
Ibu Riko menangis tersedu-sedu sambil tetap memeluk erat tubuh Sinta. Setelah mendengar cerita tentang mimpi Sinta tadi, firasat dan keyakinannya semakin menguat bahwa Sinta itu memang benar-benar putri kandungnya yang belasan tahun lalu di paksa keadaan harus berpisah dengannya.
Sinta lagi dan lagi merasakan kenyamanan dan kehangatan yang teramat sangat luar biasa dari pelukan itu, hal itu seolah memaksa pikiran dan jiwanya untuk yakin bahwa mimpi yang barusan ia alami adalah petanda kenyataan.
"Ibu kenapa malah menangis mendengar ceritaku? Aku ada salah ngomong atau gimana?" Tanya Sinta yang penasaran dengan reaksi Ibu Riko yang tiba-tiba memeluk tubuhnya itu.
"Riko sebenarnya bukan anak semata wayang Ibu Sin. Kira-kira belasan tahun lalu, Ibu pernah melahirkan seorang putri yang sangat cantik. Tapi keadaan yang sangat rumit memaksa Ibu dan almarhum suami Ibu menitipkannya" Ujar Ibu Riko sambil tetap menangis dalam pekukan Sinta.
Mendengar cerita singkat dari Ibu Riko itu, Sinta sangat terkejut dan seketika mematung tanpa sepatah kata pun. Air mata tiba-tiba keluar dari mata indahnya setetes demi setetes.
"Bu, Ibu mengetahui letak tanda lahir putri kandung Ibu dimana?" Tanya Sinta terbata-bata, karena saat itu ia juga ikut berbicara dalam keadaan menangis.
"Ibu belum sempat memperhatikan dan mengetahui letak tanda lahir putri Ibu Sin, karena situasi saat itu benar-benar terdesak. Ibu bahkan hanya sempat mengendong putri Ibu dalam kurun waktu yang terbilang sangat singkat, sebelum almarhum Suami Ibu menitipkannya ke kakak kelas beliau waktu SMP yang kebetulan seorang dokter di sana. Amlarhum suami Ibu menitipkannya ke dokter itu karena ia mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan kami berdua" Ujar Ibu Riko yang berusaha menjelaskan situasi saat itu sembari melepas pelukannya dan mulai mengusap air mata Sinta dengan penuh kasih sayang.
"Jujur saat pertama kali mendengar suaramu lewat telepon kemarin, insting Ibu mengatakan kamu adalah putri Ibu yang selama ini Ibu cari-cari Sin. Ibu sangat yakin akan hal itu, walaupun Ibu tak mempunyai bukti mengenai hal itu" Imbuh Ibu Riko lagi.
"Ibuu... " Teriak Sinta sembari kembali meneteskan air mata dan memeluk tubuh Ibu Riko kala itu.
__ADS_1
"Entah Ibu memang benar Ibu kandungku atau tidak, tapi yang jelas aku sangat nyaman berada di pelukanmu. Aku belum pernah merasakan kenyamanan yang sehebat ini sebelumnya" Imbuh Sinta lagi.
Di tengah suasana yang di penuhi keharuan dan kebahagiaan itu, tiba-tiba sepasang Suami Istri yang terlihat sebaya dengan Ibu Riko, memasuki kamar rawat Sinta yang sontak memecah suasana haru saat itu. Mereka adalah Pak Roni dan Bu Dian, orang tua angkatnya Sinta.
Setelah bisa terlepas dari kesibukannya masing-masing, Pak Roni dan Bu Dian baru sempat menjenguk Putri angkat kesayangan mereka. Putri angkat yang mereka anggap seperti putri kandung sendiri, pasalnya walaupun telah belasan tahun menikah, mereka tak kunjung di karuniai seorang buah hati pun.
"Maaf, Ibu siapa ya?" Tanya Bu Dian penasaran terhadap Ibu Riko, yang ia lihat sangat dekat dan akrab dengan putri angkatnya.
"Mama, papa!!" Ucap Sinta kegirangan, menyambut kedua orang tua angkatnya yang baru saja tiba.
Mendengar pernyataan Ibu Riko itu, Bu Dian sangat terkejut. Akhirnya setelah belasan tahun merawat dan membesarkan Sinta dengan kasih sayang yang tulus, kini baru kali pertama seseorang muncul dan mengaku sebagai orang tua kandung Sinta.
Bu Dian sama sekali tak bisa menerima pernyataan yang barusan saja keluar dari mulut Ibu Riko, ia takut Sinta yang selama ini ia anggap anak kandung sendiri akan pergi meninggalkannya dan suaminya. Selama belasan tahun ini, mereka berdua sangat bahagia atas kehadiran Sinta di tengah-tengah mereka, Sinta yang periang dan selalu ceria di rumah telah memberikan warna tersendiri bagi hidup sepasang suami istri itu.
Tentu mereka tak akan pernah rela jika ada seseorang yang tiba-tiba datang dan berniat untuk mengambil Sinta dari mereka, bahkan jika itu orang tua kandung Sinta sekalipun.
"Jangan mengarang cerita bu! Cepat menjauh dari anak kami, dan keluar dari ruangn ini!" Bentak Pak Roni kepada Ibu Riko yang kala itu masih berada tepat di sebelah Sinta.
__ADS_1
"Bapak! Kalau bapak mengusir Ibu kandungku, aku juga akan ikut pergi dari sini!" Bentak Sinta terhadap Bapak angkatnya, Sinta kala itu mengancam akan ikut pergi dengan Ibu Riko.
"Sinta sayang, kamu tak boleh pergi dari kami, kamu anak kami nak" Ujar Bu Dina yang bergegas mendekati Sinta dan membujuknya untuk tidak punya pemikiran pergi dari dirinya dan suaminya.
"Maafkn ucapan suami saya tadi bu, tapi apakah Ibu mempunyai bukti yang kuat bahwa Sinta adalah putri kandung Ibu?" Tanya Bu Dina lembut, sembari membalas tatapan Ibu Riko yang serius tadi.
"Untuk saat ini, saya memang belum mempunyai bukti yang kuat mengenai hal itu, tapi kita sama-sama seorang perempuan dan juga seorang Ibu, insting saya sebagai seorang Ibu mengatakan Sinta adalah putri kandung saya yang belasan tahun silam, saya titipkan kepada seorang dokter bu" Ujar Ibu Riko dengan penuh emosional, hingga meneteskan air mata dan sekujur tubuhnya bergetar.
"Saya selaku Ibu angkatnya Sinta, terus terang merasa keberatan jika ada seseorang yang tiba-tiba datang dan berniat mengambil Sinta dari kami, walaupun itu orang tua kandungnya sekali pun. Apalagi Ibu yang belum bisa membuktikan ucapnya Ibu tadi, saya tak akan pernah mengijinkan Ibu untuk mengambil Sinta" Saut Bu Dian kala itu dengan nada yang tiba-tiba tinggi.
"Maaf bu, tapi saya minta dengan hormat, tolong Ibu keluar dari kamar anak saya, dan jangan pernah berupaya untuk menemui anak saya lagi. Karena saya tak rela, Ibu nanti meracuni pikiran Sinta, Sinta selama ini telah berbahagia menjadi anak kami, tolong jangan ganggu dia lagi!" Imbuh Bu Dian, dengan tatapan tajam ke arah Ibu Riko.
"Ma, jangan begitu dong. Kalaupun nanti Ibu ini terbukti sebagai Ibu kandungku, aku akan tetap menjadi putri kalian berdua, aku sangat menyayangi kalian. Tapi jujur, sesekali aku ingin bertemu dan merasakan kasih sayang orang tua kandungku. Aku akan sangat berbahagia bertemu keluarga kandungku" Ucap Sinta yang kala itu menangis dan bergegas untuk memeluk Ibu angkatnya.
"Sinta sayang, kami berdua juga sangat menyayangimu. Kami bukannya berniat menghalangimu untuk bertemu dengan keluarga kandungmu nak, tapi kami hanya takut kamu pergi dari kami, kami takut kamu tak akan pernah kembali setelah berhasil menemukan keluarga kandungmu" Ucap Pak Roni sambil ikut larut dalam pelukan Bu Dian dan Sinta.
Bersambung...
__ADS_1