat ini akan selalu menjadi salah satu prioritas bagi saya" Ucap Riko sembari memegangi kepala adik kandungnya itu dengan penuh kasih sayang.
Merasan sentuhan lembut tangan Riko di atas kepalanya dan mendengar apa yang barusan di katakan kakak kandungnya itu, Sinta merasakan perasaan senang yang teramat luar biasa. Tapi di balik semua itu ia juga merasakan sedikit rasa takut, ia takut perasaan terhadap Riko itu merupakan perasaan sayang dan suka terhadap lawan jenis bukan sekedar perasaan sayang terhadap saudara kandung. Ia pun sampai bengong akibat kekhawatirannya itu.
"Ya Tuhan, Kak Riko itu adalah kakak kandungmu sendiri, jadi tolong jangan biarkan perasaan sayangku salah terhadapnya. Semoga perasaan sayang ini hanya sekedar perasaan sayang seorang adik terhadap kakak kandungnya, tak lebih dari itu" Ucap Sinta yang berdoa penuh kecemasan dalam hatinya sembari menatap ke atas.
__ADS_1
Sejak saat itu, hubungan keluarga kandung Sinta dan kedua orang tua angkatnya sangat baik.
Bersambung...