Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 13 'Dinda Yang Membingungkan'


__ADS_3

Mereka pun tiba dirumah Dinda sebelum jam 7 malam. Seperti biasa Riko selalu memegang teguh omongannya, membuat Dinda semakin terpesona oleh karakter Riko sebagai lelaki sejati.


"Dinda.. Din" Riko memanggil Dinda beberapa kali, tetapi Dinda sama sekali tak merespon panggilan itu. Riko pun mematikan motornya dan mencoba memanggil Dinda lagi, akhirnya Dinda mulai merespon Riko.


"Iya Riko, kenapa? " Jawab Dinda singkat, "udah nyampe rumahmu lo, kamu gak mau turun? " Tanya Riko lagi. Dinda menjawab pertanyaan Riko itu dengan nada lesu, seolah ia tak ingin di tinggal pulang oleh Riko. Dinda yang awalnya tak mau turun dari motor Riko pun, akhirnya dengan perasaan terpaksa mau turun dari motornya Riko setelah di bujuk dengan susah payah oleh Riko.


"Kamu gak mau mampir dulu Riko?" Dinda menawarkan Riko mampir, sekedar untuk meminun teh dan berbincang-bincang di teras rumahnya. "Lain kali aja deh Din, udah malem juga. Kurang etis bertamu malam-malam gini, gak enak juga nanti di liat tetanggamu ada cowok bertamu malam-malam gini dirumahmu" Saut Riko yang menolak tawaran Dinda.


" Tapi kan Riko... " Saut Dinda lagi, kali ini sambil menahan tangan Riko. "Kamu kenapa Din? Tenang aja, besok kita juga bakal ketemu lagi kok, sabar yaa" Ujar Riko dengan nada meledek. Saat itu, Riko sama sekali tak paham apa yang sedang ada dipikiran Dinda. Merespon itu, Dinda tiba-tiba memangis.


Semakin lama tangis Dinda kian menjadi-jadi, "Din kamu kenapa? Nanti dikira aku apa-apain kamu lo, ayolah udahan dong nangisnya" Bujuk Riko di tengah kebingunganya yang melihat Dinda tiba-tiba menangis. Ia bertanya-bertanya apa yang sebenarnya terjadi dan dipikirkan Dinda? Hingga membuatnya tiba-tiba menangis seperti itu. Beberapa kali Riko berusaha menenangkan Dinda, dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi mulut Dinda seakan enggan untuk memberi tahunya. Yang Riko tangkap dari tingkah Dinda dan juga tangisannya yang secara tiba-tiba adalah, Dinda masih ingin bersama dan tak ingin berpisah dengannya saat itu.

__ADS_1


Akhirnya karena kehabisan cara untuk menenangkan Dinda, Riko pun turun dari motornya dan bersedia menemani Dinda untuk duduk di teras rumahnya. Untung saja saat itu tangisan si gadis manis tak mengeluarkan suara yang bising sehingga tak ada seorang tetangga pun yang curiga karenanya.


Setelah Riko duduk berdua dengan Dinda di teras rumahnya, Dinda masih menangis tapi akhirnya tangis itu mulai mereda. Tiba-tiba Dinda melihat ke arah Riko sambil manyun.


"Riko! Kenapa gak dari tadi aja sih kamu mau dudduk disini berbincang-bincang denganku?" Tanya Dinda dengan nada kesal. Riko pun semakin bingung dibuatnya, ia tahu betul bahwa perasaan soerang wanita memang sulit untuk dipahami, apalagi wanita yang masih remaja. Rasanya untuk memahi perasaan mereka yang sering berubah-ubah adalah suatu hal yang mustahil.


"Yaudh maaf Din aku salah, Kamu tenangin dirimu dulu gih. Nanti kalau udah mulai tenang, aku siap kok nampung semua keluh kesahmu" Ucap Riko sembari menantap mata indah Dinda yang masih mengeluarkan air mata, walaupun sedikit. Riko mengusap air mata itu dan memegang pundak Dinda guna untuk menenangkannya.


"Aku gak apa-apa kok, aku hanya takut sendirian dirumah. Kondisi mentalku masih belum pulih sepenuhnya dan aku masih sedikit merasakan trauma karena kejadiaan waktu itu" Saut Dinda yang kini mulai menjelaskan penyebanya menangis. "Yaudah, sekarang aku harus gimana Din? " Tanya Riko lagi. "Ya temenin aku lah, sampai Mamaku pulang. Kan aku udah bilang aku takut sendirian dirumah, dasar cowok gak peka! " Bentak Dinda sembari memukul lengan Riko. Riko bungkam sesaat, sambil mengkalkulasi segala kemungkinan respon Dinda saat dia berbicara.


Mendengar kalimat Riko itu, Dinda hanya terdiam dan tersipu malu. Pasalnya secara tak langsung Dinda menangkap sinyal bahwa Riko benar-benar menaruh hati terhadapnya. Kala itu, Dinda berharap Riko menyatakan perasaanya terhadap Dinda, ya walaupun ia akan bingung menjawab kalimat itu karena masih ada hal yang mengganjal baginya.

__ADS_1


Mereka berdua pun berbincang-bincang sembari menunggu Ibunya Dinda pulang ditemani se pot teh hangat buatan Dinda. Pemandangan itu lagi-lagi tak sengaja dilihat Julian dari rumahnya. Kalau saja cowok yang sedang berduaan dengan Dinda itu bukalah Riko, pasti ia sudah melabrak dan menghajarnya. Mengingat cowok itu adalah Riko yang ia tahu memiliki skill bertarung yang mengangumkan, ia pun mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka. Tapi bukan Julian namanya kalau ia tak merencanakan sesuatu untuk memenuhi keinginannya, ia akan menghalalkan segala cara untuk itu.


Julian mulai menelepon beberapa orang gengnya menceritakan pemandangan apa yang sedang ia lihat malam itu. Ia memerintahkan beberapa orang dari gengnya menyusun rencana untuk menghancurkan Riko. Baginya orang seperti Riko yang sudah sangat populer disekolahan dan mempunyai skill bertarung yang hebat tidak bisa dibiarkan begitu saja, Riko merupakan ancaman utama untuk reputasi Julian disekolah.


Selang 2 jam kemudian, Ibunya Dinda pun pulang. Mobilnya secara perlahan mendekati dan menuju garase rumah mereka. Suara pintu mobil mewah yang dinaiki Ibu Dinda pun terdengar khas sebelum Ibu Dinda mulai turun dari mobilnya.


Melihat Riko yang menemani putrinya di teras rumah, dari kejauhan senyum lega perlahan muncul dari wajah Ibunya Dinda. Ia jadi tak terlalu merasa bersalah karena hari itu pulang terlambat dan membuat putri kesayangannya menunggu lama. Sebenarnya ia tahu pasti setelah kejadian naas yang hampir menimpa Dinda beberapa waktu lalu, pasti Dinda akan takut kalau harus sendirian dirumah malam-malam begini, tapi disisi lain hari itu ia banyak urusan penting yang tak bisa di tinggalkan, mengakibatkan ia pulang terlambat dan putrinya yaitu Dinda jadi sendirian dirumah.


"Maaf ya Din, mama baru pulang. Tadi ada banyak urusan penting yang harus mama selesaikan dulu" Ujar Ibunya Dinda dengan perasaan bersalah setibanya dirumah. "Iya ma, gak apa-apa kok. Kan ada Riko yang nemenin aku dari tadi" Saut Dinda dengan senyum riang. "Wahh terimakasih banyak ya nak Riko, lagi-lagi kamu ngebantu Ibu buat ngejaga dan ngelindungin Dinda" Ucap Ibunya Dinda yang sambil spontan memeluk tubuh Riko.


"Hmm kan aku yang takut sendirian dirumah ma, malah meluk Riko" Kata Dinda sambil mengerucutkan bibirnya, kedua matanya menatap kesal dan seperti penuh perasaan iri ke arah Ibunya. "Ohh iya mana lupa Din, hehe maaf maaf" Saut Ibunya sambil tertawa tipis. Ibunya Dinda mulai menggoda sepasang remaja itu, hingga mereka berdua di buat salah tingkah. Melihat mereka yang salah tingkah, perasaan Ibunya Dinda pun puas.

__ADS_1


Setelah sempat berbincang-bincang selama beberapa menit, Riko pun akhirnya berpamitan pulang kepada Dinda dan Ibunya.


Bersambung...


__ADS_2