Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 37 'Terkuaknya Fakta Keluarga Riko'


__ADS_3

"Ya ampun Kak Riko, tak baik lo curigaan begitu terhadap orang tua sendiri. Apa yang tante katakan tadi bener kok, ia berkata jujur terhadapmu. Kami memang baru saling mengenal satu jam yang lalu, saat Kak Riko masih tertidur lelap" Ujar Sinta yang berusaha membantu Ibu Riko untuk meyakini Riko.


"Sinta jangan panggil Ibu tante dong, panggil Ibu saja, tadi kan kamu sudah janji soal itu" Ucap Ibu Riko yang menyambar kalimat Sinta itu.


"Oh iya maaf tan, eh bu" Saut Sinta singkat sambil tersipu malu.


Riko semakin terheran-heran oleh tingkah aneh Ibunya hari itu, pasalnya baru pertama kali ia melihat Ibunya yang sampai berusaha mendekatan diri terhadap orang yang baru saja di kenalnya.


"Iya deh iya maaf aku telah mencurigai Ibu, abisnya baru pertama kali sih aku melihat Ibu bisa sangat akrab apalagi sampai kompak dengan orang yang baru saja Ibu kenal. Ini pemandangan yang benar-benar aneh bagiku" Ujar Riko yang menjelaskan alasannya bisa menaruh kecurigaan terhadap Ibunya.


"Iya nih Riko, Ibu juga menyadari hal itu, rasanya baru pertama kali Ibu ingin cepat akrab dengan orang yang baru saja Ibu kenal seperti sekarang ini. Insting Ibu seolah mengatakan seperti ada sesuatu yang sangat berbeda dan spesial dalam diri Sinta" Ujar Ibu Riko.


Sinta yang mendengar pengakuan Ibu Riko itu merasa sangat tersentuh hingga ia meneteskan air mata, pasalnya ia juga merasakan hal yang sama. Sinta bingung entah kenapa ia merasa sangat nyaman dan bahagia ketika berada di tengah-tengah Riko dan Ibunya. Keberadaan orang tua kandungnya yang selalu menjadi beban di pikirannya dari dulu seketika menghilang begitu saja, ketika kala itu ada Ibu Riko di sebelahnya.


"Terimakasih banyak ya Ibu dan Riko, terimakasih telah menganggapku berharga, aku jadi terharu" Ucap Sinta sambil megusap air matanya yang berjatuhan setetes demi setetes.


"jangan menangis dong Sinta, sini Ibu peluk" Saut Ibu Riko sambil memeluk tubuh Sinta.

__ADS_1


Setelah mereka berpelukan, baik Ibu Riko atau pun Sinta termenung sejenak, mereka merasakan kenyamanan dan kehangatan yang amat luar biasa. Terutama untuk Sinta, ia sebelumnya sama sekali belum pernah merasakan kenyamanan seperti kala itu dari pelukan siapa pun, bahkan pelukan Ibu angkatnya sekali pun. Sedangkan Ibu Riko merasakan kenyamanan yang sama ketika ia memeluk hangat tubuh anaknya, yaitu Riko.


Air mata tiba-tiba berjatuhan dari mata Ibu Riko, wajahnya tersenyum, seperti menggambarkan kebahagiaan mendalam yang tengah ia rasakan dalam hatinya. Mereka kala itu berpelukan sangat lama, dan penuh penghayatan. Hingga membuat Riko yang menyaksikan langsung hal itu bengong di penuhi tanda tanya di benaknya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa sbenarnya Sinta ini? Mengapa Ibu yang baru saja mengenal dan bertemu dirinya pertama kali, di buat hingga seperti ini?" Tanya Riko dalam hati sambil bengong memperhatikan raut wajah Ibunya kala itu yang terlihat penuh kebahagiaan dan mencerminkan kasih sayang yang begitu tulus dari seorang Ibu.


Riko sama sekali tak ingin mengganggu mereka dan menghancurkan suasana bahagia kala itu, ia pun dengan sabar menunggu Ibunya dan Sinta selesai untuk berpelukan.


Beberapa menit berlalu, akan tetapi Sinta terlihat tak bergeming sama sekali ketika berada dalam pelukan Ibu Riko, Riko penasaran dengan hal itu dan mencoba berpindah tempat agar bisa melihat posisi wajah Sinta kala itu.


Setelah Riko berpindah tempat dan bisa melihat jelas posisi wajah Sinta dengan begitu jelas, ia baru mengetahui ternyata Sinta tertidur lelap dalam pelukan Ibu Riko, ia menduga Sinta merasakan sensasi pelukan seorang Ibu yang sangat hangat dan membuatnya nyaman, hingga saking nyamannya, ia sampai tertidur dengan sangat lelap.


Merespon signal dari Riko tersebut, Ibu Riko di bantu Riko segera meletakan tubuh Sinta di tempat tidurnya dengan sangat hati-hati.


"Hati-hati nak" Ucap Ibu Riko singkat yang mengingatkan Riko untuk meletakan tubuh Sinta dengan pelan dan penuh hati-hati.


Setelah tubuh Sinta telah terbaring dengan sempurna di atas tempat tidurnya, Ibu Riko menarik tangan Riko untuk menjauhi Sinta, karena ada hal penting yang mau ia bicarakan dan sampaikan terhadap Riko.

__ADS_1


"Kenapa bu?" Tanya Riko penasaran kala itu melihat ekspresi wajah dan bahasa tubuh Ibunya yang sangat serius sembari menarik salah satu tangannya dengan kuat.


"Sini Riko, ada yang mau Ibu bicarakan" Ujar Ibu Riko dengan ekspresi yang masih serius menatap ke dua mata Riko.


"Soal apa bu? Kok Ibu terlihat sangat serius begini?" Tanya Riko yang kian semakin penasaran oleh tingkah Ibunya yang belakangan sangat aneh itu.


"Jadi gini Riko, Ibu punya firasat Sinta itu adik kandungmu" Ucap Ibu Riko sigkat.


Ungkapan Ibunya itu sontak membuat Riko kanget bukan kepalang, ia benar-benar bingung dan syok mendengar kalimat Ibunya yang benar-benar mengejutkan kala itu, pasalnya setahu Riko, ia adalah anak semata wayang dari orang tuanya yang seharusnya tak mempunyai saudara kandung.


"Hah? Maksud Ibu bagaimana? Aku kan merupakan anak tunggal Ibu dan almarhum Ayah, bagaiman ceritanya aku bisa mempunyai saudara kandung?" Tanya Riko yang masih tercengang oleh pernyataan Ibunya tadi.


"Maafkan Ibu Riko, Ibu menyembunyikan fakta ini sejak dulu. Ibu bukannya bermaksud untuk benar-benar merahasiakan hal ini selemanya dari mu, akan tetapi Ibu hanya menunggu momen yang tepat untuk menceritakan semuanya" Ujar Ibu Riko yang berencana mengungkap fakta yang selama ini ia pendam sendirian.


"Dulu saat umurmu belum genap satu tahun, Ibu melahirkan anak ke dua Ibu. Ia seorang perempuan dan Ibu lahirkan dengan kondisi sehat serta normal. Tapi saat itu kondisinya amat sangat rumit Riko, para pesaing bisnis almarhum Ayahmu iri dengan keberhasilan dan kesuksesan ayah kala itu. Ayahmu tiba-tiba mendapat kiriman sebuah surat yang berisikan ancaman pembunuhan terhadap adikmu dari salah satu pesaing bisnisnya. Ia berencana untuk melenyapkan putri Ibu atau adik kandungmu yang baru saja lahir entah dengan cara apa, Ibu dan Ayahmu yang mengetahui hal itu secara terpaksa menitipkan adik kandungmu ke kakak kelas ayah saat SMP yang kebetulan mempunyai hubungan yang sangat baik terhadap Ibu dan Almarhum Ayah" Imbuh Ibu Riko lagi.


"Ibu kok jahat banget? Kenapa tidak menceritakan hal ini ke aku dari dulu? Kalau aku tahu aku mempunyai adik kandung, aku pasti berusaha mencari keberadaannya dari dulu" Saut Riko sambil mulai meneteskan air mata kekecewaannya terhadap ke dua orang tuanya kala itu.

__ADS_1


"Maafkan Ibu dan almarhum Ayahmu nak, situasinya saat itu benar-benar sulit. Itulah satu-satunya pilihan yang bisa kami ambil untuk menyelamatkan nyawa adikmu" Saut Ibu Riko yang juga ikut meneteskan air mata penyesalan dan memeluk tubuh Riko dengan erat.


Bersambung...


__ADS_2