Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 20 'Barang Bukti Yang Hilang'


__ADS_3

Riko senang sekaligus sedih setelah mendengar pernyataan dari dokter tersebut, ia senang karena telah mengetahui Dinda sedang berada di rumah sakit mana sekarang, dan bersedih karena sikap Ibunya Dinda yang membuat hatinya hancur, dimana Ibunya Dinda seolah benar-benar menyalahkan Riko atas musibah dan kesialan yang belakangan ini sering menimpa Dinda.


"Sudah Riko ga usah terlalu dipikirin sikap Ibunya Dinda, yang terpenting sekarang kamu telah mengetahui ke mana Dinda di rujuk pagi tadi" Ucap dokter itu berupaya menenangkan Riko, setelah Riko terlihat bengong dengan ekspresi penuh kekecewaan.


"Iya Riko, Ibu ngerti kok perasaan kamu saat ini. Tetapi benar apa yang telah dikatakan dokter. Hal terpenting saat ini adalah mengetahui posisinya Dinda, jadi kita tahu kemana kaki kita harus melangkah sekarang. Yuk kita segera ke Internasional Hospital itu" Imbuh Bu Adel, yang kini juga berupaya menenangkan Riko.


"Terimakaso banyak atas informasinya dok, terimakasih juga buat semuanya bu. Tanpa Bu Adel dan Dokter, saya pasti tak bisa melewati semua ini" Ucap Riko dengan menatap mata kedua orang yang telah banyak membantunya untuk melewati masa-masa berat ini. Dokter itu dan Bu Adel hanya merespon ucapan terimakasih Riko dengan tersenyum.


Riko dan Bu Adel pun, bergegas ke Internasional Hospital yang di katakan Dokter tadi.


Sesampainya di sana, mereka berdua langsung menanyakan kamar pasien yang baru tadi pagi di rujuk, atas nama Dinda kepada petugas depan rumah sakit itu. Untungnya saat itu hanya ada satu pasien atas nama Dinda, yang pastinya Dinda yang di maksud, adalah Dinda yang mereka cari.


Setelah mengetahui nomor kamar Dinda dari petugas depan Internasional Hospital itu, mereka pun langsung bergegas menuju ke sana.


"Tunggu aku Dinda, aku akan kesana. Aku akan menemani dan menjagamu lagi" Ucap Riko dalam hati dengan haru sembari terus melangkahkan kakinya menuju kamar Dinda.


Mereka melihat Dinda masih terbaring tak sadarkan diri di kamarnya sendirian, dari kaca yang terdapat pada pintu kamar itu.


Riko dan Bu Adel tanpa rasa ragu memasuki ruangan itu, sekarang terlihat wajah Dinda sudah jauh lebih segar jika dibandingkan terakhir kali di lihat Riko. Riko duduk tepat di kursi yang tersedia di sebelah tempat Dinda berbaring tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Ayolah Dinda cepat sadar, aku kangen tawa dan senyummu yang dulu selalu menghiasi hari-hariku. Aku tak kuat melihatmu seperti sekarang ini" Ucap Riko sambil mencium tangan Dinda dan meneteskan air mata.


Bu Adel yang melihat pemandangan itu langsung, hanya bisa tersenyum sambil sesekali juga meneteskan air mata. Ia prihatin melihat kisah sepasang muda-mudi ini, yang begitu terlihat di penuhi tantangan.


"Kreeekk.." Suara pintu kamar itu yang tiba-tiba berbunyi, menandakan seseorang telah memasuki kamar tempat Dinda di rawat.


"Riko!!" Terdengar suara Ibunya Dinda lantang dari arah pintu kamar, ternyata Ibunya Dinda lah yang baru saja memasuki kamar itu.


Riko yang tadi masih tertunduk sembari menangis di atas tangannya Dinda yang berisikan alat infus, seketika mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Ibunya Dinda yang tadi baru saja membentaknya. Ibunya Dinda langsung mendekati Riko dan tanpa berbasa-basi berupaya menyeretnya untuk keluar dari kamar itu. Bu Adel berusaha untuk menenangkan dan menghalangi tindakan kasar Ibu Dinda terhadap Riko, tetapi Riko menahannya.


"Bu, tolong percaya sama saya, bukan saya yang menyebabkan Dinda menjadi seperti sekarang ini. saya sangat mencintai putri Ibu, saya telah berusaha untuk melindunginya, tetapi semua itu terjadi begitu cepat, Julian mondorongnya dengan keras dari arah belakang" Ujar Riko sambil menangis, berusaha untuk meyakinkan Ibunya Dinda untuk kesekian kalinya.


Ibunya Dinda memang tipe orang yang tak mudah percaya terhadap omongan orang lain, ia hanya akan percaya terhadap kalimat dari putrinya langsung, yaitu Dinda. Yang jadi permasalahannya sekarang, jangankan menceritakan dan menjelaskan semuanya terhadap dirinya, Dinda saja masih belum siuman dari waktu itu.


"Cukup bu, tolong tenang dulu, ini rumah sakit. Saya akan buktikan terhadap Ibu, kalau apa yang di katakan Riko itu memang sesuai realitanya" Ucap Bu Adel yang telah percaya penuh terhadap Riko. Mereka berdua pun meninggalkan kamar Dinda dengan kepala tertunduk karena merasakan kesedihan yang mendalam, terutama Riko.


"Terimakasih Bu, Ibu selalu membela saya dari tudingan Ibuny Dinda" Ucap Riko kini terhadap Bu Adel.


"Sama-sama Riko, sudah menjadi kewajiban Ibu sebagai wali kelas kalian" Saut Bu Adel dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


Mereka berdua pun pergi ke kantin Internasional Hospital itu guna untuk mengisi perut, dan sekedar menenangkan pikiran. Saat sedang makan, Riko teringat kata dokter yang sebelumnya menangani Dinda. Dokter itu menyarankan Riko untuk membawa kasus ini ke jalur hukum, karena ia menilai Julian telah bertindak kelewatan.


"Bu Adel, kalau kita bawa kasus ini ke jalur hukum gimana menurut Ibu? " Tanya Riko meminta pertimbangan wali kelasnya itu.


"Ibu dan Pak Ridwan sebenarnya sudah pernah memikirkan untuk membawa persoalan ini ke jalur hukum sebelumnya Riko, akan tetapi kami mengurungkan niat karena tak memiliki bukti yang cukup kuat untuk kasus yang satu ini" Saut Bu Adel yang berusaha menjelaskan situasinya.


"Di sekolah kita kan di penuhi kamera CCTV, memang rekamannya itu tak cukup untuk menjadi bukti bu? " Tanya Riko yang kini kian serius mengenai keinginannya untuk membawa kasus ini ke kepolisian.


"Bukti rekaman CCTV adalah merupakan bukti yang sangat kuat untuk membawa suatu kasus ke jalur hukum, akan tetapi yang jadi permasalahannya, rekaman CCTV hari dimana insiden berdarah itu berlangsung hilang. Kamera CCTV seakan tak berfungsi pada hari itu" Ucap Bu Adel yang menceritakan kejanggalan yang ia temui pada rekaman CCTV yang hilang. Ia curiga ada seseorang yang sengaja menghapus rekaman CCTV hari itu atau bahkan mungkin ada seseorang yang sengaja mematikannya.


Mendengar pernyataan Bu Adel itu, Riko menaruh curiga terhadap Julian. Kecurigaan Riko ini tak asal, tetapi di dasari oleh beberapa alasan pendukung yang sangat kuat. Salah satu di antaranya adalah Julian yang merupakan pelaku utama yang menyebabkan Dinda celaka kala itu.


Riko sampai bengong karena berusaha memikirkan cara untuk mengungkap semua realitanya. Realita yang seharunya terkuak dan tak menyebabkan dirinya di tuding sebagai penyebab celakanya Dinda oleh Ibunya.


"Riko Riko" Panggil Bu Adel yang menyadarkan Riko dari bengong.


"Iya bu" Saut Riko singkat.


"Apa yang kamu pikirkan Riko? Ada hal yang menganjal soal kasus ini di pikiranmu?" Tanya Bu Adel yang kini penasaran dengan penyebab bengongnya Riko.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2