
Melihat Bu Adel yang sampai sebegitunya memperdulikan kondisi ia dan Dinda kala itu, Riko termenung sejenak, ia tak enak hati karena merasa telah melibatkan Bu Adel terlalu jauh ke dalam masalah pribadinya ini.
"Maafkan aku bu, aku telah membuatmu sangat memikirkan dan menghawatirkan kondisiku ini. Tapi aku harus bagaimana bu? Di satu sisi aku sangat ingin mengetahui kabar tentang Dinda dan selalu memikirkan dirinya setiap saat, hal itulah yang membuatku tidak bisa fokus beristirahat guna untuk memulihkan kondisiku hingga aku memaksakan diri seperti ini. Tapi di sisi lainnya aku harusnya lebih fokus untuk pemulihan kondisiku ini" Ujar Riko yang kala itu meminta pertimbangan Bu Adel.
"Kalau menurut Ibu pribadi, untuk saat ini kamu harusnya lebih fokus dengan pemulihan tubuhmu dulu, dan ketika kondisi tubuhmu sudah jauh lebih memungkinkan kamu baru pikirkan cara untuk membantu Dinda cepat sadar atau bahkan sehat kembali. Karena jika sekarang kamu menghabiskan energy mu untuk Dinda, semuanya akan sia-sia saja, semua tak akan bisa optimal" Saut Bu Adel yang mencoba memberi pandangannya pribadi.
"Terimakasih antas sarannya bu, tapi ketika aku mendengarkan sudut pandang Ibu tadi, di kepalaku tiba-tiba muncul suatu solusi. Solusi yang menurutku solusi terbaik untuk saat ini" Ujar Riko yang terlintas solusi di benaknya.
"Solusi bagaimana Riko? " Tanya Bu Adel penasaran.
"Jadi begini bu, aku akan menuruti saran Ibu untuk tidak bersekolah dulu untuk sementara waktu, akan tetapi di setiap harinya aku akan datang sendirian menjenguk Dinda di Internasional Hospital kemarin. Dengan begitu harusnya kondisiku akan segera pulih karena dapat beristirahat dengan cukup, dan aku juga akan merasa lebih tenang karena selalu mengetahui perkembangan kabar terkini Dinda di setiap harinya" Imbuh Riko dengan senyum tipis yang kala itu timbul di wajahnya.
Bu Adel pun hanya tersenyum mendengar Riko mengungkapkan solusi yang timbul di pikirannya secara tiba-tiba. Kala itu, ia sangat salut dengan Riko yang mampu menemukan jalan tengah dari permasalahan yang tengah ia hadapi.
"Tok tok tok"
Seseorang tiba-tiba mengetok pintu ruangan Bu Adel itu.
"Silahkan masuk" Respon Bu Adel yang mendengar pintu runangannya tengah di getok.
Seseorang lelaki berusia sekitar 40 tahunan dengan tubuh tegap dan penuh wibawa memasuki ruangan itu, menghentikan percakapan Riko dengan Bu Adel seketika.
__ADS_1
Lelaki itu adalah Pak Ridwan, seorang Kepala Sekolah di sekolah itu.
"Eh Bu Adel, lagi sama siapa nih? " Tanya Pak Ridwan yang belum mengetahui dan mengenal Riko. Sebelumya beliau telah sering mendengar berita tentang Riko santer dan sering heboh di sekolah itu, namun ia tak mengetahui langsung orang seperti apa si Riko ini.
"Saya Riko Pak anak kelas 10, saut Riko menjawab pertanyaan yang sebenarnya di tujukan terhadap Bu Adel sembari berdiri, menandakan Ia teramat sangat menghormati serta menghargai Pak Ridwan selaku Kepala Sekolah di sekolah itu.
"Iya Pak, Ia Riko yang belakangan ini sering saya ceritakan ke Bapak" Ujar Bu Adel menantap Pak Ridwan sembari tersenyum ramah.
"Waah kebetulan banget" Ucap Pak Ridwan kini dengan singkat.
"Kebetulan bagaimana ya pak? " Tanya Bu Adel yang penasaran dengan maksud dan tujuan Pak Ridwan kala itu.
Riko mendengar kalimat Pak Ridwan itu pun kian ikut kebingungan di buatnya, ia bingung dengan apa yang dimaksud Pak Ridwan.
Riko menyambut uluran tangan besar milik Pak Ridwan itu dengan perasaan sedikit canggung sambil tersenyum dengan kurang lepas.
"Sebenarnya tujuan saya datang ke ruangan Bu Adel hari ini, meminta tolong Bu Adel untuk memanggilkan Riko. Ada hal penting yang saya ingin bicarakan dan saya dengar langsung dari Riko" Ujar Pak Ridwan menatap mata Bu Adel dan juga sesekali menatap Riko yang masih tengah kebingungan.
"Wahh, kebetulan banget kalau demikian pak. Apakah saya perlu keluar dari ruangan ini pak? Sehingga bapak bisa lebih fokus berbicara dengan Riko? " Tanya Bu Adel yang di ikuti dengan ia bangkit dari tempat duduknya.
"Ohh ga usah bu, Bu Adel disini aja. Siapa tau nanti ada informasi yang saya butuhkan dari Bu Adel mengenai hal yang ingin saya bicarakan ini" Ucap Pak Ridwan dengan nada tegas dan penuh wibawa kala itu.
__ADS_1
Suasana pun seketika di selimuti dengan keseriusan.
"Ringgg!! Ringgg!! Ringgg!! "
Bel tanda jam istrirahat usai pun tiba-tiba berbunyi. Menandakan Riko sebenarnya harus segera kembali ke ruang kelasnya. Akan tetapi berhubung kali ini orang yang paling di hormati di sekolah itu sedang duduk tepat di depannya dan ingin mengajaknya bericara, Riko jadi dilema. Antara harus tetap duduk disana dan melanjutkan obrolan yang nampaknya sangat penting itu, atau malah kembali ke kelasnya.
"Kamu tenang saja Riko, kamu tetap duduk disini bersama saya dan Bu Adel untuk membicarakan hal yang nantinya saya akan bahas ini. Nanti saya sendiri yang akan berbicara dengan guru yang mendapat tugas mengajar di kelasmu sekarang. Jadi semuanya aman" Ucap Pak Ridwan sambil menatap Riko dengan tatapan yang kian semakin serius.
"Baik Pak Ridwan, ada hal penting apa yang ingin bapak bicarakan dengan saya? " Tanya Riko yang semakin penasaran dengan maksud Pak Ridwan.
Bu Adel pun juga seketika ikut serius akan membicarakan pembahasan ini.
"Pertama-tama saya selaku Kepala Sekolah di sekolah ini, ingin mendengar langsung terkait tentang kronologi insiden berdarah salah satu teman sekelas kamu, yaitu Dinda. Saya minta kamu menceritakan semuanya dengan jujur, tanpa ada hal yang kamu tambah-tambahkan sedikit pun" Ucap Pak Ridwan, dengan penuh wibawa yang kala itu aura seorang pemimpin hebat keluar dari dirinya dengan sangat kuat.
"Baik Pak, Saya akan menceritakan semuanya dengan jujur" Saut Riko yang kian juga semakin serius dalam pembahasan ini.
"Maaf Riko bapak potong, bapak minta kamu ceritakan hari di mana insiden berdarah itu terjadi mulai dari kamu tiba di area parkir sekolah bersama Dinda. Karena terus terang saja, saat hari itu hanya CCTV di area parkir sekolahlah yang berfungi normal. Rekaman CCTVnya bapak lihat kamu tiba di parkir sekolah dengan membonceng Dinda beberapa saat sebelum insiden itu terjadi" Imbuh Pak Ridwan lagi.
Baik pak, saya akan menceritakan semuanya tanpa terkecuali" Saut Riko yang sedang bersiap untuk bercerita.
"Pagi itu, Saya tiba di area parkir sekolah dengan Dinda sekitar pukul 6.45 pak. Dinda menolak tangannya saya gandeng seperti hari sebelumnya kala itu, kemudian saya melihat bahasa tubuh Dinda seperti sedang ketakutan ketika masuk area sekolah. Saya rasa, hal itu di sebabkan satu hari sebelumnya saya mendapat informasi dari salah satu teman sekelas saya, bahwa Dinda mendapat ancaman dari beberapa kakak kelas perempuan saat saya sedang tak di sampingnya, hingga menyebabkan Dinda ketakutan kemudian menangis" Ucap Riko yang baru memulai cerita awal permasalahannya.
__ADS_1
Bersambug...