Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 30 'Sikap Kasar Ibu Dinda'


__ADS_3

"Ohh jadi itu alasanmu terlihat gelisah dari tadi Riko, Ibu mulai paham sekarang" Ucap Bu Adel.


"Iya bu, tapi Pak Ridwan kemana ya kira-kira? Aku sudah mencarinya dari ujung ke ujung basement ini, tapi aku tak kunjung melihat beliau" Tanya Riko penasaran dan makin gelisah.


"Ibu juga kurang tahu beliau sedang dimana sekarang ini Riko, akan tetapi menurut Ibu, ada baiknya kita kembali ke loby Rumah Sakit saja sekarang, siapa tahu Pak Ridwan sudah berada disana" Ucap Bu Adel yang mengungkapkan pendapatnya kala itu.


Akhirnya Riko pun bersedia kembali ke loby Rumah Sakit itu dengan harapan Pak Ridwan sudah berada di sana. Benar saja, dari kejauhan terlihat Pak Ridwan berada tepat di antara teman-teman Riko di loby.


"Riko, Bu Adel, kalian dari mana saja? Kok lama sekali? " Tanya Pak Ridwan yang menyambut kedatangan mereka berdua.


Riko pun menjelaskan ia baru saja BAB di toilet. dan Bu Adel beralasan ia tadi berinisiatif menyusul Pak Ridwan, karena takut Pak Ridwan akan tersesat setelah pertama kali datang ke Rumah Sakit ini.


Tepat pada pukul 3 sore, Mereka pun akhirnya menuju kamar dimana tempat Dinda di rawat. Terlihat senyuman kala itu timbul di wajah Riko, menandakan kebahagiaan karena akan bertemu dengan gadis yang ia cintai segera.


"Tok tok tok"


Pak Ridwan mengetuk pintu kamar Dinda dengan lembut 3x.


Pintu kamar itu terbuka secara perlahan karena di bukakan oleh Ibunya Dinda. Saat itu tubuh Ibunya Dinda yang biasanya terlihat sehat dan sexy kala itu, terlihat lebih kurus dari biasanya, wajah beliua juga terlihat kurang fresh, dan timbulnya kantung hitam pada bagian bawah matanya. Hal itu seakan menandakan bahwa belakangan ini pola hidup Ibunya Dinda sungguh tak sehat lantaran terlalu menghawatirkan putrinya.


"Selamat Sore bu, kami dari pihak sekolahnya Dinda. Boleh kami masuk untuk menjengguk anak Ibu?" Sapa Pak Ridwan dengan senyum ramahnya.


"Oh selamat sore pak, boleh pak boleh, silahkan masuk" Saut Ibunya Dinda sembari menahan pintu kamar itu agar tak tertutup dan mempersilahkan mereka semua untuk masuk.


Ketika melihat ada Riko di antara mereka, ekspresi ramah Ibunya Dinda seketika berubah.

__ADS_1


"Yang lain silahkan masuk, tapi untuk Riko jangan harap! Selama saya disini, kamu tak akan saya biarkan mendekati putri saya lagi! Cukup kesialan yang telah kamu berikan ke putri saya! Dasar pembawa sial!!" Ucap Ibunya Dinda kala itu dengan nada yang tiba-tiba tinggi dan kasar terhadap Riko.


Sontak kalimat Ibunya Dinda itu mengejutkan semua orang yang ada di sana, terutama Pak Ridwan selaku Kepala Sekolah di Sekolah mereka. Semua orang yang telah di kamar Dinda pun menatap Riko yang masih tertahan di luar pintu itu dengan perasaan iba, mereka semua tak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Riko kala itu.


Merespon Ibunya Dinda yang sedang marah dan kembali menuding dirinya sembarangan untuk yang kesekian kalinya, Riko hanya tertunduk dengan ekspresi sedih yang jelas tercermin di wajahnya. Riko sama sekali tak merespon Ibunya Dinda dengan kata-kata, ia paham betul hal itu hanya akan memperkeruh situasi.


Riko melihat Dinda yang kala itu masih belum sadarkan diri sejenak, sambil air mata seketika menetes melintasi pipinya.


"Maafkan aku ya Din, aku bukannya tak mau menemanimu disana, tapi aku tak bisa menemanimu. Ibumu masih saja menuding akulah orang yang menyebabkanmu hingga seperti sekarang ini, karena itu ia melarangku untuk sekedar mendekati apalagi sampai menjagamu disana. Cepat sembuh ya gadis manisku, aku disiakan selalu menunggu dan mendoakan dirimu" Ucap Riko dalam hati sambil terus menatap tubuh gadis yang ia cintai itu.


"Tunggu apa lagi kamu? Pergi sana! Kamu sudah saya usir, kenapa masih di sini? " Bentak Ibunya Dinda lagi yang kian semakin menyiksa perasaan Riko.


"Mohon tenang bu, ini rumah sakit" Ucap Pak Ridwan yang kala itu berusaha untuk menenangkan Ibunya Dinda yang tengah marah-marah sambil meneteskan air mata. Pak Ridwan juga menatap ke arah Riko, seakan mengisyaratkan Riko lebih baik meninggalkan mereka untuk sementara waktu.


Entah kemana kaki Riko akan melangkah, yang ada di benaknya Riko kala itu, ia harus tetap berjalan walaupun tak tahu arah. Karena saat berjalan ia dapat merasa jauh lebih tenang.


2 jam berlalu, tapi Riko masih terus melangkahkan kakinya di sekitaran sana, ia berjalan dengan tatapan kosong menelusuri Internasional Hospital yang teramat sangat luas itu. Di satu sisi juga belum ada tanda-tanda dari Pak Ridwan dan yang lainnya telah selesai menjenguk Dinda.


Merasa perasaannya sudah membaik, Riko pun menghentikan langkah kakinya dan duduk di kursi antri yang terdapat tepat di depan bagian Farmasi Internasional Hospital itu.


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang? Apa yang harus lakukan? Terus terang terkadang aku merasa tak sanggup untuk menghadapi semua ini" Ucap Riko dalam hatinya sambil menatap ke atas dengan kedua telapak tangannya yang kala itu menutupi wajahnya.


"Kamu kenapa Kak Riko? "


Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis nan lembut yang rasanya tak asing di telinga Riko.

__ADS_1


"Siapa itu? " Tanya Riko penasaran dengan nada yang cukup keras.


Saat itu tak ada seorang pun di sekitar Riko, karena itulah ia penasaran dan bingung di buat oleh suara tersebut.


Tiba-tiba datang seorang gadis nan cantik berpakaian sama seperti Dinda dan berdiri tepat di depan Riko yang sedang duduk.


"Siapa kamu? " Tanya Riko yang di buat semakin kebingungan oleh gadis.


Riko seketika teringat, gadis inilah yang membantu untuk mengambilkan ponselnya di rumah sakit tempat Dinda di rawat sebelumnya.


"Kamu gadis yang membantuku mengambilkan ponsel di rumah sakit itu kan? " Tanya Riko semakin penasaran.


"Iya kak Riko, kakak ngapain sendirian disini? Aku boleh ikut duduk di sana? " Saut si gadis di lanjutkan pertanyaan olehnya.


"Hufft.. Panjang ceritanya. Boleh kok, silahkan saja" Saut Riko sembari menggeser sedikit badannya ke arah kanan.


"Ngomong-ngomong, kamu kok bisa tahu namaku?" Tanya Riko yang kala itu semakin penasaran.


"Kak Riko gak ingat sama sekali denganku? Kita sempat kenalan lo sebelumnya" Saut si gadis itu sambil menatap mata Riko.


Riko bengong sejenak, ia benar-benar bingung mendengar pengakuan dari si gadis itu, yang mengaku dirinya dan Riko sempat saling berkenalan.


"Dimana ya aku sempat kenalan dengannya? " Tanya Riko dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2