
"Saya tak akan membiarkan hal itu terjadi bu, saya baru ingat bahwa ternyata golongan darah saya juga O-, itulah mengapa saya terburu-buru kembali ke rumah sakit ini. Saya akan mendonorkan darah saya untuk Dinda" Ucap Riko.
Mendengar kalimat Riko itu, senyum harapan seketika mulai muncul di wajah Bu Adel. Riko pun segera menghubungi dokter disana dan membicarakan hal ini, sebelum itu Riko juga telah berpesan terhadap Bu Adel untuk tidak memberitahukan hal ini baik kepada Dinda dan Ibunya sampai kapan pun. Riko juga berpesan hal yang sama terhadap seorang dokter yang ia ajak membicarakan hal ini.
Dokter itu juga telah memperingati Riko terkait tentang resiko yang mungkin akan timbul kepada dirinya karena mendonorkan banyak darah. Akan tetapi, walaupun Riko telah mengetahui hal yang akan ia lakukan dapat mengancam kesehatan dan membahayakan dirinya, ia tetap saja tak mengindahkan peringatan dokter itu dan tetap bersikeras akan mendonorkan darahnya untuk Dinda. Baginya ini salah satu wujud pngorbanannya demi menyelamatkan nyawa gadis yang ia cintai itu.
Akhirnya Dokter yang di ajak bicara Riko tadi, menghubungi dan membicarakan soal hal ini kepada dokter yang kini sedang menangani Dinda. Hampir saja semua upaya Riko itu terlambat, pasalnya dokter yang menangani Dinda telah bersiap untuk melakukan proses transfusi darah dari stok donor darah yang di ambil dari pasien HIV tadi, dan akan segera melakukan proses transfusi darah beberapa saat lagi.
Proses transfusi darah tiba-tiba di hentikan, hal itu sontak mengejutkan Ibunya Dinda yang masih setia menemami Dinda, pasalnya Dinda masih belum siuman dan masih sangat amat memerlukan donor darah itu. "Kenapa proses transfusi darahnya di hentikan? Putriku sangat memerlukan donor darah segera! " Ucapnya dalam hati yang kini kian gelisah.
"Ibu, saya ada kabar gembira nih. Kami sudah mendapat pendonor darah yang kondisi kesehatannya jauh lebih baik di bandingkan pendonor darah yang sebelumnya" Ujar dokter yang sedang menangani Dinda. Mendengar kabar bahagia itu, Ibunya Dinda seketika tersenyum dan menatap ke atas sambil mengucapkan rasa syukur yang besar terhadap Sang Pencipta.
__ADS_1
"Siapa orang yang bersedia mendonorkan darahnya untuk putri saya dok? Saya ingin bertemu dan mengucapkan terimakasih atas kebaikan hatinya " Tanya Ibunya Dinda kini kian semakin penasaran. "Orang tersebut melarang kami untuk mengungkapkan indentitasnya bu, dan kami sudah berjanji dengannya untuk tidak akan mengungkap indentitasnya. Tapi satu hal yang bisa kami beritahu adalah si pendonor tulus menolong nyawa anak Ibu, bahkan setelah ia tahu resiko kesehatan yang mungkin akan ia terima setelah mendonorkan banyak darah" Jelas dokter itu.
Mendengar keterangan si dokter, seketika senyum lega mulai muncul di wajah Ibunya Dinda. Ia sama sekali tak menyangka ada orang sebaik itu mau dengan tulus menolong nyawa seseorang.
"Ibu tunggu sebentar disini ya, saya akan mengambil darah si pendonor sekarang. Beberapa menit lagi saya akan kembali kesini untuk melakukan proses transfusi darah untuk anak Ibu" Ucap dokter itu, sebelum keluar dari ruangan tempat Dinda di rawat.
"Riko sekarang saya akan melakukan beberapa tes kesehatan dulu ya, semoga hasil tes kesehatanmu mendungkung untuk proses pendonoran darah ini" Ucap seorang dokter yang menangani Dinda kini mulai melakukan beberapa tes terhadap Riko. "Iya dok, silahkan" Saut Riko singkat.
"Riko beberapa hari kedepan tubuhmu akan sangat lemas dan rentan terserang penyakit, karena banyak darah yang di ambil tadi. Oleh sebab itu, saya sarankan kamu lebih fokus untuk beristirahat untuk sementara waktu dan jangan melakukan aktifitas yang berlebihan. Malam ini kamu beristirahatlah di ruangn ini, besok pagi baru boleh pulang. Saya akan melakukan proses transfusi darah terhadap Dinda sekarang" Ujar Dokter yang menangani Dinda sebelum meninggalkan Riko dan segera menuju ke ruangan Dinda.
"Gimana kondisimu setelah mendonorkan darah Riko?" Tanya Bu Adel yang tiba-tiba masuk ke ruangan Riko. "Aku baik-baik saja kok bu, cuman agak lemas sedikit" Saut Riko dengan nada pelan.
__ADS_1
" Maaf, Ibu tak sengaja mendengar percakapan mu dengan dokter tadi" Imbuh Bu Adel lagi. "Iya bu gak apa-apa kok" Saut Riko singkat. "Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, Ibu harap Dinda juga demikian. Oh iya udah larut malam nih, Ibu pulang dulu ya, dan kamu gak usah bersekolah beberapa hari kedepan untuk pemulihan tubuhmu, Ibu akan urus ijinnya." Ucap Ibu Adel yang kini berpamitan kepada Riko. "Terimakasih banyak atas semuanya Bu Adel, Ibu banyak membantu saya dan Dinda hari ini" Saut Riko yang melepas kepulangan Bu Adel dengan senyuman.
Sepulangnya Bu Adel, Riko masih terus memikirkan kondisi terkini Dinda. Berulang kali, ia berusaha bangun dan bangkit dari tempat tidurnya di ruangan itu untuk melihat langsung kondisi Dinda, akan tetapi karena saking lemasnya kondisi Riko, usahanya untuk bangkit saat itu selalu menemui kegagalan. Kata menyerah sama sekali tak terlintas di benak Riko.
Karena Riko paham betul, ia tak mungkin bisa beristirahat dengan tenang guna untuk memulihkan kondisinya saat itu, jika kabar terkini tentang Dinda saja tak ia ketahui. Bahkan jika ia mencoba memejamkan mata beberapa detik saja, pemandangan wajah manis Dinda yang berlumuran darah selalu menghantuinya.
Waktu hampir menunjukan pukul 00.00 tengah malam saat itu, saat dimana ponsel Riko tiba-tiba berdering. Adalah Ibunya yang mengubungi Riko kali ini, ponsel yang diletakan Riko lumayan jauh dari tempat tidurnya tak bisa ia jangkau guna untuk menjawab panggilan itu. Ia terus berusaha untuk bangun dan meraih ponselnya, karena ia tahu itu pasti panggilan dari Ibunya yang khawatir karena sudah tengah malam begini anak semata wayangnya belum juga pulang, dan tak ada kabar sama sekali.
Ponsel Riko terus berdering, semakin lama suaranya semakin nyaring terdengar di tengah-tengah suasana rumah sakit saat tengah malam, yang teramat sangat amat hening kala itu. Selang beberapa menit, tiba-tiba Riko melihat ada seorang gadis muda nan cantik yang memasuki ruangan tempat Riko beristirahat. Saat itu, pandangan mata Riko sudah mulai buram akibat kondisi tubuhnya yang lemas, ditambah sangat amat kelelahan karena terlalu memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidurnya sedari tadi.
Wajah si gadis muda nan cantik yang tiba-tiba memasuki kamarnya itu pun terlihat samar-samar di mata Riko. Akan tetapi walaupun demikian, entah kenapa Riko merasa wajah gadis yang baru memasuki ruangannya itu tak asing. Bahkan terlintas sesaat di benaknya ia pernah di peluk si gadis ini.
__ADS_1
Bersambung...