Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 34 'Pelukan Hangat'


__ADS_3

"Baik tante, terimakasih banyak atas kepercayaannya. Kami berdua tak akan mengecewakan tante" Ucap Sinta dengan sangat bersemangat.


"Oh iya, satu hal lagi tan. Boleh gak aku minta tolong tante untuk memesan makanan buat Kak Riko melalui aplikasi online?" Imbuhnya kala itu karena merasa kasihan dengan kondisi perut Riko yang hampir setiap menit berbunyi, menandakan perutnya itu merasa sangat keroncongan.


"Tentu Sinta, tante akan memesan makanan via aplikasi online untukmu juga. Kamu tante pesankan apa?" Tanya Ibu Riko dengan nada lembut.


Entah kenapa Ibu Riko juga merasakan hal yang sama dengan anaknya yaitu Riko, bahkan belum sempat bertemu dan mengenal Sinta secara langsung, beliau sudah merasa nyaman dan sangat peduli dengannya. Bahkan Ibu Riko saat Sinta meminta izin untuk membiarkan Riko menginap di kamarnya tadi, langsung mengizinkannya tanpa berpikir panjang. Hal itu juga di luar perkiraan Riko hingga membuatnya terheran-heran oleh sikap Ibunya yang mengejutkan itu.


"Aku sudah kenyang kok tante, terimakasih banyak atas tawarannya. Kak Riko sangat beruntung ya masih mempunyai Ibu kandung, apalagi Ibu kandungnya sangat baik begini. Aku jadi iri" Ujar Sinta dengan nada sedikit lemas kala itu.


"Tapi tante juga sangat beruntung lo, mempunyai putra seperti Kak Riko. Semoga kalian bisa menjadi keluarga yang berbahagia selamanya ya tan" Imbuh Sinta lagi yang kala itu tiba-tiba meneteskan air matanya.


Sinta langsung mengembalikan ponsel Riko tanpa mencoba mendengarkan apa respon atau tanggapan Ibu Riko atas ucapannya tadi, dan ia pun langsung berbaring di atas kasurnya sambil menangis sedih.


Sinta tiba-tiba memikirkan dimana sebenarnya orang tua kandungnya berada, kenapa ia harus tumbuh besar tanpa mereka? Ia benar-benar iri dengan Riko setelah merasakan kekhawatiran dan kasing sayang seorang Ibu kandung yang teramat tulus dari Ibu Riko, walaupun hanya melalui panggilan via telepon tadi.


"Sinta Sinta" Panggil Ibu Riko yang mendapti suara Sinta tiba2 hilang dari panggilan itu.


"Hallo bu, Sinta baru saja mengembalikan ponselku, lalu pergi ke tempat tidurnya sambil menangis" Ujar Riko yang menceritakan situasi kala itu.

__ADS_1


"Riko kamu dengerin apa kata Ibu baik-baik, pokoknya apapun yang terjadi, kamu harus tetap menjaga Sinta! Entah kenapa Ibu merasakan ada yang sangat berbeda darinya, insting Ibu sebagai seorang Ibu mengatakan, Sinta bukan orang asing buat Ibu" Ucap Ibu Riko dengan nada yang sangat serius terhadap Riko.


"Baik bu, aku akan menjaga Sinta dengan tulus sesuai perintah Ibu. Tapi jujur aku bingung dengan maksud kalimat Ibu tadi. Maksudnya Sinta seperti bukan orang asing untuk Ibu itu gimana ya?" Tanya Riko yang penasaran dengan apa maksud dari kalimat Ibunya tadi.


Riko paham betul dengan gaya berbicara Ibunya itu, ketika nada Ibunya berbicara tiba-tiba berubah seakaan sangat serius. Saat itu pasti benar-benar ada hal besar yang sedang dipikirkan Ibunya.


"Gak ada apa-apa kok nak, mungkin Ibu hanya kasian dan prihatin dengan kondisi Sinta sekarang. Ya sudah, kamu ga usah mikir yang aneh-aneh Riko. Ibu mau memesan makanan untukmu dulu, daa" Saut Ibu Riko yang langsung menutup teleponnya.


Setelah panggilan melalui telepon dengan Ibunya itu berakhir, Riko langsung berusaha menenangkan Sinta yang masih bersedih di atas kasurnya.


"Dik, sudahlah jangan menangis lagi. Nanti kondisi mu semakin melemah lo" Ucap Riko yang berupaya membujuk Sinta untuk berhenti menangis.


"Bukannya aku tak bersyukur dan mengeluh dengan keadaanku Kak Riko. Walaupun saat ini aku memiliki orang tua angkat yang sangat baik dan menyayangiku dengan tulus, tapi terkadang jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin sesekali bertemu dengan orang tua kandungku. Aku ingin merasakan kasih sayang dari mereka langsung. Aku hampir setiap malam selalu memanjatkan doa tulus terhadap Sang Pencipta, agar suatu saat aku bisa di pertemukan dengan orang tua kandungku" Imbuh Sinta lagi.


"Aku turut prihatin ya dik atas kondisi mu ini, maaf sebelumnya, kalau boleh aku tau, kamu sudah pernah mencari tahu tentang keberadaan orang tua kandungmu?" Tanya Riko penasaran.


"Sebelumnya sudah pernah kok kak, beberapa kali. Tapi hasilnya tetap saja nihil, dan terkadang aku juga bingung mau mencari mereka kemana" Saut Sinta dengan tatapan kosong ke sudut ruangan kamarnya.


"Oh begitu ya dik, kamu sudah pernah tanya ke petugas panti asuhan tempatmu dulu sebelumnya belum? Siapa tau kan kamu dapat petunjuk soal keberadaan orang tuamu dari mereka" Tanya Riko yang semakin lama semakin penasaran.

__ADS_1


"Hmm sudah Kak Riko, tapi bu kantin menceritakan ia sama sekali tak menemukan petunjuk soal siapa dan di mana orang tuaku berada, ketika dulu ia menemukanku saat masih bayi di depan pintu gerbang panti asuhan" Ujar Sinta yang berupaya menceritakan situasinya.


"Kak Riko duduk di sini aja, di sebelahku" Imbuh Sinta lagi kala itu yang awalnya berbaring mulai duduk di atas tempat tidurnya, sembari menepuk-nepuk tempat kasurnya itu.


"Ga usah Dik Sinta, aku di sini saja gak apa-apa kok" Saut Riko singkat menolak tawaran Sinta kala itu.


"Wahh kalau gitu situasinya, pasti sulit untuk menemukan keberadaan orang tuamu. Akan tetapi kamu tak perlu khawatir ya dik, ketika kamu sudah sembuh nanti, aku berjanji akau membantumu untuk mencari keberadaan mereka" Imbuh Riko yang langsung mendekati Sinta yang sedang duduk sendirian di atas tempat tidurnya, sembari mengarahkan salah satu jari kelingkingnya ke arah Sinta.


Sinta bukannya menyambut jari kelingking Riko, tapi ia malah memeluk erat tubuh Riko, hingga seketika membuat Riko kaget dengan tindakan Sinta itu. Sinta bahkan tak takut sama sekali terhadap situasinya kala itu, di mana ia hanya berudaan bersama seorang remaja pria yang tergolong baru ia kenal di dalam kamarnya.


Riko yang di peluk erat Sinta, merasakan hawa tubuh Sinta yang begitu hangat. Pelukan itu juga seketika mengingatkannya dengan pelukan gadis yang selama ini ia cintai, yaitu Dinda.


"Pelukan ini... Terasa Persis seperti pelukan Dinda. Gawat nih, jangan-jangan benih Cinta mulai tumbuh di hatiku untuk Sinta, kenapa aku merasa deg-degan?" Ucap Riko dalam hatinya.


Riko sama sekali tak berupaya melepaskan diri atau melawan pelukan Sinta yang tiba-tiba mengarah hangat ke tubuhnya kala itu. Seolah ia sangat amat menikmati suasana dan sensasinya.


"Terimakasih banyak ya Kak Riko atas semuanya, entah kenapa ketika aku berada di sampingmu aku merasa sangat nyaman dan aku merasa akan bisa melewati semua masalahku, tak peduli seberapa berat pun masalah itu" Ungkap Sinta yang kala itu masih memeluk erat tubun Riko.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2