
"Tidak akan pak, aku tak akan pernah meninggalkan kalian. Seperti apa yang telah ku katakan sebelumnya, jika aku nanti sudah bersama keluarga kandungku, aku akan mengatur waktu untuk bisa tinggal dengan Bapak dan Mama juga, jangan khawatir" Ucap Sinta yang berusaha untuk meyakini kedua orang tua angkatnya kala itu.
Mendengar pernyataan Sinta itu, Bu Dian dan kemudian diikuti Pak Roni seketika mulai melepas pelukan Sinta, dan menatap serius ke arahnya. Walaupun Bu Dian sebenarnya merasa sedikit kecewa dengan pernyataan Sinta yang ternyata punya niatan untuk mencari dan menemukan keluarga kandungnya, Bu Dian tetap menghargai keputusan putri angkatnya itu. Karena yang terpending baginya kala itu, adalah kebahagiaan Sinta.
"Baiklah nak, demi kebahagiaanmu Mama akan memberikan Ibu ini kesempatan untuk membuktikan semua ucapannya. Untuk membuktikan kalau beliau adalah memang benar Ibu Kandungmu, tapi jika ia masih saja tak bisa membuktikan semua ucapannya dalam kurun waktu tiga bulan, Mama selaku orang tua yang telah merawat dan membesarkanmu dengan penuh kasih sayang, berhak melarangnya untuk menemui lagi" Ujar Bu Dian sembari tetap menatap Sinta dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih banyak ma, aku bersyukur bisa di adopsi oleh orang tua yang sangat baik dan penyayang seperti kalian berdua. Aku berjanji sampai kapanpun, Mama dan Bapak akan selalu menjadi orang tuaku" Ucap Sinta sembari kembali memeluk kedua orang tua angkatnya.
"Terimakasih atas kesempatannya bu, saya akan berusaha menemukan bukti itu, sekali lagi saya ucapkan terimakasih" Ucap Ibu Riko sembari melempar senyuman ke arah Bu Dian kala itu.
Merespon itu, Bu Dian hanya tersenyum tipis.
Beberapa saat berlalu, Ibu Riko, Sinta, berserta kedua orang tua angkatnya pun duduk bersama di sofa ruangan itu, guna sekedar bercengkrama untuk bisa saling mengenal lebih dalam lagi.
Setelah beberapa saat berbicara, Bu Dian menceritakan alasannya mengadopsi Sinta, dan mengapa ia dan suaminya bisa sangat menyayangi Sinta dengan begitu tulus. Ibu Riko pun akhirnya paham mengapa Bu Dian dan suaminya tadi terlihat begitu sangat melindungi Sinta.
Pintu kamar itu tiba-tiba berbunyi, menandakan ada seseorang yang akan masuk ke kamar Sinta. Adalah Riko yang memasuki kamar Sinta saat itu, ia terlihat jauh lebih segar dengan pakaian baru yang baru saja ia kenakan.
"Horee Kak Riko datang, sini kak duduk di sebelahku" Ucap Sinta menyambut Riko dengan penuh semangat dan gembira.
Riko pun duduk di sebelah Sinta, dengan perasaan yang sedikit canggung.
__ADS_1
"Oh iya perkenalkan ma, pak. Ini Kak Riko, ia adalah putra dari Ibu ini. Kak Riko yang dulu sempat aku ceritakan ke mama karena telah menyelamatkanku dari gangguan para preman. Mama ingat kan?" Ucap Sinta penuh semangat memperkenalkan Riko kala itu.
"Ohh iya mama ingat, ohh jadi ini yang namanya Riko, yang membuat Sinta tersenyum seharian waktu itu" Ucap Bu Dian sembari menggoda Sinta.
"Mama!" Saut Sinta singkat sambil tersipu malu.
"Tapi entah kenapa wajahnya seperti tak asing bagi mama ya. Kita pernah bertemu sebelumnya Riko?" Tanya Bu Dian penasaran terhadap Riko.
"Aahh iya, mama ingat. Riko ini dulu juga sempat menolong mama ketika mama hendak di rampok oleh dua orang preman lo. Ia sangat hebat dalam urusan berkelahi, bahkan preman yang membawa senjata sekalipun bisa dengan mudah ia kalahkan. Ia juga dulu menolak imbalan yang ingin mama berikan" Ujar Bu Dian dengan penuh antusias, bola matanya seketika melebar kala itu karena saking kagumnya terhadap remaja yang kini duduk di samping putrinya.
"Kan apa aku bilang ma, Kak Riko emang sangat keren!" Ucap Sinta sambil memeluk lengan kanan Riko.
"Ah jangan berlebihan begitu tante, biasa saja kok. Lagian aku hanya menjalankan kewajibanku saja, sebagai seorang manusia untuk bisa menolong sesama" Saut Riko sambil berupaya melepas pelukan Sinta, karena ia malu terhadap Ibunya dan kedua orang tua angkat Sinta.
"Oh iya sama-sama om, sudah menjadi kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling menolong" Saut Riko sembari menyambut uluran tangan itu dan tersenyum ramah.
Ibu Riko yang mengetahui anaknya begitu rendah hati dan suka menolong orang di luar sana, merasa sangat bangga melihat pemandangan itu. Ia tersenyum bahagia sambil terus menatap ke arah Riko.
"Ibu sangat beruntung lo bisa mempunyai anak seperti Riko ini, ia bisa sehebat itu dalam urusan bela diri, belajar dari mana?" Tanya Pak Roni penasaran terhadap Ibu Riko.
"Terimakasih banyak Pak, saya memang sedari dulu sangat bangga dan bersyukur mempunyai anak seperti Riko ini. Ia bisa menguasai bela diri seperti sekarang ini, karena didikan dari almarhum ayahnya sejak Riko masih berumur 4 tahun" Saut Ibu Riko dengan bangganya.
__ADS_1
"Oh pantesan, Ngomong-ngomong melihat Riko ini, saya jadi teringat dengan kakak kelas saya waktu SMA dulu. Karakter dan keterampilan dalam urusan bela diri dulu sangat saya kagumi. Tapi saya tak tahu beliau tinggal dimana sekarang" Ujar Pak Roni sembari menatap Riko.
"Namanya Riki Setiawan, ia dulu berjuang sendirian di sekolah kami untuk melawan aksi pembulian dari anak-anak kelas 12. Ia benar-benar menjadi malaikat pelindung untuk orang-orang yang sering di bully seperti saya ini hehe" Imbuhnya lagi.
"Riki Setiawan? Riki Setiawan yang ada tahi lalat di pipi kirinya bukan?" Tanya Ibu Riko penasaran dengan cerita Pak Roni kala itu.
"Iya bu, kok Ibu bisa tau ciri-ciri bang Riki?" Tanya Pak Roni yang di buat terheran-heran oleh pertanyaan Ibu Riko kala itu.
"Riki Setiawan yang ada tahi lalat di pipi kirinya itu adalah almarhum suami saya pak" Saut Ibi Riko singkat.
Pak Roni tercengang mendengar pengakuan Ibu Riko itu. Pasalnya ternyata Riko besar kemungkinan anak kandung dari kakak kelas yang ia sangat kagumi saat SMA dulu, yaitu Bang Riki Setiawan.
"Wahh Bang Riki suami Ibu? Ia telah meninggal?" Tanya Pak Roni yang kian penasaran.
"Iya Pak, Almarhum Bang Riki adalah suami saya. Ia meninggal karena kecelakaan dulu" Saut Ibu Riko dengan tatapan sedih.
"Saya ikut berduka cita ya bu, padahal beliau ada sosok yang amat saya kagumi. Kalau boleh tau, Ibu kenal beliau dimana dulu?" Tanya Pak Roni lagi.
"Saya dulu teman sekelas beliau waktu SMA" Saut Ibu Riko singkat.
"Jangan-jangan Ibu Ini adalah Kak Intan Permatasari ya?" Tanya Pak Toni yang semakin penasaran.
__ADS_1
"Iya Pak, kok bisa kenal saya? Bapak siapa sebenarnya?" Kala itu Ibu Riko yang balik bertanya karena saking penasarannya dengan Pak Roni.
Bersambung...