Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 38 'Petanda Lewat Sebuah Mimpi'


__ADS_3

"Kenapa Ibu tak melaporkan ke polisi saja aksi ancaman itu? Kenapa malam memisahkan aku dengan dengan adik kandungku sendiri?" Tanya Riko terbata-bata sambil mengusap air matanya yang terus saja berjatuhan.


"Situasi saat itu tidak memungkinkan untuk menghubungi pihak kepolisian Riko, si pengirim surat misterius itu seolah telah mengikuti dan mengintai kami dari suatu tempat. Kami khawatir mereka akan bertidak cepat jika mengetahui kami berupaya untuk menghubungi polisi" Ujar Ibu Riko yang berusaha menjelaskan situasi rumit yang dirinya dan almarhum Ayah Riko alami kala itu.


"Kalau situasinya serumit dan seberesiko itu, mengapa teman SMP Ayah bisa membantu kalian untuk di titipkan adikku?" Tanya Riko lagi, ia seolah berupaya mengeluarkan semua unek-unek dalam dirinya tentang hal yang menghancurkan hatinya ini.


"Teman SMP ayahmu itu adalah seorang Dokter di rumah sakit tempat Ibu melahirkan adikmu, makanya menitipkan adikmu ke beliau merupakan opsi terbaik dan teraman bagi kami saat itu. Tapi itu kali terakhir Ibu dan almarhum Ayahmu melihat wajah manis adikmu, setelah itu kami benar-benar kehilangan jejak dan putus komunikasi dengan teman ayahmu itu, kami sudah berusaha mencari keberadaan adikmu berulang kali, akan tetapi hasilnya tetap saja nihil, hingga maut menjemput ayahmu nak" Imbuh Ibu Riko sembari terus meneteskan air mata, ia seolah menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian pilu yang harus memisakan putrinya dan dirinya saat itu.


Riko yang pertama kali melihat Ibunya hingga menangis seperti itu merasa prihatin, dan seketika berusaha untuk mengkesampingkan egonya.


"Sudah Bu, jangan menyalahkan diri sendiri begitu, tak baik. Sekarang aku berjanji pada Ibu, akan menemukan keberadaan adikku suatu saat nanti" Saut Riko yang langsung memeluk hangat tubuh Ibunya.


"Kita sudah menemukannya nak, Ibu yakin Sinta itu adik kandungmu. Insting Ibu mengatakan demikian" Saut Ibu Riko sembari menatap Sinta yang kala itu masih tertidur lelap.


"Tapi insting saja tak cukup bu, kita perlu membuktikannya. Ibu masih ingat letak tanda lahir adikku?" Tanya Riko yang tiba-tiba seolah ingin menemukan bukti yang kuat bahwa Sinta itu benar adik kandungnya atau tidak.


"Maafkan Ibu Riko, karena situasi terdesak yang Ibu jelaskan sebelumnya, Ibu tak sempat memperhatikan tanda lahir adikmu" Saut Ibu Riko yang kembali menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Sudah dong nangisnya bu, aku jadi tambah sedih melihat Ibu menangis seperti ini" Ungkap Riko yang berusaha memikirkan jalan keluar dari persoalan rumit yang kini tengah ia dan Ibunya hadapi.


"Ahaa.. Aku terpikirkan satu cara untuk menemui adikku bu, aku yakin 100% cara ini akan berhasil" Ucap Riko tiba-tiba penuh semangat.


"Cara apa nak?" Tanya Ibu Riko sembari mengusap air matanya, dan seketika bola matanya membesar mendengar ucapan Riko itu, seolah penuh dengan harapan, harapan keajaiban akan terjadi dan dapat mempersatukan dirinya beserta Riko dengan adiknya kembali suatu saat nanti.


"Ibu punya foto teman SMP ayah yang ibu titipkan adikku? Aku pikir satu-satunya cara untuk mencari dan menemukan keberadaan adikku adalah menanyakan langsung ke teman SMP ayah itu" Tanya Riko sembari menatap serius ke arah Ibunya.


"Ada Riko, tapi fotonya sekarang di rumah. Nanti setelah kita sampai di rumah, Ibu kasi fotonya. Emang kamu mau mencari beliau di mana? Pencarian Ibu yang telah lama saja tak kunjung membuahkan hasil" Saut Ibu Riko dengan sedikit keraguan dalam hatinya.


"Karena Ibu tadi mengatakan bahwa beliau adalah seorang dokter, aku berencana akan mencarinya dari rumah sakit ke rumah sakit. Aku pasti akan menemukannya bu, Ibu tenang saja" Ucap Riko yang berusaha meyakinkan dan menghapus kesedihan Ibunya dengan penuh semangat.


Semenjak ungkapan jujurnya terhadap Riko, Ibu Riko masih saja menatapi wajah Sinta yang tengah tertidur pulas, sembari berharap Sinta tak mendengar percakapannya dengan Riko tadi. Ibu Riko takut jika Sinta mendengar semuanya, ia malah akan jadi menjaga jarak dari dirinya dan Riko. Tentu itu hal yang sama sekali tak ia inginkan.


Setelah situasinya kondusif kembali, Ibu Riko menyuruh Riko mandi di kamar mandi Internasional Hospital itu dan mengganti seragam sekolah yang masih ia kenakan dengan baju yang telah di bawakan Ibunya dari rumah, karena ia tahu betul anaknya sama sekali belum mandi dari sehari sebelumnya, hal itu terlihat dari seragam sekolah yang hingga saat itu masih di kenakan oleh Riko.


"Mandi dulu sana nak, biar tubuhmu terasa lebih segar, Ibu sudah menyiapkan peralatan mandi dan baju ganti untukmu. Setelah itu mari kita makan bersama-sama, biar Ibu pesankan makanan melalui aplikasi online lagi" Ucap Ibu Riko kala itu.

__ADS_1


"Yahh.. Akhirnya aku mandi juga, terimakasih banyak bu" Saut Riko dengan penuh semangat, sembari mengambil alat-alat mandi yang telah di siapkan Ibunya tadi dan segera bergegas untuk mandi di kamar mandi Internasional Hospital itu.


Hampir setengah jam berlalu, kala itu Sinta baru saja tersadar dari tidurnya yang sangat lelap. Setelah ia terbangun, orang pertama yang di tanyakannya adalah Riko.


"Kak Riko dimana bu?" Tanyanya singkat, sesaat setelah ia membuka ke dua mata indahnya. Pertanyaannya itu juga seketika menyadarkan Ibu Riko yang sedari tadi melamun menatap ke pintu kamar Sinta.


"Eh Sinta, kamu udah bangun? Riko sedang ke kamar mandi Internasional Hospital ini nak, Ibu menyuruhnya mandi dan mengganti seragam sekolah yang dari kemarin masih ia kenakan" Saut Ibu Riko sambil mendekat ke arah Sinta, dan kemudian duduk di sebelahnya.


"Ohh aku kira Kak Riko kemana. Bu, tadi aku mimpi aneh" Ucap Sinta singkat sambil menatap serius ke arah Ibunya Riko.


"Mimpi aneh seperti apa Sin?" Tanya Ibu Riko penasaran kala itu.


"Aku mimpi, akhirnya aku menemukan keluarga kandungku" Saut Sinta singkat sambil memalingkan pandangannya dari Ibu Riko.


"Hah? Terus anehnya dimana nak? Tanya Ibu Riko yang semakin penasaran oleh maksud ceritanya Sinta.


" Yang aneh di mimpi itu, keluarga kandungku itu adalah Ibu dan Kak Riko. Hal itu kan gak mungkin ya bu, soalnya aku tahu Kak Riko itu anak semata wayang Ibu dan tentu tak mempunyai saudara kandung" Ujar Sinta sembari tersipu malu.

__ADS_1


Bukannya merespon cerita Sinta tentang mimpinya itu dengan kata-kata, Ibu Riko malah meresponnya dengan segera memeluk erat tubuh Sinta sambil menangis lagi.


Bersambung...


__ADS_2