
"Maaf sebelumnya Intan, dulu aku hanya sanggup mengasuh anakmu selama 3 bulan. Calon mertuaku dulu curiga bahwa aku telah mempunyai anak di luar nikah dan berniat membatalkan rencana pernikahanku dengan putrinya. Semenjak hal itu, aku telah berusaha mencarimu dan suamimu yaitu Riki ke kediaman kalian berdua guna untuk mengembalikan putri kalian, tetapi aku mendapati kalian sudah pindah, dan tak seorang dari tetangga kalian pun tau kemana kalian pindah, akhinya aku pun kehilangan jejak" Ujar Dokter Irwan yang ikut bersedih menceritakan realita masa lalu dirinya yang terpaksa meninggalkan putri kandung Ibu Riko.
"Aku terus mencari kalian berdua di seluruh pelosok kota, tapi hasilnya tetap saja nihil. Hingga di tengah keputus asaan, aku melihat sebuah panti asuhan yang terlihat banyak penghuninya. Aku meletakan putri kandungmu tepat di depan panti asuhan itu, kemudian aku terus memperhatikannya dari kejauhan guna untuk memastikan putrimu akan di pungut oleh orang yang tepat. Saat itu aku sebenarnya tak rela, aku menyayang putrimu seperti anak kandungku sendiri, air mataku terus berjatuhan saat aku melihat ia menangis dan mendengar tangisannya dari kejauhan" Imbuh Dokter Irwan lagi.
"Apa? Kak Irwan meninggalkan putriku begitu saja? Tega sekali kamu kak!" Ucap Ibu Riko dengan nada tinggi sambil menangis tersedu-sedu. Harapannya untuk mendapat petunjuk tentang keberadaan putri kandungnya runtuh seketika.
"Maafkan aku Intan, aku tak ada pilihan lain saat itu. Tapi aku tak meninggalkannya begitu saja, setelah aku melihat dan memastikan dengan mata kepalaku sendiri, putrimu di selamatkan oleh seorang Ibu panti yang terlihat tulus dari caranya memunggut putrimu, aku baru meninggalkannya pulang. Dan setelah itu, aku di paksa keadaan harus pindah keluar kota karena urusan pekerjaan" Ujar Dokter Irwan yang melanjutkan ceritanya sambil terus merasa bersalah sepanjang ia bercerita.
"Hampir setiap bulan setelah itu, aku selalu menyempatkan waktu kepanti asuhan itu untuk sekedar memastikan bahwa putrimu baik-baik saja disana. Tak lupa aku juga rutin memberi sumbangan kepada panti asuhan itu sebagai bentuk tanggung jawabku. Hingga kurang lebih lima tahun berlalu, tepatnya bulan februari saat aku melakukan kunjungan rutin bulanan ke panti asuhan itu, Ibu panti itu mengatakan ada sepasang suami istri yang baru saja mengadosi putrimu. Saat itulah aku benar-benar kehilangan jejaknya" Imbuh Dokter Irwan lagi.
"Hatiku benar-benar hancur mendengar semua itu Kak Irwan, aku yakin almarhum Suamiku juga sedih mendengarnya jika ia masih ada di sampingku saat ini" Ujar Ibu Riko yang memegangi dada kirinya sambil tetap menangis sedih.
"Almarhum katamu? Riki telah tiada?" Tanya Dokter Irwan yang terkejut mendengar kata almarhum.
"Iya kak, Suamiku telah tiada, ia terlibat kecelakaan maut dan langsung meninggal di tempat beberapa tahun silam" Saut Ibu Riko sambil tetap meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Aku turut berduka cita ya Intan, aku tak menyangka orang sebaik Riki akan pergi secepat itu" Saut Dokter Irwan dengan tatapan penuh duka ke arah Ibu Riko.
"Bu udah dong sedihnya, aku jadi ikutan sedih nih" Ucap Sinta yang ikut ikut menangis, sembari berlari ke arah Ibu Riko, dan mulai untuk memeluknya.
Dokter Irwan yang melihat adegan Sinta berlari dan langsung memeluk Ibu Riko dengan penuh kasih sayang kala itu, tiba-tiba teralihkan fokusnya karena ia melihat tompel di leher bagian belakang Sinta yang mengingatkannya pada putri kandung almarhum Riki dan Intan yang dulu di titipkan kepadanya. Pasalnya tompel itu terlihat sama persis dengan tanda lahir bayi perempuan yang belasan tahun silam pernah ia rawat itu.
"Sinta?" Panggil Dokter Irwan yang coba mengetes apakah remaja putri yang tengah memeluk Ibu Riko di depannya itu akan menoleh atau tidak, pasalnya dulu dirinya telah memberi nama putri kandung Ibu Riko saat masih ia rawat, namanya adalah Sinta, dan ia juga telah menggelangkan nama itu di tangan mungil bayi perempuan itu sebelum ia tinggalkan di depan pintu panti asuhan dulu.
Ternyata setelah ia memanggil nama Sinta berulang kali, akhirnya remaja putri yang tengah bersedih tepat di depan matanya itu menoleh.
"Iya dok? Dokter tau nama saya dari mana?" Tanya Sinta penasaran, sembari menoleh ke arah Dokter Irwan dan melepas pelukannya sejenak terhadap Ibu Riko.
Menyaksikan dan mendengar adegan haru itu, semua mata di ruangan itu tampak menyimak dengan bengitu fokusnya. Hampir semua dari mereka di buat kebingungan oleh Dokter Irwan yang tiba-tiba seolah tahu masa lalu Sinta dengan begitu tepatnya.
"Iya dok, Sinta belasan tahun silam kami adopsi dari pati asuhan Cahaya Bunda, tapi Dokter tahu dari mana putri saya dulu sempat tinggal di panti asuhan itu?" Tanya Pak Roni yang ikut penasaran melihat Dokter Irwan yang begitu tahu masa lalu Sinta.
__ADS_1
"Panti asuhan Cahaya Bunda adalah panti asuhan tempat saya dulu meninggalkan putri kandung Intan dan almarhum Riki, dan saya juga telah mengelangkan nama Sinta di salah satu tangan munggil bayi itu, berharap nama itulah yang akan mempertemukan kembali saya atau orang tua kandungnya dengan Sinta jika waktunya telah tiba" Ujar Dokter Irwan kala itu.
"Terus darimana Dokter yakin kalau putri saya ini adalah bayi perempuan yang dulu sempat Dokter titipkan di panti asuhan itu?" Tanya Bu Dian yang ingin mengetahui kebenaran dari ucapan Dokter Irwan.
"Seperti apa yang telah saya ceritakan dan jelaskan sebelumnya, dulu saya sempat merawat bayi perempuan itu selama beberapa bulan. Oleh sebab itu, tentu saya tahu persis dimana letak tanda lahir dari putri kandungnya Intan" Ujar Dokter Irwan.
"Dimana Kak Irwan? Dimana letak tanda lahir putri kandungku?" Tanya Ibu Riko kala itu dengan mata yang berbinar sembari mengusap air matanya.
"Letak tanda lahir putri kandungmu berada tepat di bagian belakang lehernya, itu sejenis tompel" Saut Dokter Irwan yang menjelaskan letak tanda lahir putri kandung Ibu Riko.
"Dan tadi saat kamu di peluk oleh Sinta, aku tak sengaja melihat tanda lahir yang sangat aku kenal itu di bagian belakang lehernya, aku yakin ia 100% adalah putri kandungmu" Imbuhnya lagi.
Ibu Riko tanpa berpikir panjang coba memastikan tanda lahir yang tadi di jelaskan Dokter Irwan.
Air mata seketika kembali berjatuhan dari matanya Ibu Riko melihat langsung tanda lahir yang tadi di katakan di belakang leher Sinta, akan tetapi kali ini air mata yang jatuh adalah air mata kebahagiaan. Suasana pun sontak di selimuti keharuan. Ibu Riko dan Sinta kembali berpelukan sambil mengucap syukur kepada Sang Pencipta.
__ADS_1
"Ibu!! Ternyata benar petanda yang aku terima lewat mimpi itu. Aku benar-benar putri kandungmu" Ucap Sinta sambil terus menangis.
Bersambung..